TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CACING YANG HARUS DIBASMI 4



"Ah, jadi ini yang namanya, Hernia?" tanya Haidar polos.


Perasaan yang tadi melambung sesaat jatuh dihempaskan begitu saja ke bumi, ketika seseorang memanggilnya dengan nama, Hernia.


"Herni, Tuan. Tanpa A di belakangnya," sahut Herni sedikit kesal.


'Untung ganteng Lo. Ck, boleh dicium nggak sih nih cowok?' gumam Herni makin ngaco.


"Baju apa yang kau pakai Herni?" tanya Virgou saat melihat baju yang dikenakan oleh salah satu maidnya itu.


Mini dress panjangnya hanya sejengkal di atas lutut itu, memperlihatkan kaki Herni yang memang bersih, tapi buntek. Tubuh dengan tinggi 150cm dengan berat 47kg. Tentu cukup berisi.


"Ini baju terbaik saya. Karena saya ingin menampilkan yang terbaik untuk Tuan," jawab Herni dengan nada manja.


Sumpah demi apa pun. Virgou ingin muntah sekarang juga melihat tingkah Herni yang sedikit menjijikkan itu.


"Sayah ... harush thampil chantik," ucapnya lagi ala-ala Syahrina, salah satu arti yang menikah dengan pengusaha restoran dari Jepang itu.


Haidar nyaris menyemburkan ludahnya, ketika mendengar nada bicara Herni. Pria itu sudah mulai bosan dengan drama yang diciptakan Virgou. Ia tidak sehebat putranya Rion.


"Aku serahkan padamu. Aku bosan," ujar Haidar angkat tangan.


"Herni tanpa A. Kau saya pecat!" ujar Virgou langsung.


"Apa!" pekik Herni tak percaya.


"Kau kupecat!' ujar Virgou mengulang.


"Jika selepas ini, kau masih berkeliaran di mansionku. Jangan salahkan jika aku akan menyuruh bodyguard untuk menyeretmu keluar!' ancam Virgou.


Mata yang tajam dengan tatapan bengis. Herni gemetaran. Wajahnya pucat pasi. Habis sudah mimpi yang barusan ia bangun untuk menjadi nyonya besar di mansion ini.


"Tidak saya tidak mau dipecat. Pasti ada yang memfitnah saya. Saya ...."


"Gomesh!" teriaknya memanggil salah satu bodyguardnya.


Pria bernama Gomesh ini merupakan, pria keturunan Asia-Afrika. Kulitnya kecoklatan dengan tinggi nyaris dua meter. dengan bobot 100kg. Dia dijuluki Giant oleh semua rekannya. Soal wajah? Dia tampan sekali.



(Gomesh Diablo, ketika tersenyum).


Herni menatap pria yang tingginya menjulang itu. Gomesh hanya menatapnya tajam.


"Anda pergi sendiri dan mengemasi barang-barang Anda? Atau harus saya yang menyeret anda dan membuang semua pakaian anda ke jalan?' ucapnya sambil tersenyum manis.


Mata Gomesh berkilat. Muka Herni memucat. Takut dengan ancaman pria raksasa di depannya. Gadis itu langsung melesat ke kamarnya. Dengan berurai air mata. Ia mengemasi barang-barangnya.


"Cepat Hernia!' bentak Gomesh.


"Her ...."


"Cepat!' bentak pria itu lagi sambil terus mengawasi gadis itu berkemas.


Usai berkemas. Ia pun langsung menggendong tas besarnya. Gomesh memberinya uang gaji berikut bonusnya. Sang majikan masih berbaik hati.


Setelah mengucap terima kasih. Gadis itu melangkah keluar kamar. Tadinya ia ingin mengambil jalan lewat pintunya depan.


Sayang. Gomesh memintanya keluar dari pintu belakang. Herni menurut. Ia pergi dari mansion Virgou dengan tangisan pilu. Mimpinya jadi ratu hancur.


Gomesh tetap mengikutinya hingga pintu gerbang. Begitu ia keluar. Gerbang itu langsung ditutup rapat lalu digembok oleh Gomesh.


Di dalam mansion Virgou tampak bermain dengan ketiga anak Terra yang juga sudah menjadi anaknya. Menjelang ashar mereka berhenti.


"Kita shalat dulu, lalu kita berenang oke?!' ajak Virgou.


"Oteh!" jawab ketiga anak itu serempak.


Puspita bersama suaminya mengganti baju mereka. Usai wudhu mereka pun mendatangi mushala yang sengaja dibangun oleh Virgou. Semenjak memeluk agama Islam. Di tempat ini lah ia mendatangkan ustadz untuk mengajarinya.


Haidar yang menjadi imam. Usai shalat. Mereka kembali ke taman belakang. Virgou membuka baju dan celana pendeknya. Begitu juga Haidar. Mereka memakai bokser sedikit tebal. Walau bagaimana pun Puspita bukan mahram bagi Haidar. Jadi aurat pria itu juga harus tertutup bukan?


Anak-anak saling melompat. Dua pria dewasa itu menangkapi mereka. Terra dan Puspita menuju dapur. Inah ada di sana.


"Kak Inah," sapa Terra. Sedang Puspita hanya tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu, Nya?" tanyanya.


"Tidak perlu, Kak. Kami akan membuat kudapan. Ini sudah jadi kebiasaan," jawab Terra.


"Biar saya bantu, Nyonya," pinta Inah menawarkan diri.


Terra tersenyum. Mereka bertiga pun membuat kue pancake yang lebih praktis. Terra sengaja membuat banyak, lalu seperti biasa membaginya menjadi tiga. Satu bagian untuk para bodyguard satu bagian untuk para maid dan sisanya untuk anak-anak.


Puspita membuat minuman dari aneka buah. Koktail sederhana. Ia pun membaginya menjadi dua saja. Untuk para pengawal juga untuk anak-anak.


"Inah. Bisa minta tolong kau bawa sebagian makanan dan minuman ini untuk Gomesh dan kawan-kawan ya?"


"Baik, Nya."


Ina membawa makanan untuk para pengawal. Budiman ada di sana, langsung membantu membawa makanan yang lumayan banyak itu. Para pengawal Virgou yang belum mengetahui kebiasaan majikan dari Budiman itu, sedikit heran.


"Ini buat siapa makanan sebanyak ini?' tanya Gomesh bingung.


"Buat kita-kita," jawab Budiman enteng.


"Apa benar begitu?' Budiman mengangguk.


Gomesh terharu. Belum pernah seumur hidup ia diperhatikan seperti ini. Ia tetap menjalankan tugasnya secara profesional.


"Enak sekali klienmu jika begitu," seloroh Gomesh dan kawan-kawannya.


Budiman hanya terkekeh. Ia bangga sudah menjadi bagian keluarga dari kliennya. Tiba-tiba Rion meneriakinya.


"Om Pudi!"


"Iya Tuan Baby!' sahut Budiman.


"Polonin Ion. Ion dipejal tama Latsasa!" pekiknya.


Ternyata bayi itu dikejar oleh Virgou. Rion terpingkal-pingkal. Bersembunyi di belakang Budiman.


"Serahkan bayi itu padaku!" ujar Virgou membuat drama.


"Jangan Tuan. Dagingnya Tuan Baby pahit," sahut Budiman sambil tersenyum.


Gomesh hanya menatap kedekatan Budiman dengan keluarga kliennya. Pria besar tinggi itu sedikit ngiri.


"Daddy, wowang imi pesal sebali?' ujar Rion ketika melihat Gomesh.


"Jangan dekati dia. Dia pemangsa anak kecil!' ujar Virgou.


Rion menendang telak kaki Gomesh. Walau kekuatan Rion tak terasa oleh pria besar itu. Gomesh cukup terkejut melihat tendangan bayi seusia Rion cukup kuat dan terarah.


Virgou langsung memandang Gomesh horor. Gomesh langsung mengerti. ia pun terguling di tanah berteriak kesakitan. Lidya yang tadi mengikuti Virgou dan adiknya langsung menangis melihat ada orang yang tersakiti.


"Baby, tenapa Om nya di pendan taya dithu!' ucapnya sambil terisak.


Lidya mendekati Gomesh. Tangan kecilnya mengangkat kepala besar Gomesh. Seketika tubuhnya bergetar ketika Lidya menyentuhnya.


Gomesh menangis dipelukan Lidya. Virgou, menggendong Rion. Memberi kode pada Budiman. Pria itu langsung mengerti.


"Daddy, latsasa na nayis," bisik Rion.


Budiman menepuk bahu Gomesh yang menangis dipelukan Lidya. Pria besar itu langsung menenangkan dirinya.


"Tidat apa-apa. Ada Iya di syini," ucapnya sambil tersenyum manis.


bersambung.


ah ... ulet udah pergi.


Lidya kembali mengobati luka. Rion mendapat mangsa baru.


next?