
"Apa perlu bantuan, Nona?" tanya Gomesh dengan seringai menyeramkan di wajahnya.
Rico menatap pria raksasa itu mendongak. Pria itu sedikit menelan saliva. Lidya menginjak kaki Rico dan menyikut perutnya keras.
Bugh!
"Ugh!" Rico meringis dan melepas cekalan dan rengkuhannya.
"Kita pulang, Om!' ajak Lidya.
Gadis itu seperti hendak menangis. Ia paling tidak suka memakai kekerasan, sebisa mungkin ia menghindari kekerasan itu. Juan dan Gio mendatangi nona mereka.
Rico yang meringis kesakitan, tak terima dipermalukan oleh seorang gadis kecil yang belum genap delapan belas tahun.
"Ternyata kau menyimpan sisi gelapmu, selama ini!" teriak Rico.
Semua menatapnya. Pria itu berteriak tepat ketika musik berhenti. Gomesh sudah gatal, ia ingin sekali menarik bibir lemas pria itu. Tetapi Lidya menahannya.
"Aku hanya ingin menjadi partnermu, apa salah?" tanyanya dengan senyum licik.
"Kau tadi hendak terjatuh, makanya aku merengkuh pinggangmu. Siapa sangka, kau malah menginjak kaki dan menyikut perutku," jelasnya dengan suara sendu.
Bisik-bisik pun di mulai. Semua yang iri dan dengki langsung menghujat habis-habisan gadis bertubuh mungil ini.
"Oh, ternyata ia juga suka melakukan kekerasan juga!' tuduh seseorang.
"Katanya, dia anti kekerasan. Kok main pukul orang sih?!" tuduh lainnya lagi.
Lidya terdiam. Gomesh ingin sekali membakar gedung ini dan meratakannya dengan tanah berikut orang-orang yang menuduh nonanya yang. tidak-tidak.
"Bukankah setiap dia kuliah selalu ditemani para pengawalnya! Itu tandanya, dia tak mau disentuh siapapun!' ucap salah satu sarjana.
Entah menyindir atau apa. Tetapi, ia seperti memperkeruh suasana.
"Jika kalian sengaja membutakan mata kalian dan hanya mendengar satu pihak saja. Maka kalian adalah orang-orang picik hatinya!' sindir Lidya sinis.
"Sebenarnya, aku bisa saja memperlihatkan bagaimana pria ini menarik tanganku. Di layar besar itu dan memperdengarkan kata-katanya," jelas Lidya.
Gadis itu mengeluarkan BraveSmart memberinya. Tak ada yang tau ponsel canggih itu. Karena keberadaannya sangat dirahasiakan.
Sebuah slide tayangan, memperlihatkan dengan jelas, bagaimana dari awal Rico sudah berlaku tak pantas pada Lidya.
"Ah, namanya juga laki-laki tatapan itu mah biasa!' bela seseorang.
"Ceweknya terlalu berlebihan menangapi tatapan Rico tuh. Aku lihatnya biasa aja!" sahut seseorang lagi.
"Saya akan bawa ini ke ranah hukum, atas kasus kekerasan dan pencemaran nama baik!' teriak Rico.
"Silahkan, saya juga punya bukti jika anda ingin melecehkan saya Dokter Rico!" sentak Lidya.
Gomesh, Hendar dan Gio menatap pria bernama Rico Gunandar. Putra dari pasangan Abi Gunandar dan Selvi Ayana. Seorang pengusaha kecil.
"Lidya Hugrid Dougher Young. Jangan kau sombongkan nama Kakekmu itu. Dia boleh raja bisnis. Tapi hanya di negaranya saja!' bentak Rico makin asal.
Gomesh hanya geleng-geleng saja. Gio sudah melaporkan tindakan Rico pada Bram. Tentu saja sang kakek marah. Dengan kekuasaannya. Pria itu mengubah masa dinas Rico di sebuah pedalaman Kalimantan. Sedangkan usaha ayahnya harus diaudit karena tak mampu membayar hutang.
Lidya pulang dengan mata sembab. Keinginannya berbaur dengan semua orang malah membuatnya terseret dengan satu masalah.
"Hiks ... hiks ... hiks ... nggak ada kah yang temenan seperti Putri?' tanyanya.
Sahabatnya kini baru saja masuk perkuliahan. Gadis itu masuk akademik perawat. Ia tak mengambil kelas akselerasi karena memang kemampuan otaknya tak secerdas Lidya.
"Nona," panggil Gomesh.
Gadis itu pun menangis memeluk pria besar itu. Gomesh pun jadi ikutan sedih. Memang, keinginan nona mudanya itu sederhana. Bisa bergaul dengan siapa saja.
Siapa sangka, ketika peluang itu terbuka, malah dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, seperti Rico itu.
Ketika pulang. Terra sudah merentangkan tangannya. Gadis itu pun langsung berhambur kepelukan ibunya.
"Sayang ... sudah ... sudah Tidak apa-apa. Ini jadi pelajaran buat Iya ke depannya, ya," ujar Terra menenangkan.
Haidar, Virgou dan Herman begitu kesal.
"Andai Ayah yang ada di sana. Tentu yang namanya seperti kaldu bubuk itu. Ayah bejek seperti tahu gejrot!" celetuk pria itu.
Lidya tertawa mendengarnya, kemudian merengek.
"Namanya Rico, Ayah!'
"Nah sama kan, kek R*yco!" sahut Herman mencebikkan bibirnya.
"Sudah. Semua sudah Kakek urus. Dia tidak akan banyak bicara lagi," sahut Bram santai.
Lidya mengganti bajunya. Gadis itu pun turun kembali untuk bermain bersama adik-adiknya. Besok hari libur semua ingin bergadang.
"Babies ... ayo kita oke-oke dangdut!" ajak Virgou.
Dav dan istrinya sudah pulang dari tadi. Seruni banyak pesanan kue almond. Semenjak mengisi makanan ringan di ulang tahun perusahaan kakak iparnya, ia jadi kebanjiran pesanan.
Budiman dan Virgou memasang alat karaoke. Kedua pria itu akan bernyanyi. Anak-anak antusias ikut bergoyang ketika Virgou menyanyikan lagu dangdut berjudul "Santai" milik Haji Roma irama.
"Santai
Santai
Santai
Syaraf tegang karena berpikir sehari-hari.
Otot kejang karena bekerja sehari-hari.
Santai santai.
Yo kita santai agar syaraf tidak tegang.
Yo kita santai agar otot tidak kejang.
Yo kita santai agar syaraf tidak tegang.
Yo kita santai agar otot tidak kejang!"
"Ayo nyanyi Baby!'
Virgou menyodorkan mik ke Rasya. Balita itu mengikuti pergerakan mulut Daddynya.
"Payap pedan balna belitil sepali-pali ...
Botot pedan palna beulelja sehali-hali ...
pantai ... pantai ...
yot pita pantai talo payap pita pedan ... yot pita pantai adal potot pidat Pedan!"
Lagu berubah. Itu baru Rasya, belum Rasyid, Dewi, Dewa, Kaila. Terlebih jika Benua dan Bomesh yang menyanyikannya.
bersambung.
duh ... maap ya ... othor cuma dikit nih up nya.
kecapekan.
nanti akan di up banyakan lagi kok.
Next?