TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KESERUAN PARA BOCAH



Ditya dan Radit sangat senang bermain dengan semuanya, Samudera seusia dengannya, sedang Benua lebih muda satu tahun dari usia Radit. Sky adalah yang terkecil dari semuanya, Sedang Harun dan Azha masih terlalu bayi untuk berkumpul dengan mereka.


"Bas Pitya, Spy setalan budah Pisa panjat peja woh," akunya bangga.


"Itukan bahaya, Dek," ujar Ditya memperingati.


"Pati, Spy nait talo ada wowang pewasa Bas!' sahut Sky memberitahu.


"Tapi, hati-hati ya, Dek. Jangan membuat semuanya khawatir," peringat Ditya.


"Iya, Bas," sahut Sky mengangguk.


Rion senang dengan hadirnya Ditya, kini ada satu orang yang bisa menengahi kenakalan adik-adiknya.


"Mas Ditya, tot tamu pisa nomon taya wowang pewasa sih?" tanya Samudera.


"Mungkin, karena dulu, saya bergaul dengan orang dewasa," jawab Ditya.


"Oh, bedithu," sahut Benua sambil mengangguk.


"Mas Ion, Adit boleh main ini?" tanya Adit sambil memegang mobil-mobilan.


"Tentu Baby," jawab Ion dengan senang.


"Main pama Spy Bas Apit!" ajak Sky.


Lalu keduanya bermain, tak lama Benua, Samudera dan Ditya juga bermain. Nai bersama Arimbi, Kaila dan Maisya, bermain boneka. Sedang Kean, Cal, Sean, Al, Daud, Satrio dan Affhan juga Dimas bermain bersama.


"Kenapa kalian bermain sendiri?' tanya Rion pada Kean.


"Kita kan bukan anak kecil Kak," jawab Kean.


"Lalu kau apa?" sahut Rion dengan tatapan datar.


"Ajak adik kalian main!" titahnya tegas.


Kean cemberut.


"Aku akan menarik bibirmu dengan tang, jika melawanku, Kean!" ancam Rion.


"Iya, Kak. Maaf," cicit Keanu takut.


Tak ada yang membela mereka jika Rion sudah bersuara keras atau mengancam adik-adiknya.


"Kak Nai nggak main sama kita-kita juga!" protes Dimas.


"Kau mau main sama anak perempuan?" sindir Rion. "Main boneka?"


Dimas bergidik. Tentu, ia tak mau bermain ala orang dewasa itu. Para saudara perempuannya itu menganggap boneka-boneka mereka adalah anak.


"Main sana, jadi ayahnya boneka," sindir Rion lagi.


"Ih, nggak mau," elak Dimas takut.


"Serem, masa iya jadi papanya boneka. Ntar kalo minta makan dan jajan gimana?" sahutnya bergumam.


Rion terkekeh geli. Kadang ia juga dulu berpikiran sama dengan Lidya, kakak perempuannya. Sejak kapan ia melahirkan boneka-boneka itu.


"Mas Kean, itu namanya apa?" tanya Adit ketika melihat mainan yang berbeda di tangan Kean.


"Oh, ini namanya yoyo," jawabnya lalu memainkannya.


"Wah, dulu di kampung, Mas Ditya seling main temennya yoyo yaitu gasing," sahutnya.


"Ditya bisa main gasing?" tanya Cal tak percaya.


"Hanya sedikit, Mas," jawab Ditya merendah.


"Sebentar," ujar Cal.


Remaja berusia dua belas tahun itu mengambil tas dan merogoh dalamnya. Satu mainan tradisional ia keluarkan.


"Ini, kemarin Mas beli, dan nggak bisa mainin," ujarnya memberikan mainan itu pada Ditya.


Ditya pun mengambil benda, lalu dicarinya tanah kosong. Dengan sekali hentakan, benda itu berputar. Semua terkagum dan bertepuk tangan.


"Wah, Ditya hebat!" puji Satrio.


"Ajarin dong!" pintanya kemudian.


Ditya pun mengajarinya. Beberapa kali gagal, lalu hingga yang ke delapan kali, barulah Satrio mendapat selahnya. Kean juga mencobanya, hingga percobaan ke limanya barulah ia bisa melakukannya begitu semuanya. Mereka sangat senang bisa bermain.


"Di kampung, ada permainan apa lagi?" tanya Rion.


Kini remaja itu juga sangat senang karena bisa bermain gasing.


Mereka semua diam dan menggeleng. Lalu Ditya pun menjelaskan permainan itu.


Tak lama, Rion pun membentuk kelompok. Ditya membuat garis dibantu oleh Sean dan Al.


"Satu kotak hanya boleh terisi dua orang, jika lebih maka mereka dinyatakan hangus!" terang Ditya.


Semua mengangguk tanda mengerti. Kini giliran tim Dimas, Kean, Al dan Ditya menjadi penjaga. Ditya paling kecil di antara mereka.


Sedang, Samudera, Cal, Satrio dan Affan menjadi penyerang. Mereka harus keluar dari sarang dan memenangkan pertandingan.


Melihat keseruan mereka. Semuanya pun berdatangan ke taman belakang. Sky berteriak menyemangati kakak-kakaknya.


"Ayo, Ata' Kean, tantap Ata' Satlio!"


"Mas Ditya, Mas Al, kurung Mas Dimas dan Mas Affhan!" teriak Radit semangat.


Semua bertepuk tangan. Tim Satrio kalah karena hangus. Mereka pun bergantian berjaga. Ditya yang tau taktik sangat gesit dan mampu mengecoh lawannya. Kean, Dimas dan Al mengikuti ketua mereka. Akhirnya tim Ditya menang telak. Wajah yang kalah dicoreng bedak hingga semua muka putih. Mereka tak ada yang marah, malah tertawa.


"Papa, Daddy dan Baba ikutan!" seru Virgou.


"Ayah juga!" sahut Herman tak mau kalah.


Herman dan Virgou bersama tim Ditya, Kean, Dimas dan Al. Sedang Haidar dan Budiman berada di tim Cal, Satrio, Affhan dan Dimas. Tak lama Dav datang bersama anak dan istrinya. Ia juga ingin ikut. Akhirnya Gio turut serta, karena Leon menolak ikut.


"Aku sudah terlalu tua untuk bermain," itu alasannya.


Setelah tim terbentuk. Ditya menambah satu garis lagi, menambah jumlah kotak. Peraturannya masih sama dengan yang tadi.


Permainan pun dimulai. Taktik D


Ditya dapat terbaca dengan baik oleh para orang dewasa, tetapi karena tubuhnya kecil dan gesit. Tentu, tak imbang dengan mereka yang sudah berusia.


Budiman tak mau mengalah. Begitu juga Haidar. Mereka bisa menangkap Kean dengan mudah juta Al. Ditya lalu membisikkan sesuatu pada Virgou. Pria itu pun mengangguk. Lalu, Ditya berbisik pada Herman, pria itu juga mengangguk. Kemudian pada Dav, Ditya memberi kode.


Budiman sangat salut dengan strategi balita itu. Ditya belumlah genap lima tahun. Ia baru berusia empat tahun, tetapi memiliki strategi perang yang ia yakin sangat sulit untuk melumpuhkannya.


Benar dugaan pria beranak tiga itu. Ditya mengorbankan diri untuk memenangkan pertandingan. Herman yang menjadi juru kunci semuanya. Tim Ditya lagi-lagi menang. Haidar mengakui kegeniusan Ditya.


"Papa kalah," akunya.


"Kamu, hebat sayang," puji Budiman bangga.


Semua mengangguk, bahkan Dav seorang mantan prajurit begitu takjub dengan taktik yang dirancang anak laki-laki yang belumlah sekolah ini.


"Ayo, semuanya cuci tangan dan makan siang!" teriak Puspita.


Darren menyesal tadi tak ikut begitu juga Rion. Rion mengamati, ia kini tau bagaimana cara mengalahkan Ditya.


"Nanti sore kita main lagi ya," ajaknya.


Ditya menatap kakak perempuannya. Aini bingung. Ia memang sudah betah tinggal di rumah ini. Ia merasa nyaman.


"Tentu boleh," jawab Terra lalu menggenggam tangan Aini agar tak khawatir.


"Kalian nanti, Mama yang antar pulang," ujarnya.


Aini mengangguk. Darren ingin menyela agar dia yang mengantar Aini pulang. Terra menggeleng. Darren pun menurut. Kini semuanya pun makan dengan tenang.


"Habis makan, sholat udah itu bobo siang!" titah Khasya lembut.


"Iya, Bunda!" sahut semuanya serempak.


Waktu berlalu. Kini semuanya kembali bermain. Tim menjadi dua kubu, Tim Rion melawan Tim Ditya. Rion sudah memberitahu starteginya. Ditya pun sudah bersiap. Permainan dimulai. Semua berteriak. Tim Rion kalah satu kali. Kini ia bergantian berjaga. Lalu, tim Ditya juga kalah. Kini nilai mulai imbang. Dua sama. Ditya mulai paham strategi apa yang dimainkan oleh Rion. Kembali, ia memimpin strategi. Kali ini Dav benar-benar kagum dengan taktik yang dijabarkan oleh Ditya. Rion sempat kalah, tetapi, remaja itu tentu bukan remaja sembarangan dari usia satu tahun ia telah bermain dengan perhitungan yang matang.


"Papa, Daddy serang Papi Dav dan Ayah!" teriak remaja itu.


Strategi terbaca oleh Rion. Ia mampu menangkap Ditya. Timnya pun kalah telak. Kean dan Al menghanguskan Dav dan Herman dalam satu kotak, sedang Budiman menangkap Dimas sebagai juru kunci.


Semua bertepuk tangan. Rion menyamai tinggi Ditya. Netra jernih itu mampu menembus batas tatapan Rion. Remaja itu sangat kagum. Begitu juga semuanya. Darren yang ikut tim Rion juga sangat bangga dengan keduanya.


"Mas Rion hebat!" puji Ditya kagum.


"Kamu juga sangat hebat!" puji Rion.


Aini menatap bangga adiknya. Ia pun akan tau, bagaimana masa depan mereka jika bergabung dengan keluarga ini.


Bersambung.


Ehem ... maaf ya, Ditya. Tak ada yang bisa mengalahkan Rion Permana Putra Dougher Young.


next?