TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
AURA PENGANTIN BARU



Satu persatu, para tamu pulang. David tertawa melihat di tangannya banyak sekali hadiah berupa secarik kertas. Nominal dari kertas-kertas itu pun tak main-main. Seruni sampai terbengong melihatnya.


"Mas, itu satu kertas boleh disumbangin ke masjid nggak?" pinta gadis yang sudah berstatus istrinya.


Dav menatap lembut netra pekat di depannya. Gadis cantik berhijab. Ia tak menyangka bisa mendapat gadis sesoleha Seruni.


"Kebaikan apa yang pernah kuperbuat. Hingga mendapat istri sebaik dan secantik kamu," pujinya penuh rasa syukur.


"Ck ... ngegombal lagi, shalat yuk Mas..Udah dhuhur nih," ajaknya lalu berdiri.


"Seruni, kita-kita mau pulang ya," pamit Khasya.


"Loh, kok cepet amat. Pestanya sampai malam ini?"


"Nggak, kita udah lelah. Lagian anak-anak juga mesti tidur kan?" ujar Khasya lagi.


Walau sedih, akhirnya Seruni pun mengangguk. Semua pulang kecuali, Bart dan Leon. Seruni memeluk semua anak-anak.


"Dadah Mama Seruni. Kita pulang dulu ya," pamit Darren. "Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas Seruni dan Dav. Mereka melambaikan tangan mengiringi kendaraan yang berlalu dari parkiran lapangan.


Setelah itu keduanya masuk rumah. Seruni mengajak Bart dan Leon beristirahat di kamar.


"Seruni sudah siapkan kamar di tengah jika Grandpa dan Daddy mau istirahat," ujarnya.


"Baik, Nak. Terima kasih. Mungkin faktor usia, jadi Grandpa gampang lelah," ujar Bart


Kedua pria itu mengikuti sepasang pengantin baru. Sebuah kamar dengan ranjang king size ada di dalamnya. Seruni mengatur suhu ruangan. Bart langsung merebahkan diri. Gadis itu memberikan dua piyama untuk Bart dan Leon.


"Ganti bajunya sama piyama, Grandpa, Daddy. Biar nyaman," ujarnya lagi setelah meletakkan piyama itu.


"Terima kasih, ini lucu sekali dan ukurannya pas!" ujar Leon melihat piyama yang bergambar beruang coklat sedang Bart bermotif pinguin.


Seruni tersenyum, ia pun meninggalkan dua pria itu di kamar lalu menutup pintu kamarnya. Mereka berdua menuju kamar dan di sana sudah ada perias pengantin, mereka akan membantu Seruni berdandan.


"Eum ... kita shalat dulu ya, Mba..Lagian tamu udah pada pulang," ujar Seruni.


"Wah, kan sayang udah cantik-cantik make up nya dihapus," ujar perias.


"Nggak apa-apa, Mba. Dari pada saya nanti dilaknat Allah karena ninggalin shalat," jawab Seruni yang menohok perias.


"Duh, Mba. Ini kan yang terakhir, kita mau pulang juga soalnya!" sahut yang satunya.


"Ya, sudah nggak apa-apa, Mba berdua pulang aja. Saya bisa berdandan sendiri kok!" ujar Seruni tegas.


"Beda Mba. Ini bukan dandan biasa, tapi dandan pengantin!" ujar perias itu memaksa.


"Maaf ya, Mba. Kalo istri saat nolak ya sudah, jangan maksa. Mba udah dibayar kan?" keduanya mengangguk.


"Pulang aja nggak apa-apa. Istri saya tetap cantik tanpa make up," bela Dav.


Akhirnya, dua perias itu pun pergi. Seruni menghela napas panjang, ketika menutup pintu. Ia menatap pria yang memandanginya. Seketika pipinya langsung merona.


"Mas ...," cicitnya lirih.


"Iya sayang," sahut Dav mesra.


"Ih ... genit!' sungut Seruni.


Dav terkekeh geli. Gadis itu duduk di meja rias membelakangi suaminya. Perlahan ia membuka pentol jarum yang tersemat di hijabnya agar tak jatuh. Hatinya berdetak cepat, karena pertama kalinya ia akan membuka aurat di depan pria yang notabene menjadi suaminya.


David mendekat sambil memandang cermin di mana pantulan wajah cantik istrinya. Ketika hendak membuka hijab. Pria itu menahan pergerakan tangan Seruni.


"Berbalik lah. Biar kubuka hijab ini," pintanya.


Perlahan, Seruni membalikkan tubuhnya. Ia begitu gemetaran, ketika tangan suaminya menyentuh wajah. Ia pun memejamkan mata. Merasakan belaian sayang dari tangan Dav.


Jantung Dav juga tak kalah kencang degupnya. Pria itu benar-benar gugup, tangannya yang memegang kain penutup aurat istrinya itu gemetar. Ketika kain itu lolos.


Maka terpampang lah wajah bulat Seruni, pipinya chubby dan rambut hitam legam yang digulung terikat. Dav melepas ikatan rambut itu.


Rambut Seruni yang ikal dan panjang tampak dirapikan oleh Dav. Pria itu menunduk, wajahnya mendekat. Gadis itu sampai menahan napas.


"Ternyata benar, istriku gembul," selorohnya usil.


"Ih ... jahat!" protes Seruni sambil mencubit sayang lengan suaminya.


"Auw!" Dav kesakitan.


Seruni langsung membelai tangan sang suami yang ia cubit tadi sambil meminta maaf.


Cup!


Satu kecupan yang membuat Seruni membelalak. Ia menatap suaminya. Tak terasa satu bulir bening menetes. Dav pun panik.


"Sayang, maaf ... maaf, aku ... ah, bukan. Maksudku ....."


Cup!


Seruni menempelkan bibirnya pada bibir sang suami. Hanya menempelkan saja. Setelah itu, buru-buru ia menjauhkan wajahnya lalu berdiri. Dengan sigap Dav menangkap tubuh istrinya.


"Hei .. mau kemana kau!"


Seruni terkejut, ia nyaris terpekik jika saja, Dav tak langsung membungkam bibir istrinya dengan bibirnya tentu saja. Pria itu memagut dalam di sana. Seruni nyaris pasrah jika saja ia tak ingat jika dirinya belum shalat. Ia pun memalingkan wajah ketika, ciuman Dav makin menuntut.


"Kita belum shalat Mas," ujar Seruni mengingatkan.


"Jadi habis shalat, boleh?" goda Dav sambil menaik turunkan alisnya.


"Nanti malam saja, jika sudah semuanya beres!" jawab Seruni sambil melepaskan diri dan berlalu ke kamar mandi.


Dav pun melihat jam yang bergambar keropi di dinding. Baru pukul 12.45.. Pria itu pun menggaruk kepalanya.


"Masih sepuluh jam lagi?!" keluhnya.


Usai shalat, keduanya kembali ke pelaminan dengan baju baru. Beberapa tetangga juga datang memberi selamat dan doa yang terbaik untuk pengantin.


"Aura pengantin mah beda ya. Bersih dan glowing!" puji salah satu tetangga.


"Beruntung kita ya, ketemu Mba Seruni. Jualan kita pasti kecipratan order," sahut salah satu ibu bergamis dan berhijab hijau.


Semua mengangguk. Terutama satu bulan nanti, order dua ribu porsi makanan ringan yang sudah dipilih paketnya.


"Mba, untuk orderan bulan depan, gimana?" tanya salah satu ibu.


"Oh, itu tetap jadi kok. Seperti biasa, saya akan kirim DP satu minggu sebelum acara ya," jawab Seruni memberitahu.


"Oh ... alhamdulillah kalo gitu!" sahut ibu tadi gembira.


Seruni tersenyum. Dav menatap istrinya penuh cinta. Mereka duduk kembali, David menggenggam tangan istri lalu mengecupnya. Rona merah kembali menjalar di pipi gadis itu.


Lagu "Cinta Luar Biasa" milik Admesh menjadi pengiring mereka berdua. Tiba-tiba, Dav pun mengikuti lirik lagunya.


"Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu ..."


Waktu pun tetap berputar. Pesta sudah usai satu jam yang lalu. Kini sepasang pengantin sudah berada di peraduan mereka.


Dav menyentuh pucuk kepala istrinya dan berdoa. Seruni mengamininya. Ketika, Dav membuka hijab gadis itu. Tiba-tiba, Seruni menghentikannya. Lalu, ia pun menyingkap gamis hingga terlihat lah kaki yang dipakai alat untuk menopang kakinya agar lurus.


Dav membantu membuka sabuk yang mengikat alat itu. Pria itu sedikit mengernyit. Kaki Seruni sebenarnya tidak terlalu bengkok.


"Sudah berapa lama kau memakai ini?" tanya Dav, lalu menyingkirkan benda itu.


"Dari aku bisa berjalan," jawab gadis itu.


"Jika tak pakai itu, apa yang terjadi?"


"Aku berjalan pincang dan gampang jatuh," jawab Seruni lagi.


"Dari mana kau tahu, jika dari kau bisa jalan telah memakai alat itu?'


"Aku pernah mencobanya, Mas," jawab Seruni sambil tersenyum miris.


"Pernah lakukan therapy?" Seruni menggeleng.


"Baik lah tidak apa-apa. Jadi ... boleh kan?"


Seruni menatap suaminya. "Apa yang bo ....'


Seruni tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dav sudah menjamahnya dan membawanya terbang menikmati indahnya gelombang asmara, walau ada kesakitan di sana.


bersambung.


hahahaha ... maaf yaa nggak hot. Othornya kan masih volos , 🤭


next?