
"Mama!" panggil Darren setengah berteriak.
Wanita yang selama ini menjadi pelindungnya, hanya menoleh. Wajah cantik itu pucat dengan air mata darah yang selalu mengalir dari sudut netranya.
"Mama jangan pergi!'' teriak Darren menghiba.
Namun wanita yang dipanggil mama itu seperti terseret menjauh. Sedangkan tangannya menggapai-gapai ke udara.
"Mama jangan pergi!" teriak Darren lagi.
Kini pria kecil itu mulai menangis ketakutan. Ruangan putih berubah menjadi hitam dan sangat mencekam. Pria kecil itu beringsut memeluk kedua kaki yang menekuk.
"Tata Dallen. Tolong Iya!"
Darren menoleh adiknya yang juga terseok-seok berjalan kearahnya. Darren berusaha melepas tangan yang memeluk kakinya. Tapi, tidak bisa. Semakin ia berusaha, semakin kuat pelukan itu.
Darren melihat Rion yang tengah merangkak ke arahnya, tiba-tiba diangkat oleh seorang pria. Tadinya ia tidak melihat wajah pria itu. Darren berkali-kali meminta agar pria itu melepas adiknya yang juga histeris digendongan pria itu.
"Lepaskan Baby Rion!"
Wajah itu menoleh, lalu menyeringai. Seketika wajah Darren memucat. Ia sangat mengenali wajah itu. Wajah yang selalu ibu kandungnya cium. Wajah yang menatapnya tajam ketika bersembunyi di bawah meja.
"Mama tolong!" teriak Darren dengan suara tercekat.
"Mama!" kini suaranya makin hilang.
Darren berteriak tanpa suara, memanggil mamanya dan dua adiknya. Semakin kuat, semakin ia merasa tercekik.
"Mama!"
"Sayang ... bangun. Kau mimpi buruk!" ungkap Terra cemas.
Gadis itu terbangun ketika mendengar igauan Darren dalam tidurnya. Pria itu terus mengerang dan tangannya bergerak seakan ingin menggapai sesuatu. Terra memeluk Darren yang kini menangis tersedu.
"Huuu ... uuu ... hiks ... hiks!"
"Ssshh ... tenang, sayang. Tenang, ada Mama di sini," ujar Terra menenangkan pria kecilnya dengan mengelus punggung Darren.
"Mama ... jangan tinggalin Darren, Ma ... hiks ... hiks!" ujar Darren sambil terisak.
"Mama tidak akan meninggalkan kalian, terutama kamu, sayang," ujar Terra meyakinkan putranya itu.
"Tapi, tadi Darren mimpi. Mama, bakal ninggalin Darren sama adik-adik," ungkapnya sedikit berbohong.
Pria kecil itu tidak menceritakan mimpi buruknya secara keseluruhan. Darren masih takut untuk bercerita. Sedang Terra terus menenangkan putranya.
"Itu hanya mimpi buruk, sayang. Tidak akan terjadi. Tenanglah." ujarnya. "Sekarang, yuk tidur lagi."
Darren menggeleng. Ia melihat waktu menunjukkan pukul 03.02. dini hari. Pria kecil itu beranjak dari kasur, menuju kamar mandi. Terra tahu apa yang ingin dilakukan oleh putranya.
Biasanya, ia akan shalat sunnah berjamaah dengan putranya. Namun sekarang ia tengah datang bulan. Makanya ia tidak mengikuti Langkan Darren.
Pagi hari. Herman sudah datang berkunjung. Hari ini Terra berencana untuk menjenguk sang kakek dari pihak ibunya. Darren dan kedua adiknya hanya menatapnya. Pria kecil itu sedang libur. Hari ini adalah tahun baru Islam. Sebenarnya, di sekolah ada acara, tapi Darren memilih untuk tetap di rumah, sedari bangun pagi ia sudah merasa gelisah, terlebih kini ia melihat pria yang kemarin datang lagi.
Darren merasa jika pria itu akan memisahkan dirinya dengan ibunya. Terra mendatangi ketiga anaknya. Gadis itu melihat tatapan netra putranya yang setengah memohon, untuk tidak pergi. Terra mengelus rambut putranya.
"Mama pasti kembali. Mama janji," ujar Terra lirih sambil mencium pucuk kepala ketiga anaknya.
"Mama," Rion tiba-tiba ingin meraih tubuh gadis itu, tapi segera ditahan oleh Darren.
Terra heran. Tidak biasanya pria kecil itu bertingkah seperti barusan. Lagi-lagi, gadis itu menatap ketiga anaknya.
"Te ... ayo, kita pergi. Nanti jam besuknya habis," ajak Herman.
Terra melangkah meninggalkan ketiga anaknya. Perlahan punggungnya menghilang di balik pintu. Darren memeluk erat kedua adiknya.
Terra duduk di samping pamannya, Herman. Pria itu yang mengemudi mobil Honda Civic keluaran terbaru, warna biru dongker metalic. Secara perlahan mobil itu berjalan meninggalkan rumahnya.
Sepanjang perjalanan Terra hanya bungkam. Dalam pikirannya mulai semerawut. Berbagai adegan melintas. Semakin jauh ia pergi, semakin ia gelisah.
Butuh waktu dua jam untuk sampai ke rumah sakit. Macet mewarnai perjalanan hari ini. Mungkin karena liburan, jadi banyak penduduk yang berpergian ke luar kota untuk berlibur.
Sepanjang perjalanan menuju ruang perawatan sang kakek. Terra mengingat mimpinya semalam. Bagaimana ia melihat Darren dan kedua adiknya makin jauh dalam pandangannya. Firasatnya sangat buruk untuk bertemu dengan kakeknya saat ini.
"Mama ... jangan tinggalkan kami," sayup-sayup Terra mendengar suara itu.
Gadis itu menoleh. Hanya hilir mudik orang dalam lorong itu. Herman memanggilnya. Mereka sudah berada di pintu kamar di mana Hardi, kakeknya dirawat.
Herman perlahan membuka knop pintu. Pria itu masuk lebih dulu. Sedang Terra bimbang, antara mau masuk atau tidak.
"Mama ... Mama!" lagi-lagi sayup-sayup Terra mendengar teriakan ketiga anaknya yang memanggil.
Gadis itu memejamkan mata sejenak. Herman masih menunggunya di dalam dengan pintu kamar terbuka.
"Te ... ayo, masuk. Kakek menunggumu," ajak Herman. "Dia kakek kandungmu. Mereka ...."
"Mereka anak Ayahku, begitu juga aku!"
Terra langsung membalik badan dan berlari kencang meninggalkan Herman yang berteriak memanggilnya.
"Terra!"
Herman tidak mengejar kemenakannya. Pria itu tersenyum, antara senang dan kecewa. Senang karena Terra memilih untuk pergi dan kecewa karena ia yang belum bisa memutuskan untuk seberani kemenakannya.
Bersambung ...
hemmm
othor nyimak dulu