TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MASIH RUMPI BOCAH



Terra hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anak. Wanita itu membiarkan saja keenam balita plus satu batita berbicara sesukanya. Ia hanya akan turun tangan jika kondisi pembicaraan sudah tidak memungkinkan.


Puspita datang bersama suami dan empat anaknya. Kehamilan Puspita tujuh bulan. Masih tiga bulan lagi ia melahirkan.


"Daddy ... Daddy, masya padhi Nai eundat disium Tata Dallen," adu Nai sedih.


"Oh, sayang. Kenapa bisa begitu?" tanya Virgou heran.


Puspita sudah bersama Terra menyiapkan makanan. Mereka juga membawa Inah dan Yuyun bersama mereka. Gomesh datang membawa beberapa tas ke dalam rumah.


"Taruh kamar langsung, Kak!" ujar Terra memberi tahu.


"Baik, Nona!" sahut Gomesh langsung membawa tas pakaian itu ke kamar tamu.


Gomesh sudah biasa keluar masuk kamar. Terlebih jika ia menggendong salah satu anak-anak.


Empat pengasuh Arimbi, Satrio dan Dimas, kini hanya mengawasi saja.


"Tata Dallen batah hati, Daddy!" sahut Sean menyela.


"Patah hati?" tanya Virgou mulai tertarik.


"Biya, dali temalin, muta Tata Dallen tusut beubelti paju yan pidad biseplita!" lanjut Sean.


Nai, Daud dan Al mengangguk membenarkan.


"Hmmm ... nanti Daddy tegur dia ya," Nai pun mengangguk.


"Emanna tenapa Tata Dallen pisa batah hati?" tanya Kean bingung.


"Biya pisa saja. Talo sudah bewasa Olan hatina padhi tayu tlus batah!" ungkap Al.


"Satlio pilang Tata Dallen bunya bacal," sahut Nai.


Satrio mengangguk.


"Pati, Sean. Butan tayu sajha woh yan batah. Teumalin Bibit Yuyun batahin dayun!" adu Kean serius.


"Woh, dayun tan dali blastit?" tanya Sean memastikan perkiraannya.


Virgou sudah merekam percakapan mereka melalui siaran langsung via chat. Haidar yang tengah memeriksa beberapa berkas jadi terhenti gara-gara live chat Virgou.


Budiman yang tengah mengamati Tuan mudanya juga mulai tertarik dengan live chat yang tengah berlangsung. Bart, Leon dan Frans yang sedang siap untuk tidur jadi ikut menyaksikan percakapan anak-anak.


Virgou menterjemahkan percakapan mereka dengan bahasa Inggris. Walau terkadang ia tidak bisa mengartikan bahasa anak-anak. Ia menulis "only they and God know what it means!"


Percakapan berlanjut. Puspita dan Terra ikut duduk bersama Virgou. Gomesh jadi ikut-ikutan menyaksikan percakapan para gangster cilik itu.


”Dayun ipu yan puat bandi tan?" tanya Dimas ingin tahu.


"Iya, dayun yan selin ti batai pama Bi Buyun silam-silam!" sahut Cal.


"Mais, teumalin pedan dayun, talo piisi ail, beulat," terang Maisya memberi tahu.


"Jadhi yan batah ipu butan tayu zaja, pati blastit judha," jelas Cal.


Satrio, Nai, Sean, Al, Daud dan Arimbi mengangguk tanda mengerti. Dimas hanya garuk-garuk kepala.


"Nai eundat mawu jadhi wowang beusal ah ... hatinya talo eundat jadhi tayu jadhi blastit!" ungkap Nai.


"Al judha eundat mawu ... tasian Tata Dallen hatina batah eman pisa pisambun ladhi?"


Mereka semua menoleh pada orang tua mereka. Virgou, Terra dan Puspita sampai gelagapan melihat anak-anak menatap mereka, ingin tahu.


Jika sudah begini, maka Terra harus turun tangan memberi pengertian. Jika sudah dewasa hati tidak akan menjadi kayu ataupun plastik.


"Teulus talo butan tayu syama blastit pa'a Ma?" tanya Arimbi ingin tahu.


"Itu bukan hati yang patah, sayang. Tapi perasaan yang tidak terbalas hingga membuatnya sakit makanya disebut patah hati," jelas Terra.


Semuanya masih bingung. Akhirnya Terra mengatakan jika nanti besar mereka akan tahu sendiri apa yang terjadi pada kakak mereka.


Kini mereka kembali bermain. Virgou mengingatkan anak-anak dengan drama yang akan mereka buat nanti.


"Bagaimana apa kalian sudah mempersiapkan ceritanya?"


"Janan adha beulantemna sih!" tolak Maisya.


"Tenapa? Maisya eundat pisa beulantem?" tanya Nai sok jago.


"Eman Tata Nai pisa?" tanya Mais ulang.


"Pisa don ... pihat imi. Heaa ... heeaa!"


Satu gerakan putar yang terarah diperlihatkan Nai. Virgou terbengong. Arimbi mengikuti gerakan Nai. balita itu pun bisa melakukan gerakan itu.


"Bihat ... Sean pisa balto!'


Terra hendak berteriak melarang, tapi terhenti ketika melihat gerakan Sean yang hanya bergulingan di lantai. Virgou nyaris terbahak.


Terra mengelus-elus dadanya. Akhirnya semuanya bermain bergulingan di lantai.


"Atuh ... abalah pelati yan tat peulna pisa bipuai banita ...," Cal bernyanyi lagu Samson.


"Polon bedati atuh ... polon bawuhin atuh ...," lanjutnya sambil bibirnya mancus.


Terra gemas bukan main. Ia mendatangi anak-anak dan menciumi mereka. Virgou sudah menyiapkan alat-alat untuk bermain drama nanti. Gomesh yang tidak tahan tawa sudah pergi ke paviliun bergabung dengan yang lainnya.


Sedang di kampus Darren merasa bersalah. Ia tadi melewati Nai begitu saja. Ia lupa memberi ciuman untuk adiknya itu. Bahkan, kini ia berkali-kali bersin. Darren yakin jika dirinya dijadikan bahan pembicaraan oleh adik-adiknya.


Sedang di perusahaan, Gabe menaikan skala hubungannya dengan Widya. Pria itu kini mengajak makan siang di kantin. Bekal makanan gadis itu menjadi makan siangnya sedang pesanan dirinya untuk Widya.


"Ih, ngapain sih gadis kertas itu sekarang jadi pusat perhatian CEO kita?" sinis salah satu karyawati memandang sinis dua insan yang tengah menikmati makanan.


"Namanya juga perasaan, emang siapa yang bisa maksa. Kalo CEO kita naksir gadis kertas?" sela salah satunya pasrah.


"Ih, kok Lo nggak asik gitu sih!" tekan rekan lainnya.


Sedang Rosena tak bisa makan dengan enak. Ia merasa mulutnya penuh sariawan. Ia tak terima jika atasannya itu menyukai gadis yang levelnya di bawah dirinya.


'Apa hebatnya gadis kertas itu!' gumamnya kesal dalam hati.


Kembali ke rumah Terra. Rion dan Lidya sudah pulang dan mengganti baju mereka. Kini tengah menikmati makan siang bersama keluarga.


Darren pulang bersama Budiman beberapa menit setelah semuanya makan siang. Anak-anak di suruh tidur siang terlebih dahulu. Sore hari baru mereka melakukan aksi dramanya.


Terra menelepon Herman, pamannya. Menanyakan kondisi Khasya.


"Bagaimana, Yah. Apa sudah mulai proses operasinya?" tanya Terra.


"Belum, sayang. Bunda belum melakukan operasi, karena darahnya tiba-tiba turun," jawab Herman dengan sedikit cemas.


"Duh, Yah. Suruh Bunda jangan banyak pikiran," saran Terra khawatir.


"Iya, sayang. Ini makanya Bundamu ingin sekali menonton drama itu. Dokter bilang, Bunda terlalu antusias, hingga darahnya turun," jelas Herman.


Terra sedikit terkekeh mendengar hal itu. Ia pun mengakhiri sambungan telepon. Melihat Darren dan Budiman selesai makan siang. Wanita itu mendekati Darren.


"Sayang. Kamu tadi, nggak nyium Baby Nai loh. Tadi dia sedih banget," tegur Terra lembut.


"Iya, Mama. Tadi di kampus, Darren sangat bersalah banget," sahut pria kecil itu.


"Ya, sudah. Nanti minta maaf ya sama Baby Nai," ujar Terra lagi.


"Iya, Ma," sahut Darren.


Karena sudah ditegur oleh Ibunya. Maka Virgou diam. Ia tak mau membuat Darren tambah bersalah.


"Ya, sudah. Sekarang kamu istirahat sana. Nanti kita siap-siap bikin drama ya," titah Terra lagi.


Darren menurut. Ia beranjak ke kamarnya untuk beristirahat. Tak lama, Haidar pulang. Terra kembali menyiapkan makan siang untuk suaminya setelah meja dibersihkan oleh Yuyun.


Bersambung.


siap-siap drama


next?