TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PATAH HATI?



"Ya ... Tuhan. Jadi benar dugaan anda sebelumnya, jika wanita itu sudah bersuami?" tanya Juno terkejut.


Dav mengangguk. Juno, sebenarnya kasihan dan juga ingin menertawakan adik atasannya itu. Tetapi, ia sendiri tengah di ambang perceraian. Istrinya selingkuh dengan pria lain. Ia takut jika kena karma.


"Yang, sabar ya Tuan. Mungkin dia memang bukan jodoh anda," sahut Juno menenangkan Dav.


Dav hanya menghela napas panjang. Ia memang baru jatuh cinta pertama kali, dan di saat yang bersamaan, ia patah hati. Pria itu tadinya mencoba tak percaya jika wanita itu telah bersuami. Tetapi melihat tatapan dua orang tadi, membuatnya yakin jika mereka memang pasangan suami istri yang saling mencintai.


"Jun, kita berhenti di toko kue itu ya. Tadi, Kak Terra memesan kue almon yang banyak dan cup cake," pinta Dav.


"Oh, toko kue Seruni ya?" tanya Juno memastikan.


David membuka dompet dan melihat nota yang sudah lunas. Terra juga sudah memberitahu jika ia lah yang akan mengambil pesanan itu.


"Ya, nama toko kuenya Seruni," jawab Dav.


Mobil Pajero sport itu pun melesat membelah jalan, sedikit belok di sebuah jalan yang sedikit sepi. Rumah sederhana tampak di depan mata. Ada toko yang sengaja di bangun di depannya. Setelah Juno memarkirkan mobilnya. Dav pun turun bersamanya. Pria itu baru pertama kali datang ke toko itu.


Begitu membuka pintu toko. Aroma roti di oven juga berbagai kue tercium oleh Dav.


"Assalamualaikum, selamat sore, apa ada yang bisa kami bantu?"


Sosok mungil berbalut gamis. Dav sangat tahu apa yang dipakai oleh wanita itu. Sebuah busana muslimah syar'i yang nyaris menutupi semua tubuhnya. Wanita itu mengatupkan dua tangannya di dada.


"Wa'alaikumussalam salam!' jawab Juno dengan semangat.


"Oh, Mas Juno mau ambil pesanan ya?" tanyanya lagi ramah.


"Iya, Mba," jawab Juno dengan senyum lebar.


"Boleh lihat notanya?' tanyanya lagi.


Lagi-lagi Dav tertegun menatap gadis manis yang memandangnya dengan pandangan jeli itu.


"Tuan ...," panggil Juno. "Tuan!"


"Ah, ya, maaf, ini notanya," ujarnya lalu memberikan kertas yang di maksud.


Gadis itu pun mengambil kertas itu, sebisa mungkin tak menyentuh tangan Dav. Setelah diambil dan dibaca. Baru lah ia mulai menyiapkan semuanya.


"Maaf, bisa kah anda berdua menunggu sebentar. Kue almondnya ada yang belum begitu dingin dan baru diangkat dari oven," pinta gadis itu.


"Siap, Mba Seruni," sahut Juno.


Pria itu mengajak Dav untuk duduk di samping ruko, di saja ada taman aneka bunga, begitu indah dan nyaman. Seruni membawakan dua teh jahe dan dua desert untuk dua pelanggannya.


"Silahkan, Mas Juno, Tuan ..."


"Dav, panggil saja aku David atau Dav. Tak perlu sebutan Tuan," jawab David cepat.


Seruni mengangguk lalu tersenyum. Lalu ia pun berlalu dari tempat favorit orang-orang jika datang ke tokonya dan menikmati kudapan.


"Nyaman sekali," ujar Dav sambil menghirup udara segar.


"Tentu, Mba Seruni itu seorang pecinta tanaman. Jika Tuan ingin bercengkrama dengan kucing. Tuan bisa masuk lurus ke sana..Di dalam sana ada dua atau tiga kucing jinak. Ruangan itu pun di design sedemikian rupa untuk kenyamanan hewan-hewan lucu itu juga para pelanggan.


"Kau begitu mengenalnya?" tanya Dav penuh selidik pada Juno.


"Hehehe ... sebenarnya, dia itu most wanted para pengawal di rumah Nona Terra. Kami, akan berebutan jika disuruh untuk mengambil kue di tempat ini," jelas Juno sambil terkekeh.


"Lalu kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang maju untuk mendapatkannya?" tanya Dav lagi penasaran.


"Huuwaaa ... kami bukan kriteria Mba Seruni, Tuan. Lihatlah penampilannya?" sergah Juno sedikit meninggi suaranya.


"Santai Bray ... jangan ngegas gitu!" sahut Dav sedikit meledek.


Juno hanya mencebik kesal. Dav terkiki geli melihat pria tampan dengan keahlian bela diri mumpuni itu bisa bertampang menggemaskan seperti ini.


"Kau ketularan virus Rasya dan Rasyid ya?" tuduh Dav mengejek. "Muka pake dicemberutin segala."


Juno dan David menyeruput teh mereka. Rada hangat langsung menyebar ke tubuh bahkan rongga dada Dav yang tadi sesak, menjadi lega.


"Alhamdulillah," gumamnya.


Ternyata, butuh waktu setengah jam mereka menunggu kue siap semua.


"Mas Juno dan Mas Dav. Maaf ya, nunggunya lama. Kue baru matang jadi harus didinginkan secara alami dulu. Jika langsung dikemas. Akan merusak kualitas kuenya," jelas gadis itu meminta pengertian.


"Oh tidak apa-apa, Mba. Saya juga senang kok nunggu lama, di kasih minuman dan makanan enak. Gratis lagi!" sahut Juno dengan senyum lebar. Dav menyenggol lengan Juno.


"Eh, maksud saya, kami, Mbak," ralat Juno. Ia lupa jika datang berdua dengan adik atasannya itu.


Seruni tersenyum ramah. Ia meletakan delapan dus besar dan dua paper bag juga ukuran besar dan satu paper bag kecil.


"Boleh diperiksa dulu," ujar Seruni membuka dus-dus itu satu persatu.


Juno dan David memeriksa. Mereka juga menghitung semua isinya. Setelah jumlahnya tepat. Barulah. David mengangguk puas.


"Pas!'


Juno keluar toko dan membuka bagasi. Seruni membantu David mengangkat dus berisi kue-kue itu.


"Sini, Mba. Biar saya saja!" seru Juno ketika Seruni ingin mengangkat lagi beberapa dus.


Akhirnya semua dus sudah dalam mobil. Seruni menyerahkan dua paper bag berisi sisa cup cake dan kue almondnya. Lalu menyerahkan satu paper bag kecil.


"Ini cendramata dari toko saya, karena telah memesan kue," ujarnya.


David menerima paper bag itu. Lalu mengucap terima kasih. Kemudian keduanya pun pergi dari halaman rumah sederhana tersebut.


Melihat mood tuan mudanya sudah kembali ceria. Juno tersenyum penuh arti. Pria itu berkali-kali melirik pada David yang dari tadi senyum-senyum sendiri.


"Istighfar Tuan. Jangan seperti orang gila," celetuk Juno.


"Hais ... kau ini. Seperti tak suka melihat aku senang saja!" runtuk Dav kesal.


Juno tertawa lirih. Ia pun mulai menggoda adik atasannya itu.


"Jadi, nggak jadi patah hati nih?" tanyanya sambil terkikik geli.


"Patah hati apanya!" sahut Dav sengit tak terima.


"Ah, tadi barusan ada yang sampai galau karena ternyata sang pujaan sudah milik orang lain?" sahut Juno meledek.


"Ah, masa sih. Aku tadi kek gitu?" tanya Dav tak percaya.


"Astaga. Dia nggak ngaku lagi," sahut Juno sesekali melihat laju jalan dan fokus.


"Tuan. Anda tadi tuh kek pria patah hati, trus gak bisa muv on gitu," sahut Juno kesal.


"Hah ... gue nggak bisa muv on?" tanya Dav tak percaya.


"Lah, tadi barusan apa.yaaa .. yang bilang ...."


Juno menghentikan ucapannya. Ia tengah membelokkan mobilnya lalu baru ia melanjutkan ucapannya.


"Aku kenapa-kenapa, Jun!"


"Oh, itu tidak mungkin terjadi seorang Dougher Young patah hati?" sahut Dav mengelak.


Juno memutar mata malas. Dav masih bersikukuh jika dia tak pernah patah hati.


bersambung.


aih ... up to yu lah Dav.


next?