TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RAKA 3



Raka masih belum menyadari kehadiran orang-orang yang selalu bersamanya. Yang melimpahinya kasih sayang. Ia tak melihat siapa pun kecuali Herman.


Herman yang merasa tidak enak. Mencoba mengalihkan Raka dari dirinya. Ia mencoba berbicara pada anak lelaki spesial itu.


"Raka. Coba lihat, Nak. Siapa yang datang?" ujarnya menunjuk Bram.


Bram yang sedang menyuap makanan, menghentikan tindakannya. Raka menatapnya dengan pandangan kosong.


Tak mendapat respon, pria itu kembali mengalihkan pandangannya pada sang ibu. Karina memanggilnya.


"Raka, ini Mommy."


Raka tak juga merespon. Bahkan ketika Haidar memanggil nama kesayangan pria kecil itu, Raka hanya menoleh, tapi ia kembali diam.


"Raka, Mama Teyya di sini," panggil Terra.


Raka bereaksi. Pria itu langsung memandang Terra. Ia nampak melihat sekeliling. Lalu ia murung kembali.


"Kenapa, Sayang?" tanya Herman bingung.


"Nggak ada Iya," jawab Raka sedih.


Herman melihat ke arah semuanya.


"Maksud Raka Iya itu Lidya?" Terra mengangguk.


"Ayah. Raka ngantuk," ucapnya.


"Nggak mau tidur digendong Papa Idal?" tanya Herman.


"Papa Idal sibuk," jawab Raka sebal.


"Kalau sama Kakek Bram?" tanya Herman..


"Kakek juga sibuk. Semua sibuk kalau Raka mau main ... bilangnya sibuk nanti dulu!" protesnya.


Herman menatap wajah semuanya kecuali Terra. Matanya berkilat, marah. Semuanya tertunduk.


"Sama Mama Teya aja yaa?" ucap Herman lagi.


Raka nampak berpikir. Lalu ia pun mengangguk. Herman mengalihkan pandangan Raka pada Terra. Pria kecil itu tersenyum.


Terra menjulurkan tangannya. Raka melewati begitu saja ibunya. Karina menangis. Bahkan ketika ia menyentuh tangannya, Raka menepisnya kasar.


Raka sudah terlelap dalam dekapan Terra. Semua masih hening. Makanan sudah habis.


"Bicara Zhain!" titah Herman.


Ketika Zhain ingin bicara, Bram ingin menyela, tapi langsung dipotong oleh Herman.


"Jangan ada yang menyela!" Bram diam menutup mulutnya.


"Saya ingin membawa Raka ke luar negeri, Om. Saya ingin membawanya berobat," ucap Zhain dengan linangan air mata penyesalan.


"Kau ...."


"Diam!" desis Herman pada Haidar.


Sedang Budiman yang ada di sana merasa risih. Ini adalah masalah internal keluarga, ia orang luar yang tak berhak ada di sana.


"Jika kau merasa kami adalah bagian keluarga. Maka diamlah di tempat mu, Budiman!" titah Herman lagi seakan bisa membaca pikiran pria yang duduk di antara Bram dan Zhain.


Budiman pun akhirnya diam. Ia duduk tegak. Merespon semua yang terjadi. Jika nanti ia diminta pendapat. Ia akan senang hati meluapkan apa yang ia pikirkan.


"Kenapa baru sekarang, setelah sebelas tahun?' tanya Herman.


Zhain bungkam. Ia tertunduk. Sikap otoriter sang ayah dan ancaman dicoret dari kedudukannya sebagai CEO. Menjadi momok utama pria itu mengabaikan putranya sendiri.


"Papa melarang ku. Tapi, aku selalu kirim uang ...."


"Bohong!' seru Bram dan Karina bersamaan.


"Aku kirim ke rekening Mama Kanya dan aku bisa buktikan transferanku!" sentak Zhain bersikukuh.


"Aku kirim secara sembunyi-sembunyi, dengan rekening baruku. Papaku tidak tahu hal itu," jelasnya lagi.


Bram bungkam. Karina menatap ayahnya bingung. Selama ini, sang ayah tak mengatakan apa pun, termasuk ibunya.


"Ini jika tak percaya!"


Zhain memperlihatkan bukti transfer setiap bulan selama sebelas tahun. Karina menerima ponsel pria itu. Ia mengenali nomor rekening ibunya. Ia sangat hapal jika itu memang rekening sang ibu. Haidar yang memang tak tahu apa-apa, juga mulai menatap ayahnya yang mulai gusar dengan wajah memerah.


"Kenapa, Mas nggak kirim ke nomor rekening aku?" tanya Karina.


"Aku lupa nomor rekeningmu. Yang tersimpan di memory ponsel ya noreknya Mama," jawab Zhain lagi.


Bram hanya mendengkus. Herman hanya menghela napas panjang. Ia menggeleng.


"Akibat kebencian, kalian mengorbankan seorang anak dan cucu," ucap Herman lagi.


"Aku tak butuh uangnya!" sela Bram kaku.


"Tapi, Karina mesti tau jika suami, maaf mantan suaminya bertanggung jawab!" sela Herman lagi.


"Sebaiknya, kita ke pulang. Walau tempat ini sudah ku-booking selama tiga jam ke depan. Tapi, nggak enak sama yang lain," ucap Herman lagi.


"Kita ke rumah Terra!' lanjutnya.


Mereka pun berdiri. Haidar mencoba mengambil tubuh Raka dari dekapan Terra. Sayang, pria kecil itu memeluk tubuh perempuan yang membuatnya nyaman itu erat.


Terra menggendong Raka. Walau tubuhnya berat bukan main. Perempuan itu berusaha menggendongnya hingga halaman parkir.


Memasuki mobil masing-masing. Zhain meminta Karina ikut bersamanya.Tapi langsung dilarang oleh Bram. Pria itu menurut. Herman hanya menggeleng melihat pria tua itu. Mereka pun meluncur kekediaman Terra.


Butuh waktu satu jam, untuk sampai ke rumah asri itu. Zhain memandang takjub pemandangan sekitar. Ia bisa menghirup udara rakus di tempat ini. Karina hanya memutar mata malas melihat kelakuan pria itu.


Darren baru saja pulang sekolah. Ia langsung mencium punggung seluruh orang dewasa tersebut dengan takzim.


Ketika masuk. Terra yang masih menggendong Raka mendapati putrinya bersimbah air mata. Darren sangat terkejut. Bahkan Rion ikut menangis.


"Mama. Tata Lata tenapa?" tanya Lidya sambil terisak.


Raka yang mendengar suara yang dari tadi ia cari, langsung terbangun. Pria kecil itu turun dari gendongan Terra.


"Iya ... huuu ... uuu!'


"Tata Lata ...."


Lidya langsung memeluk Raka. Terdengar tangisan pilu dari Raka. Pria kecil itu menangis sejadi-jadinya. Seakan menumpahkan semua kegundahan hati juga sakit yang ia rasakan.


"Eunda apa-apa ada Iya di syini," ucap Lidya lirih sambil terus mengusap punggung Raka.


Semua yang melihat terdiam. Bahkan Zhain yang baru saja masuk terpana melihat semuanya. Ia sedikit ternganga.


Semua mengusap air yang menggenang di pelupuk mata. Raka melepas pelukannya setelah tangisannya reda. Setelah itu baru lah ia melihat semuanya.


"Mommy, Papa, Kakek?" panggilnya.


"Semua ada di sini?" tanyanya dengan binaran mata berisi. Tidak seperti yang tadi. Kosong.


Terra mendekati ke empat anak itu. Darren sibuk mengusap air mata Lidya, Rion juga dirinya sendiri.


"Iya, kenapa nangis sayang?' tanya Terra.


"Padi Ata' Iya nayis ... mandil-mandil, Mama, Papa, Ata Lata!' adu Rion.


"Betul begitu sayang?' Lidya mengangguk.


Semuanya disuruh duduk oleh Haidar. Semua duduk. Hanya Budiman yang duduk di teras. Ia mengasingkan diri lagi.


"Iya, tadi meulasa ada balaya ...."


"Bahaya," ralat Darren. Kini ia tak lagi menangis setelah adiknya tidak menangis.


"He'eh ... masyut Iya itu. Jadi Iya syedih," ucapnya sambil masih sesekali sesengukan.


"Oh ... sayang. Maafin Mama, ya tidak ada di samping kamu," ucap Terra sedih.


"Eunda apa-apa, Ma ... untun ada Baby," ujar Lidya lagi.


"Mmm, Kakek Herman boleh minta peluk, nggak?' pinta Herman.


Lidya langsung memeluk Herman. Kini pria itu tahu kenapa Raka begitu sangat membutuhkan Lidya. Pria itu juga nyaris menangis. Karena merasakan betapa semua luka yang ia rasakan sembuh akibat pelukan Lidya.


"Terima kasih, sayang. Alhamdulillah ya Allah. Kau limpahkan kasih-Mu melalui tangan anak ini," ucapnya bersyukur.


Terra setuju perkataan pamannya. Herman mencium pucuk kepala gadis kecil itu. Ia pun menyuruh Darren membawa adik-adik juga kakaknya ke kamar.


Darren menuruti perintah Herman. Setelah anak-anak itu masuk kamar Darren. Herman kembali menghadap Bram.


Pria itu tertunduk. Karina juga membutuhkan penjelasan, dari ayahnya perihal uang kiriman Zhain selama sebelas tahun, yang tidak diakui oleh pria itu.


bersambung.


keegoisan orang tua menghancurkan anak-anaknya.


next?