
Akhirnya semua ke mansion Herman. Terra sudah memberi tahukan Virgou dan Budiman untuk datang ke sana. Lagi-lagi dua pria itu makin bersalah.
"Kita akan kena marah lagi," gumam Virgou.
"Daddy yang dimarahi, Mommy sudah mengingatkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum permainan drama anak-anak," sahut Puspita kesal.
Wanita itu sudah berulang kali mengingatkan suaminya. Jangan menghubungi keluarga ketika sedang berkumpul saja, Puspita masih sering bertanya kabar pada kakek mertuanya melalui sambungan telepon.
Kini, semua sudah berkumpul di mansion Herman. Muka masam langsung ditunjukan pria itu pada Terra. Kemenakannya yang mestinya mengingatnya.
"Ayah," rajuk Terra langsung bergayut manja pada Herman dengan wajah menyesal.
Herman hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak bisa marah lama dengan anak dari mendiang kakak perempuannya ini. Pria itu akhirnya memeluk kemenakannya itu.
"Sudah, sana duduk," titah Herman menyuruh Terra untuk langsung ke dalam ruangan di mana si bayi kembar berada.
Herman menyalami, Bart, Bram dan Kanya. Virgou datang bersama istri dan anaknya. Herman memeluk Puspita dan mencium keempat anak Virgou. Tak lama Budiman juga datang bersama Gisel dan putra mereka, Samudera.
Semuanya kini menggendong bayi kembar yang masih merah itu. Semua anak begitu senang dengan kehadiran anggota baru. Rion juga sudah mulai mengajak kedua bayi itu mengobrol.
Semua anak berkumpul mengelilingi bayi kembar. Mereka saling berceloteh lucu. Suara Nai dan Maisya yang paling nyaring.
"Jadi, Bunda sudah disteril?" tanya Puspita pada Khasya.
"Iya, Dokter sudah melarang, Bunda untuk hamil lagi. Terkait usia bunda yang sudah empat puluh tiga tahun ini," jelas Khasya sedih.
"Tidak apa-apa, yang penting Bunda sehat. Toh, anak sudah banyak," sahut Budiman menenangkan.
Terra mengangguk setuju, Haidar juga sama. Virgou sedikit lega karena istrinya baru menginjak usia tiga puluh. Ia masih bisa memiliki bayi lagi. Tetapi, Virgou takut, jika istrinya melahirkan banyak anak.
"Yang penting semuanya sehat. Lihat lah mereka. Seperti mendapat mainan baru," jelas Herman melihat semua anak-anak yang mengelilingi bayinya.
"Dan Rion memaksa berbicara pada dua adiknya yang baru lahir itu," sela Gisel terkekeh.
Semuanya mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Makan malam terhidang. Semuanya makan dengan tenang dan lahap.
Anak-anak sudah kenyang. Mereka bermain bersama. Khasya sudah berada dalam kamarnya menyusui dua anak kembarnya.
"Oh ya, siapa nama dua anakmu, Man?" tanya Bart.
"Yang laki-laki namanya Dewa Ruci Triatmojo sedang yang perempuan bernama Athena Dewi Triatmojo," jawab Herman dengan nada bangga.
"Oh, nama-nama yang indah, semoga kelak mereka menjadi apa yang kau harapkan," puji dan doa Bart lontarkan untuk kedua bayi itu.
"Terima kasih, Bart. Ah, apa aku harus memanggilmu Daddy?" tanya Herman lagi.
"Ah, aku juga menanyakan hal sama kemarin," sahut Bram.
"Panggil aku senyaman kalian, aku tak masalah," jelas Bart tak mempersoalkan panggilan Bram dan Herman padanya.
"Ah, jadi ini ayah dan ibumu Bud?" tanya Herman yang menatap sepasang orang tua yang hanya diam menyimak.
"Iya, Yah. Ini Bapak dan Ibu," ujar Budiman memperkenalkan ayah dan ibunya.
Keduanya bersalaman, dan menyebut nama masing-masing. Herman, Virgou, Haidar dan Bart mengajak orang tua Budiman mengobrol.
Fery dan Mia hanya menjawab dan menanggapi seadaanya. Kanya, Puspita, Terra, Gisel pun tengah bercengkrama. Kanya mengelus perut Puspita dan Terra.
"Jadi ini satu dan ini dua?" kedua wanita hamil itu mengangguk. Keduanya bergayut manja di bahu Kanya. Gisel bermain dengan putranya.
Khasya keluar setelah menyusui. Anak-anak disuruh masuk kamar dan tidur. Semuanya pun menurut. Di satu kamar paling luas dan paling besar mereka tidur. Kecuali Samudera yang kini merengek karena haus.
"Susui dulu putramu," titah Khasya menunjuk kamarnya.
Gisel menurut dan masuk kamar untuk menyusui putranya. Bram mengajak Kanya pulang. Ia sudah cukup lelah. Kanya mengangguk lalu pamit pada Khasya dan Herman.
"Papa dan Mama pulang dulu ya," pamit Bram pada Haidar dan Terra.
Setelah kepergian orang tua Haidar. Gisel selesai menyusui dan kini putranya sudah tertidur. Budiman mengajak istrinya pulang. Gisel mengangguk. Akhirnya mereka pun pulang.
Virgou dan Puspita memilih menginap. Anak-anak mereka sudah tidur lebih dulu. Terra dan Haidar pun ke kamar mereka. Herman juga sudah kembali setelah mengantar tamunya ke halaman mansionnya,
"Mana kamarku?" tanya Bart.
"Di sebelah sini, Dad," tunjuk Herman lalu membuka kamar yang telah diatur suhu pendingin ruangannya.
"Baiklah,. terima kasih," ujar Bart memasuki kamarnya.
"Iya, semuanya sudah masuk kamar. Ayah sudah kunci pintu dan jendela?" Herman mengangguk.
Pria itu merengkuh bahu istrinya dan membimbingnya ke kamar. Di kamar sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi namun baru dikaruniai anak banyak ini saling berpelukan.
Herman menaut bibir istrinya. Khasya membalas tautan sang suami dengan kelembutan. Keduanya mengakhiri ciuman mereka setelah kehabisan pasokan udara.
"Aku mencintaimu," ungkap Herman setengah berbisik.
"Aku lebih mencintaimu," balas Khasya.
Keduanya pun kini memejamkan mata. Lampu sengaja dinyalakan agar ketika bayi.mereka terbangun Khasya langsung bisa bangun untuk menenangkan putra dan putri mereka yang baru berusia empat hari itu.
Sedang di kamar di mana anak-anak tidur. Kini malah semuanya mengobrol.
"Setelan Pimas syudah jadi Abang, ya," celetuk Cal memulai pembicaraan.
"Iya, Bimas tudah zadhi Pabang," sahut Dimas bangga.
"Satlio judha zudah padhi Abang," timpal Satrio.
"Alimbi dipandhil Emba," jelas Arimbi.
"Beulalti, Tata Iya syama Nai euntal dipandhil Emba don?" tanya Nai ingin tahu.
"Iya, itu artinya sama Baby," jelas Lidya.
"Beulalti yan towo dipandhil Abang, telus yan tewet dipandhil Emba?' tanya Kean memastikan.
"Iya, Baby," jawab Lidya.
"Sean tot sutana dipandhil Ata' ya dali pada Abang," ungkap Sean tidak menyukai panggilan itu.
"Itu sama saja artinya Baby," sahut Darren.
"Meuleta lusu-lusu ya?' sahut Al mengingat wajah dua adiknya.
"Iya, Baby Pewi syantit," puji Maisya.
"Baby Pewa judha danten!" ujar Affhan ikutan memuji.
"Hei ... ayo tidur. Ini sudah malam!" peringat Darren.
"Iya Tata Dallen!' sahut mereka semua.
Darren memindahkan lampu kamar menjadi lampu tidur yang temaram. Ini bermaksud agar semua adik-adiknya tidur.
Kamar mulai hening. Tiba-tiba Dimas berbisik.
"Tata Ion, Tata Ion!' panggilnya.
"Hmmm," sahut Rion.
"Pimas mompol," adu Dimas..
"Pake popok sekali pakai itu kan?" tanya Rion sambil memejamkan matanya.
"Oh Biya ... bupa," ujar Dimas lalu menutup matanya.
Nai, Maisya dan Arimbi tidur satu box besar milik Arimbi. Sedang para balita laki-laki tidur di satu tempat tidur besar Lidya juga ikut tidur di sana.
Sedang di dua kamar berbeda. Dua pasang suami istri tengah menikmati ombak gairah. dua pasang suami istri itu saling memapaki cinta mereka. Saling mengejar kenikmatan. Hingga pada satu titik dua pasangan itu melenguh panjang dan ambruk di sisi pasang masing-masing.
"I love you," ungkap para pria.
"I love you more," balas para wanita.
Mereka pun saling berpelukan hingga kembali menapaki tebing gairah untuk kedua hingga keempat kalinya. Keempat manusia dewasa itu akhirnya tumbang dengan peluh di sekujur tubuh mereka.
bersambung.
euum ... meleta napain yaaa? Othol masih volos ðŸ¤
next?