
Lidya terbangun. Gadis kecil itu mulai celingukan. Biasanya jika ia terbangun dari tidur, ibunya langsung memeluknya. Kini, sosok yang ia cari tidak ada.
"Mama ... hiks ... hiks ... Ma!" Lidya mulai menangis.
Tangisan Lidya membangunkan Rion dan Darren. Mereka juga sama, mencari ibu mereka. Akhirnya Darren memeluk kedua adiknya yang menangis.
"Tidak apa-apa ... hiks ... tidak apa-apa ... hiks!"
Romlah dan Ani yang tidur bersama ketiga anak itu terbangun. Mendapati ketiganya tengah berpelukan, mereka langsung menyalakan lampu.
"Non, Den!" panggil mereka.
Lidya mulai menangis kencang. Diikuti Rion. Sedang Darren berusaha menenangkan kedua adiknya.
"Mama ... huuuwwwaaa!" teriak Rion dan Lidya.
"Cup ... cup ... nggak apa-apa, Mama hanya pindah kamar saja ... hiks ... hiks!" ucap Darren menenangkan kedua adiknya.
"Mama ... huuuwwwaaa!"
Romlah dan Ani kebingungan. Mereka tidak tahu bagaimana cara menenangkan kedua balita yang mulai mencari ibunya.
Romlah mencoba menelepon majikannya. Ada nada sambung. Namun tidak diangkat. Perempuan berusia nyaris empat puluh tahun itu mencoba menghubungi Terra kembali.
Sedang di kamar lain. Nampak dua sosok sedang berpelukan tanpa busana. Mereka tengah mengatur napas yang memburu. Peluh masih membanjiri tubuh keduanya. Berkali-kali si pria mencium bibir istrinya.
"Sayang," panggilnya dengan suara serak.
Pria itu sudah berhasil menembus pagar suci sang istri. Rona merah yang menyemburat di wajahnya membuat Haidar makin ingin menenggelamkan istrinya dalam kukuhannya kembali.
Tiba-tiba ponsel Terra berdering cukup keras. Gadis itu ternyata sengaja menyalakan bunyi. Gadis itu segera meraih ponsel dari atas nakas.
"Assalamualaikum, Bi, ada apa?' tanya Terra langsung.
Terdengar teriakan dua anaknya yang memanggil dirinya. Terra nyaris bangkit dari sana dalam keadaan tanpa busana, jika saja Haidar tidak menghentikannya, dan rasa perih di **** *************.
"Sayang, kau mau kemana?" tanya Haidar.
"Anak-anak menangis, Mas!" pekik Terra panik.
"Astaga ... baiklah, ayo kita ke sana," ajak Haidar.
Pria itu memakai lagi baju yang berserakan di lantai begitu juga Terra. Mereka keluar kamar. Terra sedikit menyeret kakinya sambil menahan sakit di area intinya.
"Sakit ... uh ...," keluhnya ketika melangkahkan kakinya.
Setelah berada di depan pintu kamar sang anak. Haidar langsung mengetuk pintu. Romlah bergegas membuka pintu.
Terra langsung masuk kamar. Rion dan Lidya langsung berdiri sambil merentangkan tangan dan menangis.
"Mama ... huuu ...!"
Terra langsung menghambur kepelukan anak-anaknya. Mereka menangis memeluk ibunya.
"Sayang ... Mama ada di kamar lain," jelas Terra.
"Tuh kan ... bener kata kakak, Mama ada di kamar lain," saut Darren masih sesengukan.
"Ah ... sayang maafin Mama sama Papa ya," ucap Haidar menyesal.
"Penata Mama Papa emba mau pibul ama Ion? Hiks ... hiks!" tanya Rion masih menangis.
"Papa ama Mama sedang bikin adik buat Baby," jawab Haidar.
"Mas!" tegur Terra.
"Adit?" tanya Lidya dengan hidung memerah.
"Iya, mau bikin baby lain setelah Rion," jawab Haidar.
Mendengar kata baby lain membuat Rion sedih dan menangis.
"Huuu ... uuu ... Papa bahat ... emba payan Ion ..!"
"Loh kata siapa. Papa nggak sayang Baby!' tanya Terra sambil menatap Haidar galak.
Haidar yang ditatap hanya tertawa tanpa suara.
"Ipu, Papa mo bitin baby pewain Ion ... Ion emba dipawan ladhi ... hiks ...hiks!"
"Mama ... buan adha Papa Bidal, Ma. Ion emba payan Papa ladhi!" adunya sambil menangis kemudian memeluk ibunya.
Tangisan Rion membuat Terra bersedih. Gadis itu tidak tahu bagaimana cara menjelaskan jika walau ada baby lain, Rion tetap menjadi baby bagi Terra. Bayi itu masih terlalu dini untuk mengerti.
"Uh ... sayang Mama. Kalo Papa dibuang, nanti Mama sedih. Kan Mama sudah jadi milik Papa," jelas Terra.
Hanya sesengukan dari bayi montok itu terdengar. Ternyata Rion sudah terlelap dalam dekapan Terra. Lidya juga sudah mulai memejamkan mata dalam gendongan Haidar. Darren hanya melihat kedua orang dewasa yang tengah menenangkan adiknya ini.
"Ayo, kita tidur, sayang," ajak Haidar lalu merebahkan gadis kecil itu di ranjang.
Darren naik ke atas kasur. Sedang Romlah dan Ani tidur di kasur yang lain. Lampu di ganti menjadi temaram. Terra sudah meletakkan bayinya di ranjang menepuk bokong penuh bayi itu. Meraba popok yang belum penuh.
Terra juga melakukan hal sama pada Lidya. Gadis kecil itu masih mengenakan popok jika berpergian jauh.
Rion membuka matanya. Ia menatap sang ibu yang juga memandanginya.
"Mama, imi penapa mewah-mewah?' tanyanya sambil menunjuk dada Terra yang memerah.
"Ssshhh ... ayo bobo," Terra mengelus kepala bayi itu dan meniup matanya agar tertidur dan mengalihkan pertanyaan Rion.
Terra lupa. Tanda merah itu bukan hanya satu di dadanya tapi banyak.
bersambung ...
next aja dah ...