TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MEMPERKENALKAN ISTRI



Demian membuat sebuah pesta kecil di kantornya. Pria itu akan mengenalkan istrinya ketika makan siang bersama para karyawannya.


Semua berkumpul di sebuah aula. Banyak makanan enak dengan kualitas tinggi. Semua karyawan berbaur menjadi satu. Ramah tamah di lakukan Demian setiap setengah tahun sekali, agar dekat dengan para karyawan. Septian, adik ipar Jac juga hadir. Walau ia adalah seorang karyawan lapangan.


"Apa Kak Putri dan Kak Lidya juga akan hadir, Bang?" tanya pria itu pada kakak iparnya.


"Iya, nanti Bang Gio yang membawa keduanya ke sini," jawab Jac.


Demian dan Jac mengenakan baju formal yang mewah. Semua karyawan tentu tahu jika kedua atasan mereka telah menikah. Nyaris seluruh karyawan di undang ketika resepsi pernikahan keduanya dilaksanakan.


"Jadi Boss kita udah nikah ya?" tanya salah satu karyawati kecewa.


"Iya, katanya sih istrinya dokter psikolog anak," jawab salah satunya lagi.


"Menurut sumber juga istrinya itu anak orang paling kaya di kota ini," jelas salah satunya memberi info.


"Yah ... jadi cerita di novel itu banyak boongnya ya?" keluh salah satu karyawati.


"Ya iya lah. Kecuali perselingkuhan Boss dengan sekretaris. Tapi, Tuan Starlight dan Jac sekretarisnya cowok. Jadi, ya nggak mungkin ada skandal!" sela salah satunya lagi.


Mereka menatap pria tampan yang kini berbincang dengan salah satu karyawan.


"Itu adik iparnya Tuan Jac!" bisik salah satu gadis.


Mereka mengangguk. Ketampanan Septian memang menjadi buah bibir para karyawati. Bahkan pria itu masih betah melajang semenjak gagalnya pernikahan satu tahun lalu.


"Kenapa nggak nyari pasangan lagi, Sep?" tanya Jac perhatian.


Pria berkulit kecoklatan itu tersenyum. Tinggi Septian di atas telinga Jac. Hanya beda dua inci saja.


"Belum datang jodohnya, Bang," jawab Septian enteng.


"Sabar saja. Jodoh pasti tidak kemana, ya kan?" sahut Demian tenang.


Tak lama Lidya dan Putri datang bersama ketiga pengawal Lidya. Demian dan Jac menyambut istri mereka masing-masing.


"Kak!" sapa Septian pada kedua wanita itu.


Putri merangkul adiknya. Ia sudah lama tak bersua. Semenjak menikah dan pindah rumah. Putri memang jarang bertemu dengan keluarga. Padahal Jac tak pernah melarang istrinya untuk berkumpul dengan ayah, ibu juga adiknya.


Demian naik mimbar. Pria itu pun mulai memperkenalkan istrinya juga istri bawahannya.


"Selamat siang semuanya, assalamualaikum!"


Semua karyawan membalas salam pria itu.


"Di sini saya dan Jac memperkenalkan istri kami masing-masing. Kemarin ketika pesta kan tak begitu jelas dan hanya sebentar," jelasnya.


Pria itu pun menggandeng Lidya. Keduanya kini berada di tengah. Semua menatap wanita cantik bertubuh mungil juga berhijab di sebelah Demian.


"Ini istri saya bernama Lidya Pratiwi Hugrid Dougher Young. Beliau ini seorang Dokter psikolog anak," jelasnya lagi.


Lidya membungkuk hormat. Semua ikut membungkuk dan memberi salam dan selamat pada wanita cantik itu.


Usai Demian memperkenalkan istrinya. Giliran Jac yang mengenalkan istrinya.


"Ini istri saya bernama Putri, dia adalah seorang perawat rumah sakit dan menjadi asisten dari Dokter Lidya!"


Putri berada di sebelah Jac. Wajah manis dan tubuh bongsor. Semuanya berbisik. Tak ada yang menarik jika dilihat dari sosok wanita itu.


"Eh ... kukira cantiknya bagaimana gitu ya. Biasa aja," bisik salah satu karyawati.


"Cantikan gue," lanjutnya.


Putri tak menggubris. Ia memang tak memiliki wajah unik atau sangat cantik. Dibanding Lidya, ia memang sangat jauh dari kriteria cantik.


"Memang istri saya terlihat biasa saja. Wajahnya sangat Indonesia sekali. Tapi, say sangat mencintainya," sela Jac dengan suara keras.


Bisik-bisik mereda. Tatapan tajam Jac menatap semua yang hadir di sana. Ia benar-benar memandang rendah pada karyawati yang tadi mengatai istrinya.


"Sudah, ayo semuanya silahkan makan!" titah Demian mengakhiri perkenalan.


Semua karyawan mengantri mengambil makanan. Demian dan Jac membawa pasangan mereka ke area vvip di mana para manager dan kepala divisi berada. Kedua pria itu mengenalkan istrinya kembali.


"Wah, selamat ya Tuan dan Nyonya atas pernikahan kalian," ujar salah satu kepala divisi.


Lidya dan Putri duduk satu meja bersama suaminya. Mereka memakan hidangan yang telah tersedia. Semenjak ditangani oleh Saf, Lidya tak lagi terlalu berat menjalani kehamilannya.


"Sayang, apa kau mau buah?" tawar Demian.


Pria itu selalu perhatian pada istrinya semenjak tahu, wanita itu tengah mengandung anaknya. Dominic berkali-kali mengingatkan putranya agar selalu memperhatikan istrinya.


"Aku kurang suka buah-buahan ini, sayang," tolak Lidya ketika melihat buah impor di atas meja.


"Nanti, kita beli di luar. Buah lokal, pisang dan pepaya," ujar Lidya.


Demian mengangguk. Pria itu tak pernah memaksa istrinya. Ia hanya akan memperingati Lidya jika tak makan.


"Bang Jac!" panggil Putri.


"Kenapa, sayang?" sahut pria itu.


"Anter ke kamar mandi. Mau keluar semua ini!" pinta Putri menahan mualnya.


Pria itu langsung sigap membawa istrinya. Putri berjalan cepat bersama sang suami ke kamar mandi untuk memuntahkan semua yang baru saja masuk ke perutnya tadi.


"Sepertinya, Putri ditangani oleh Kak Saf deh," saran Demian.


"Iya, kasihan. Putri suka kelelahan ketika nemenin Iya," sahut Lidya memberitahu.


"Kamu udah makannya, sayang?" Lidya mengangguk.


Wanita itu tak begitu banyak makan, ia kini memilih makanan. Lidya suka makanan sedikit garing dan tak berminyak. Bahkan kadang ia hanya makan nasi putih saja.


Putri datang dengan wajah sedikit pucat. Jac membimbing istrinya.


"Sepertinya, Putri istirahat dulu, ya," ujar Lidya khawatir.


"Bawa istrimu periksa ke Kak Saf, Jac. Mintalah tolong, agar tak terlalu parah masa ngidamnya," saran Demian.


"Baik, Tuan!" sahut Jac.


"Iya juga sekalian pamit ya, Mas!" sahut Lidya.


Pria itu mengangguk. Ia mengantar istri dan pria bawahannya ke halaman parkir. Gio, Felix dan Hendra mengikuti. Ketiganya tadi juga ikut makan siang di kantor Demian.


"Putri biar bersama Jac dan supir ke rumah sakit, Kak Gio!" sahut Demian.


Gio mengangguk. Jac menaiki mobil bersama istrinya. Lidya melambaikan tangan pada sang suami ketika mobilnya beranjak.


Demian melambaikan tangannya. Pria itu kembali ke aula di mana para karyawannya berkumpul.


"Tuan!" sapa salah satu kepala divisi administrasi.


Demian mengangguk membalas sapaan sosok cantik itu. Mitha memandangi pria yang lewat begitu saja ke arah sebaliknya. Gadis itu tersenyum melihat punggung lebar atasannya.


"Lebar banget dadanya," gumamnya gemas.


"Keknya enak tiduran di dada bidang itu," lanjutnya berkhayal.


"Duh ... sayang dia udah punya istri," keluhnya kesal.


"Biasanya cowok bule itu nggak setia sama pasangannya," lanjutnya berasumsi.


Ia menatap dirinya di kaca. Tubuh seksi dan padat. Rambut sebahu. Gadis bernama Gea itu, meraba semua lekukan di tubuhnya.


"Gue seksi kok," ujarnya penuh percaya diri.


Gadis itu pun tersenyum penuh arti. Jabatannya yang sangat penting di perusahaan. Membuatnya sering berinteraksi dengan bossnya itu. Selama dua tahun bekerja di perusahaan yang kini ditangani oleh Demian. Gea sering bertemu dengan atasannya untuk beberapa berkas dan penanganan kendala operasional perusahaan. Terlebih dirinya bertanggung jawab penuh pada semua penanganan perusahaan.


"Let's begin!" ujarnya lalu mengedipkan mata sebelah.


bersambung.


pelakor tumbuh.


next?