
Hari berlalu..Kini rumah baru Terra sudah terisi barang-barang yang kemarin lusa mereka beli. Walau ada beberapa tukang yang tengah merenovasi belakang rumah mereka.
Menurut perkiraan, taman berikut kolam akan jadi sekitar empat hari lagi. Itu jika cuaca mendukung. Jika tidak, bisa jadi molor.
Anak-anak sangat antusias. Terlebih Darren. Pria kecil itu sering mengusili adiknya Terra. Tawanya yang renyah juga sering terdengar. Terra sangat menyukai perubahan Darren.
Ternyata keputusannya untuk membeli dan mengganti semua perabotan rumah, adalah hal yang benar. Darren sudah jarang mengigau atau bermimpi buruk. Nafsu makannya pun mulai bertambah.
"Mama. Tata Dallen natal ... huuaaaa!" adu Lidya sambil menangis kencang.
"Sayang ...," Darren tersenyum dengan wajah imutnya.
"Maaf ya,.Dik. Abis kamu gemesin banget!" ujar Darren gemas..
Lidya hanya mengerucutkan bibirnya. Terra juga gemas melihatnya. Ia pun menciumi wajah putri kecilnya.
"Mama ... Mama!" Rion yang berada dalam gendongan bik Romlah merentangkan tangannya.
Terra menyambut kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi, hingga terdengar suara teriakan Rion yang tertawa.
"Ma ... beuntal ladhi Baby Lion ulan taun loh, Ma," ujar Lidya masih dengan mata yang berkaca-kaca.
Gadis itu masih sedih akibat diusili kakaknya tadi.
"Oh ya? Kapan?" Terra sampai lupa perihal tanggal lahir anak-anaknya, kemudian mengusap genangan air yang menumpuk di pelupuk mata gadis kecilnya.
"Ehmm ... tandal ... tandal belapa Ta?" tanyanya pada Darren.
"Satu minggu lagi, Ma. Tepatnya tanggal Delapan Agustus," kata Darren ikut membantu menjawab.
"Kau ingat ulang tahun adik-adik mu, Dar?" Darren mengangguk. "Bagaimana dengan ulang tahun mu sendiri?"
Darren terdiam. Lagi-lagi wajahnya berubah sendu. Terra jadi terkejut dan merasa bersalah pada putranya itu.
"Hei-hei ... sayang, sini-sini!" ujarnya merentang tangan sebelah dan meraih bahu Darren..
"Jangan sedih, sayang. Jangan menangis. Mama hanya bertanya," ucap Terra menenangkan Darren.
"Assalamualaikum!" sebuah salam terdengar dari luar.
"Wa'alaikum salam!" balas Terra.
Bram datang bersama Kanya, Karina dan Raka. Mereka membawa satu kantung besar makanan. Bik Romlah membantunya.
"Bik. Tolong siapkan semua di piring ya. Yang ini buat para pekerja, ini buat kita semua," titah Kanya pada bik Romlah.
"Iya, Nya," sahut bik Romlah sambil membawa bungkusan besar.
"Duh, Ma. Jadi ngerepotin!" ujar Terra tak enak hati.
Kanya melihat Darren berada di pelukan Terra dengan wajah sedih. Karina langsung mengambil alih Rion sedang Lidya yang melihat Bram, langsung berlari dan meminta pangku. Gadis kecil itu mulai berceloteh entah apa yang ia bicarakan. Wajahnya sangat serius.
Kanya mendekati Darren yang menempel di tubuh Terra. Pria kecil itu kembali gemetar.
"Kenapa dengan Darren, Sayang?" tanya Kanya dengan raut wajah khawatir.
Kanya hanya bisa mengusap punggung Darren dengan lembut. Tidak ada yang bisa menenangkan kekalutan pria kecil itu kecuali Terra.
Rion tengah mengoceh, ngobrol dengan Raka. Sepertinya hanya Raka yang mengerti bocah yang sebentar lagi berulang tahun itu.
Lidya juga tampak serius berbicara dengan Bram. Pria setengah baya yang masih menguarkan ketampanannya menahan tawa berkali-kali mendengar celotehan gadis kecil yang berada di pangkuannya itu.
"Makanan sudah siap, Nya," ujar bik Romlah.
"Para tukang juga sudah dikasih, Bik?" tanya Kanya.
"Sudah, Nya," jawab bik Romlah.
"Ya, sudah. Ayo, kita makan dulu," ajak Kanya.
Mereka pun berkumpul di ruang makan bersama. Rion di tempat duduk khususnya, begitu juga Lidya. Selesai berdoa mereka pun makan. Tidak ada yang berbicara, atau memegang ponsel.
Bram sangat begitu disiplin jika tengah berada di ruang makan, entah itu untuk sarapan, makan siang atau makan malam. Bram melarang keras semuanya berbicara atau memegang ponsel saat makan. Bahkan Raka, juga akan ditegur keras oleh Bram jika melanggar.
Usai makan, Bram, Lidya, Raka dan Rion kembali ke ruang keluarga. Bram menggendong Rion. Sedang Lidya digandeng oleh Raka. Bocah spesial itu meluapkan kerinduannya pada Lidya, si penenang hatinya.
Sedang, baik Terra, Kanya dan Karina membantu bik Romlah membersihkan meja makan..
"Sudah, Ma, Kak. Biar Te dan Bik Romlah yang membersihkan ini semua," ujar Terra tidak enak.
"Sudah tidak apa-apa. Oh ya, rumah sebesar ini, apa kamu tidak menambah asisten rumah tangga lagi?" tanya Kanya.
"Mungkin nanti, Ma. Kata Bik Romlah dia punya saudara yang juga sudah janda hidup sebatang kara membutuhkan pekerjaan dan tempat tinggal. Te berencana untuk meminta bantuannya untuk bekerja di sini," jelas Terra panjang lebar.
"Bagaimana dengan pengurus taman dan penjaga rumah?" tanya Kanya lagi.
"Nanti dipikirkan lagi, Ma," jawab Terra.
"Hmm ... sebenarnya, Mama ada sepasang suami istri masih saudara salah satu asisten rumah tangga di mansion. Mereka membutuhkan pekerjaan. Mama rasa, suaminya bisa menjadi penjaga rumah sendang istrinya bisa merawat tanaman," jelas Kanya. "Apa kau mau mereka kerja di sini?"
"Boleh Ma. Nanti, Terra akan bangun kamar satu lagi deh buat mereka," ujar Terra.
"Mama lihat di belakang ada ruang tak terpakai cukup luas. Kamu nggak usah bangun kamar, itu saja pakai untuk kamar pembantu," ujar Kanya lagi.
Terra baru ingat jika ada ruangan untuk gudang penyimpanan. Letaknya cukup jauh di belakang dekat pohon. kamarnya juga berdiri sendiri.
"Baiklah. Nanti, Terra atur. Makasih ya, Ma," ujar Terra menyetujui saran Kanya.
"Sama-sama, sayang."
bersambung.
selamat datang di rumah baru Te!
yuk dukung terus karya othor like and koment vote jika perlu
makasih hehehehe