TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TERRA DAN HAIDAR DICULIK



Berita kematian Sugeng, sampai ke telinga Terra. Terpatahkan jika laki-laki itu bukanlah otak dari dalang pelemparan kemarin.


"Jadi, Sugeng hanya sebagai umpan saja," pikir Terra.


Hari ini ia akan pergi ke pesta pernikahan Poltak. Haidar akan menjemputnya.


Hanya mengenakan dress selutut warna jingga lengan pendek. Hanya berhias kalung pemberian dari paman dan cincin dari kakeknya.


Haidar datang dengan kemeja warna jingga dengan celana bahan warna hitam. Pria itu menjemput kekasihnya dengan mobil Ducatinya.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai lokasi. Keduanya masuk dengan bergandengan tangan. Bersalaman dengan mempelai.


"Kau bawa hadiah dua ratus jutanya kan?" seloroh Poltak.


"Bawa lah. Dalam bentuk brosur," kelakar Haidar hambar.


Poltak hanya garuk-garuk kepala. Pria hitam manis ini sangat tampan dengan balutan baju adat Batak begitu juga Brenda.


Sepasang mata mengincarnya. Terra melirik arah mata yang mengincarnya. Ia berbisik pada Haidar.


Pria itu hanya menganggukkan kepala. Haidar sudah tau jika calon istrinya itu sedang dalam bahaya. Instingnya yang kuat membuat ia tahu apa yang terjadi.


Pria itu ingat jika tiga hari lalu ketika ia datang saat makan siang. Terra tengah berbincang tentang musuh yang kembali menerornya.


"Mas kenal dengan Lim Hyung?" tanya Terra.


"Bukankah dia itu kepala divisi bagian pengembangan perusahaan yang kemarin kamu bongkar data korupsinya?" ucap Haidar.


"Pria itu kemarin mendatangi Sugeng sebelum meninggal dunia. Padahal Sugeng tidak pernah bekerja di perusahaan selama Ayah masih hidup," jelas Terra.


"Lalu?" tanya Haidar.


"Kemarin kepolisian telah mengotopsi mayat Sugeng. Ditemukan racun jenis xxx yang sulit diidentifikasi," jelas Terra lagi.


"Polisi mencurigai dia lah yang memberi racun pada Sugeng. Karena terakhir kali, pria itu lah yang mengunjunginya dan membawa makanan cepat saji," jelas Terra lagi.


"Kenapa dia mau membunuh Sugeng?" tanya Haidar bingung.


"Itu masih dalam penyelidikan. Te, kemarin sudah menemui kasat reskrim secara rahasia. AKP Agus pun sudah bergerak."


"Jadi kita hanya menonton saja?' Terra menggeleng.


"Jika dilihat orang yang melirik kita tadi, sepertinya dia mau kita mengikutinya. Mas mau ikut?"


"Tentu saja sayang," ucap Haidar.


Bart sudah pulang kemarin sore dengan dua putranya. Mereka berjanji kembali satu minggu lagi.


"Kita kasih kabar pada semua tim?" Terra menggeleng.


"Kita sudah mengerti bagaimana cara kerja BraveSmart milik Darren, Mas. Tim penguji juga sudah mengunci pergerakan kita," jelas Terra.


"Mas ... orang itu menoleh lagi ketika menuju jalan ke sana," ucap Terra ketika melihat sosok pria yang tadi melirik mereka.


"Kita ke sana," ujar Haidar langsung melangkah.


"Biasa saja, Mas. Jangan memancing reaksi mencurigakan," peringat Terra.


Haidar memelankan langkahnya. Mereka berdua kembali berjalan bergandengan.


Sosok pria tersebut mengenakan seragam petugas kebersihan. Ketika berada dalam perempatan gang, pria itu membuka seragamnya dan yang dilapis dengan pakaian biasa.


Tim mampu mengenali sosok pria tersebut. Mereka telah mengerti cara kerja BraveSmart kemarin.


Terra dan Haidar mempercepat langkah mereka. Ketika sampai diujung gang. Sebuah mobil hitam melintang dan pria yang menyuruh mereka untuk mengikutinya masuk dalam mobil jenis Van tersebut.


Terra melirik kekasihnya. Haidar mengangguk, mereka berdua masuk dalam mobil itu.


Haidar dan Terra langsung ditodong senjata tajam. Mereka membuang semua alat komunikasi ke jalanan.


Sejurus kemudian, mobil tersebut tancap gas. Budiman yang mengikuti kliennya langsung menghubungi tim.


Pengawal tampan itu mengambil dompet dan ponsel milik Terra dan Haidar. Tim sudah mengunci mobil van yang menculik sepasang kekasih itu.


Di dalam van mata keduanya ditutup dengan kain hitam. Haidar yang sudah terlatih dalam keadaan genting seperti ini, bisa mengetahui kemana saja arah laju mobil itu.


Sedang Terra menggenggam erat jemari tangan calon suaminya. Gadis itu berdebar-debar, karena ini adalah pengalaman pertamanya diculik oleh orang.


Namun, kemudian ia sangat bersedih. Gadis itu teringat akan ketiga anaknya. Ia sedikit takut.


Terra sedikit tenang. Sudah dari dua jam, mereka belum sampai tujuan. Haidar mengerti jika penculik sedang mengelabui dirinya dengan berjalan berputar mengitari kota.


Hingga akhirnya z mobil itu berhenti. Haidar tahu jika mereka dibawa ke sebuah hutan yang ada di pinggir kota M.


Mereka melepas penutup kepala keduanya. Terra menyipitkan mata ketika cahaya tiba-tiba masuk matanya.


"Ini hutan B kan?" bisik Terra.


Haidar mengangguk membenarkan terkaan gadis itu. Terra tersenyum. Ia mengenali seluk beluk hutan ini. Dulu, Ia sering dilatih ayahnya di sini.


"Wah ... ternyata kau cantik, Terra," sebuah suara datang dari arah utara.


Haidar mengenal siapa orang itu. Pria itu cukup terkejut akan kehadiran CEO dari perusahaan terbesar di negara ini.


"Halo Tuan Lim Hyung," sapa Haidar sambil tersenyum smirk.


Lim Hyung mengelap keringat yang menetes di keningnya. Pria itu mencari sesuatu dalam kantung celananya.


Tidak ditemukan bungkus bubuk putih kemarin. Ia sudah yakin jika bubuk itu ia simpan di sakunya.


'Sial ... mana bubuk itu!' teriaknya panik dalam hati.


Di suatu tempat di mana para pembantu rumah tangga sedang membersihkan meja. Salah seorang dari mereka menemukan bubuk putih dalam plastik kecil.


Asisten rumah tangga itu langsung ketakutan. Yang ia lihat di layar kaca tentang bubuk dalam plastik adalah benda terlarang.


Dengan diam-diam, asisten rumah tangga itu mengambil bungkus itu dan membawanya ke toilet.


Di sana ia membuka bungkus dan menuang isinya ke dalam WC dan langsung menyiramnya dengan air banyak. Bungkusnya ia bakar sampai habis.


Kemudian, asisten rumah tangga itu kembali bekerja dengan tenang.


Sementara Lim Hyung yang tengah kebingungan hanya bisa pasrah. Racun satu-satunya yang menjadi andalan hilang entah kemana.


"Jadi apa yang ingin kau sampaikan Hyung?" tanya Haidar dengan arogansi tinggi.


Bunyi deru helikopter terdengar. Sirene polisi juga makin kencang. Para penjahat mulai mengeluarkan senjata.


Haidar langsung menarik Terra dalam dekapannya. Bunyi tembakan terdengar.


Dor! dor! dor!


Haidar menggeret Terra ke balik Van yang tadi membawa mereka. Beberapa orang menggelepar dengan darah bersimbah.


Beruntung Terra dan Haidar memakai rompi anti peluru di dalam baju yang mereka kenakan.


Ponsel milik Darren mengabarkan pergerakan mereka ke sebuah pesta yang akan didatangi Terra.


Ternyata selama ini, mereka juga telah mengintai gadis itu.


Lim Hyung berhasil kabur. Virgou datang dengan mobil Jeep anti pelurunya.


"Naik!" teriaknya.


Terra dan Haidar menaiki mobil itu segera. Virgou membawanya dengan kecepatan tinggi dan mengejar Lim Hyung.


Sebagian polisi meringkus anak buah Lim yang terluka. Sebagian lagi mereka ikut mengejar bersama Virgou.


Tembakan demi tembakan terdengar. Mobil yang ditumpangi Lim berhenti di sebuah bangunan dengan pagar tinggi.


Markas bunglon. Markas yang dicari-cari oleh pihak kepolisian ternyata di bangun di tengah hutan.


Lim lari masuk ke dalam bangunan dengan membuka paksa pintu gerbang. Tiba-tiba.


Duar!


Hancur lebur tubuh Lim karena membuka pintu itu. Serentetan senjata berbunyi dari dalam gedung. Polisi dan Virgou berhenti total.


Terra meyakini jika gedung itu dipenuhi jebakan. Virgou turun begitu juga Haidar dan Terra.


"Tahan, jangan ada yang masuk!' titah AKP Agus.


Tidak ada yang bergerak. Sementara helikopter masih berputar di atas mengintai kejadian dari sana.


bersambung.


next?