TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KHITAN SEMUA ANAK LAKI-LAKI



Darren dan Rion telah dikhitan sedari bayi. Tentu Terra tahu. Sewaktu anak-anak itu dalam asuhannya. Terra yang memandikan dua bocah laki-laki yang kini sudah beranjak besar.


Virgou sudah mengkhitankan anak laki-lakinya ketika lahir. Hanya Herman dan Terra yang belum. Makanya mereka berdua berencana untuk membawa mereka ke dokter untuk dikhitan.


Sean, Al, Daud, Satrio, dan Dimas pun kini mengantri di ruang tunggu. Menggunakan teknik cincin agar lebih cepat kering dan tidak terlalu sakit. Haidar memangku ketika hendak disunat. Hanya ringisan kecil karena ada hadiah jika mereka tidak menangis.


Satu persatu, anak laki-laki sudah dikhitan tinggal Dimas, yang paling kecil. Bayi berusia satu tengah tahun itu sedikit takut.


"Papa, tasit peundat?"


"Hanya sedikit, seperti digigit semut," jawab Haidar menenangkan Dimas.


"Halo, jagoan. Apa sudah siap?" tanya dokter sambil mengelus punggung balita yang mendekap erat Haidar.


"Bismillah, sayang," sahut Haidar membalik tubuh Dimas.


"Tutup matanya biar nggak lihat ya," pinta dokter. Haidar pun menutup mata putra dari pamannya Terra itu dengan tangannya.


Sret!


"Au!" pekik kecil Dimas sakit.


Terdengarlah tangisan dari bibir Dimas. Haidar pun menenangkannya.


"Hei, hebat loh!" dokter bertepuk tangan karena khitannya berhasil.


"Adik jagoan, tepuk tangan semuanya!" titah sang dokter.


Perawat yang ada di sana pun bertepuk tangan. Satu buah permen dihadiahkan oleh sang dokter. Dimas pun berhenti menangis. Permen itu mengandung obat anti nyeri. Jadi anak-anak tidak rewel jika disuruh makan obat.


Setelah membayar administrasi. Mereka pun pulang dengan mobil masing-masing. Anak-anak sudah tidur karena efek obat tadi.


Rion pun bertepuk tangan riang karena adik-adiknya telah dikhitan. Terra akan mengadakan syukuran bersama dengan Herman nanti di mansion pria itu.


"Mama, adik-adik jadi udah disunat ya?"


"Iya, sayang," jawab Terra.


"Kak Darren dan Kak Lidya belum pulang?"


"Belum, Pa," jawab Rion santai.


Nai, yang tadi tinggal di rumah sudah tidur diasuh oleh Rion. Terra selalu mengandalkan bocah laki-laki itu untuk menenangkan anak-anaknya yang rewel.


"Kenapa Baby, belum tidur?" tanya Darren.


"Iya, Pa. Tadi kan nungguin Mama sama Papa pulang," jawab Rion.


Pria kecil berusia tujuh tahun itu pun menuju kamarnya lalu tidur. Terra memeluk suaminya. Haidar balas memeluk istrinya.


"Sayang, bagaimana kasus Darren. Apa sudah selesai?" tanya Terra.


Wanita itu akhirnya tahu permasalahan putranya. Virgou sampai tertawa mendengar hal itu. Herman hanya tersenyum puas dengan tanggapan Darren pada mahasiswa itu.


"Dia tidak tahu jika berhadapan dengan seorang Dougher Young!" ujar Virgou dingin ketika Haidar menceritakan masalah Darren.


"Apa tadi julukan pria itu?" tanya Herman lagi.


"Prabu," jawab Haidar remeh.


"Astaga. Mendiang Nenek ada Raden Ayu Gusti saja tidak mau dipanggil Gusti Ayu. Ini anak tidak ada turunan ningrat sembarangan menobatkan dirinya Prabu?" sergah Herman gemas.


Bahkan pria itu jika memakai gelarnya pun masih bisa. Hanya saja ia jarang menyebut gelar bangsawannya.


"Dia dari keluarga Winata. Usaha properti miliknya menjamur di mana-mana. Kemudian Fabian Arsendo Winata adalah putra tunggal. Dia pewaris satu-satunya perusahan Winata. Pantas dia sombong," jelas Haidar.


"Di kampus ia memiliki beberapa anak buah dan gadis-gadis yang bergelayutan seperti kelelawar. Anaknya memang tampan, tetapi ia harus mengulang mata kuliahnya satu tahun lagi," jelasnya lagi.


"Jangan bilang itu adalah mata kuliahmu!' sahut Virgou.


"Exactly!" ujar Haidar sambil mengangkat dua alisnya.


"Sudah, sayang. Para dosen dan dekan mati kutu ketika aku memasang mading tentang Homo dan Homo Sapiens," jawab Haidar lalu tersenyum.


"Alhamdulillah, Te. Juga kesal, kenapa ada anak punya pikiran dangkal seperti itu," sahut Terra mencebik.


Haidar menoleh kanan kiri. Sepi.


Cup.


Sebuah ciuman mendarat di bibir Terra. Terra mengalungkan lengannya di leher Haidar. membalas ciuman sang suami. Hingga ketika ciuman itu makin lama makin dalam.


"Assalamualaikum, Lidya pulang!"


Terra pun langsung melepas ciuman sang suami. Dengan napas menderu. Mereka menjawab salam.


"Mama Papa, habis ngapain? Kok ngos-ngosan gitu?" tanya Lidya bingung.


"Tidak apa-apa, sayang," jawab Terra.


"Ayo, segera ganti baju udah itu turun makan, ya," titah Terra lembut mengalihkan rasa penasaran putrinya itu.


"Iya, Mama," sahut Lidya beranjak ke kamar.


Sepasang suami istri itu saling tatap. Kemudian mereka pun tertawa geli. Ternyata bermesraan di siang hari pun belum aman jika anak-anak belum pulang.


Terra menyiapkan makanan untuk putrinya. Biasanya sebentar lagi Darren pulang. Maka, ia pun juga menyiapkan makan siang untuk putranya.


Benar saja. Darren pulang. Ia memberi salam. Budiman bersamanya mengawal remaja itu. Lidya turun dari kamarnya dengan baju rumah bergambar princess.


Setelah semuanya duduk di kursi makan. Budiman ikut makan di sana. Gisel sedang memimpin rapat. Ia membawa putranya bersama ke kantor. Sedang ayah dan ibu Budiman ada di rumahnya bersantai.


"Jadi, adik-adik semua sudah dikhitan, Ma?" tanya Darren usai makan.


"Sudah tadi, sayang," jawab Terra.


"Apa mereka menangis?" tanya Lidya sedih. "Kan pasti sakit."


"Hanya Dimas yang menangis. Itu pun karena terkejut," jawab Haidar terkekeh.


"Alhamdulillah, tenang jika sudah dikhitan," sahut Budiman lega.


"Bagaimana tadi di kampus. Masih muncul di prabu itu?" tanya Haidar.


"Sudah tidak ada, Pa. Teman-teman juga banyak yang minta maaf soal kemarin," jawab Darren.


"Bagus. Biar malu semua sama kamu," sahut Haidar kesal, putranya dituduh menyimpang.


"Tetap jaga pergaulan, sayang. Banyak orang baik tapi menipu. Kamu harus banyak belajar," ujar Terra memberi nasehat.


"Inshaallah Ma."


"Ya, sudah. Tidur siang sana!" titah Haidar pada dua anaknya.


Darren menggandeng tangan Lidya naik ke atas. Mereka pun masuk ke kamar masing-masing.


Waktu berlalu hari berganti. Kini mansion Herman penuh dengan anak-anak asuhnya. Kini khitanan si kembar telah kering, begitu juga Satrio dan Dimas. Mereka sudah berlari ke sana kemari.


Ibu-ibu hamil menyerahkan penjagaan anak-anak mereka pada Rion.


"Terra, perut Bunda pengen dielus," rengek Khasya.manja.


Terra mengelus perut istri pamannya itu. Sambil mengecup dan memberi doa-doa terbaik. Puspita pun tak mau kalah. Perutnya tiba-tiba kram minta dielus juga.


Dengan senang hati Terra pun mengelus perut buncit istri kakaknya itu.


bersambung.


ah lega udah disunat semua..


next?