
Frans dan Leon menyabarkan pria yang kini hanya mendengkus pasrah. Sungguh momen romantis mereka ambyar karena pertanyaan Rion.
"Baby, Om Budi pegang tangan Kak Gisel itu bukan ingin nyebrang jalan," jelas Darren.
"Oh, tlus mau napain?" tanya Rion polos.
Darren berpikir berat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Lidya memiliki jawaban sempurna.
"Om Budi sama Kak Gisel pegangan tangan itu karena ingin jadi seperti Mama dan Papa."
Semua orang dewasa terbelalak mendengar jawaban gadis kecil itu. Terra tidak terima. Ia ingin Lidya masih polos.
"Sayang," panggil Terra pada putrinya.
"Iya, Mama," sahut Lidya dengan mata bulat.
Terra ingin menjelaskan sesuatu tetapi sulit, dan yakin jika Lidya juga tak akan mengerti. Jadi ia pun urung mengatakan sesuatu.
"Tidak jadi sayang," ujar Terra lemas.
Lidya bermain dengan kelima adiknya begitu juga Darren. Tak lama, Virgou datang bersama istri dan anaknya. Begitu juga Herman memboyong istri dan anak kembar mereka.
Seperti biasa. Rion menjadi kepala pasukan para bayi berusia lima belas bulan itu.
"Ata' Ion," panggil mereka.
"Duduk semua!" titah Rion.
Kedelapan bayi kembar beda ayah dan beda ibu itu pun duduk. Rion berkacak pinggang. Ia berpikir apa yang akan dia lakukan sekarang. Ia pun memiliki ide.
"Babies ... mau dengel Kakak nyanyi atau mendongeng?"
"Banyi!"
"Bonen?"
"Pua-puanya!"
Rion menggaruk kepalanya. Ia pun ingin bernyanyi tetapi adzan isya sebentar lagi. Jadi dia menundanya.
"Habis sholat isya, yaa," ujarnya menjanjikan.
"Oteh!" sahut adik-adiknya.
Adzan isya pun berkumandang. Para pria kecuali, Bart, Frans, Leon dan Gabe pergi ke mushala untuk shalat isya berjamaah. Sedang Terra, Puspita dsn Khasya menyusun hidangan yang mereka bawa membaginya dengan para pengawal. Usia shalat. Mereka pun makan bersama.
Usai makan, Virgou memasang alat karaoke menghidupkan sepuluh mik. Rion mengambil mik nya.
"Tes ... satu, dua, tiga ... tes!"
"Nai pau banyi!" teriak Nai duluan.
Rion memberikan salah satu mik. Nai mengambilnya. satu buah lagu anak-anak di dendangkan. Bintang Kejora.
"Pu Padang pamit penuh pintan petabulan ... peltelap pelip ... pelumpana pintan pelyan ... pada pebuah pebih pelan pahayana ... Pitu lah pintan tu pintan pejola pan pindah palu!"
Semua bertepuk tangan. Giliran Kean ingin bernyanyi. Lagu yang sama.
"Bu bandan banit benuh bitan belatulan ... beltelap belip ... belupama bitan belyan ... bada bebuah belih bebah bahayana ... bitu lah bitan tu bitan bejola ban bidah balu!"
Semua bertepuk tangan meriah. Wajah kesemua orang dewasa sudah tidak berbentuk lagi. Mereka menahan ketawa. Delapan bagi bernyanyi dengan bahasa mereka sendiri.
Rion memiliki giliran bernyanyi. Balita itu punya caranya sendiri untuk bernyanyi. Ia akan merubah semua lirik lagu. Terra yakin jika pengarangnya dengar akan marah karena merusak cipta lagu.
"Ion mau nyanyi. Kling-kling bunyi sepeda!"
Musik mengalun. Semua bergoyang. Delapan bayi mengikuti gerakan kakak mereka.
"Kling-kling-kling ada spada ... spada ku loda lima ... kudapat dali Papa talna lajin bekelja ...
Benar saja. Rion mengganti lirik lagunya. Terra sudah menyerah. Ia duduk bersandar pada suaminya. Menahan tawa hingga perutnya keras.
Satu lagu lagi ia minta. Naik delman.
"Pada hali mindu tululut Papa ke kantol ... naik mobil walna melah kududuk di muka ... Kududk samping Om Pudi yan sedan beleja ... mengendalikan mobil supaya baik jalannya ... hey ... blem ... blem ... blem .. blem .. blem ... blem ... blem ... blem ... suala mesin mobil!"
Lagu selesai. Para bayi bertepuk tangan dengan meriah begitu juga Darren dan Lidya. Sedang orang dewasa hanya bisa bertepuk tangan lemas.
"Ata' Ion ... ponen don!" pinta Cal.
"Oteh!" sahut Rion masih memegang mik.
"Pada jaman dahulu kala. Hiduplah seekol kancil yang celdas. Begitu celdasnya hingga ia bisa membuat binun si laja limba.
Kancil beilnalkah engkau sangat pintal? tanya laja limba.
Kancil menjadi sombong. Dengan dagu telangkat dia beulkata.
"Aku adalah hewan palin celdas di hutan ini!"
"Kalau kau celdas cepat belapa banyak ail di laut?"
Kancil menjawab.
"Sebanyak luas laut membentang!"
Belapa banyak bintang di lamit?
Sebanyak ia memenuhi lamit!"
belapa umulmu?
Kancil diam. Ia malu mengatakan belapa usiana. Tetapi dengan celdas ia menjawab.
Seusia bayi yan balu lahil.
Laja limba pun teultawa.
Huaahahahaha!
"Bayi siapa?"
Kancil pun bingung. Ia mau menjawab bayi gajah, hewan itu lebih beusal dalinya. Mau menjawab bayi semut, hewan itu lebih kecil dalinya. Ia pun ingat sesuatu.
"Seusia bayi manusia!"
Laja limba teultawa lagi.
"Beulalti usiamu sudah tua Kancil!'
Usia manusia dengan hewan itu di kalikan tujuh tahun lebih tua dali hewan. Beulalti usiamu tujuh tahun sedang aku balu lima tahun. "
Kancil pun malu. Ia pun beuljalan menunduk. Dia tidak bisa lagi menyombongkan kecerdasannya."
Cerita selesai para orang dewasa begitu antusias mendengar cerita berbobot dari balita mereka. Bart menghadiahinya seratus dolar. Begitu juga Frans dan Leon.
"Daddy, menyusul ya," ujar Virgou bangga.
"Ayah juga," sahut Herman dengan binaran mata senang dan terharu.
Para bayi ternyata sudah tertidur mendengar dongeng kakak mereka. Para pria mengangkat mereka ke kamarnya. Rion pun juga sudah mengantuk. Ia pun ingin tidur bersama kedelapan adiknya.
bersambung.
ah ...
next?