TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BERTEMU



Saat itu, Haidar tengah mengajak Terra makan siang di sebuah restoran. Sedari tadi, tangan Haidar tak lepas dari menggenggam tangan Terra. Gadis itu sebenarnya risih akan kelakuan kekasihnya. Masalahnya, ini adalah tempat umum.


"Mas ... lepas, ih," rengeknya.


Haidar tertawa. Ia begitu gemas jika melihat Terra yang begitu manja dengannya. Pria itu menarik gemas hidung mancung kekasihnya.


"Oh ya, aku merencanakan agar hubungan kita diketahui publik," ungkap Haidar.


"Hah?" Terra tersentak tak percaya.


"Kenapa. Kau tak suka?" tanya Haidar.


"Bukan. Tapi, nanti para penggemarmu akan nge-bully aku," sungut Terra lirih.


"Penggemar, apa!' Haidar menatap Terra tak mengerti.


"Ck ... sudahlah. Tapi, apa perlu hubungan kita diketahui publik?" tanya Terra ragu.


"Oh harus! Biar para pria lajang di luar sana tak ada yang berani menggodamu!" jelas Haidar dengan nada galak.


Terra tertawa renyah mendengar jawaban Haidar. Pria itu menatap gadisnya penuh minat. Andai ia bisa. Ia akan membawa gadis ini langsung ke depan penghulu dan menikahinya.


"Aku mencintaimu," ungkapnya tulus.


Rona merah langsung menyeruak di pipi Terra. Gadis itu masih saja tersipu malu akan ungkapan kekasih hatinya itu. Haidar mengangkat wajah cantik Terra.


Netra mereka saling mengikat. Binaran mata keduanya sudah menampakkan perasaan masing-masing. Bibir Haidar hendak mengecup kening Terra. Tiba-tiba.


"Kak Haidar!" sapa seseorang.


Haidar terkejut. Ia mengenali siapa pemilik suara itu. Gadis yang telah lama menghilang. Semenjak kematian Leo, ayahnya. Pria itu tak mengetahui di mana keberadaan gadis yang dulu pernah mengisi ruang hatinya itu.


"Cherryl?"


"Kak, kau di sini?" sebuah suara tercekat menahan luapan rindu.


Haidar hanya menatap datar gadis itu lama. Terra berdehem..


"Mas!" panggilnya.


Cheryl tidak mengenal gadis yang bersama pria yang ia rindukan itu. Ia hanya menatap sekilas dan tersenyum. Tapi, sejurus kemudian Cherryl menatap Haidar kembali dengan pandangan memuja.


"Kak, apa kabar?' tanyanya dengan suara lembut.


"Baik. Ah ya ini perkenalkan, istriku Terra!'


Cheryl tampak shock. Gadis itu menggeleng tak percaya. Ia yakin jika pendengarannya salah. Gadis di sebelah Haidar tampak lebih muda dari usianya.


"Siapa?" tanyanya lagi memastikan.


Terra hanya bisa tersenyum kecut. Gadis itu pun mengulurkan tangannya pada Cherryl.


"Terra," ujarnya memperkenalkan diri.


Lama tangan Terra menggantung di udara. Sepertinya, Cherryl masih shock dengan pernyataan Haidar. Karena tidak mendapat respon. Terra kembali menurunkan tangannya.


"Bisa jelaskan Kak?' tanya Cherryl dengan tatapan berkaca-kaca.


"Apa yang mesti dijelaskan? Wanita yang bersamaku ini memang istriku," jelas Haidar enteng.


Terra melihat sebersit kebencian pada tatapan Haidar pada gadis itu. Terra menghela napas pelan. Ia yakin, ada sesuatu yang disimpan oleh kekasihnya tersebut.


"Kak!"


"Ck ... membosankan," ujarnya malas.


Kemudian ia berdiri dan menarik lengan Terra. Pria itu merangkul pinggang ramping Terra dengan posesif kemudian tersenyum tulus pada gadisnya. Terra hanya mengikuti drama yang diciptakan oleh Haidar.


Mereka berdua meninggalkan Cherryl yang kini mulai terisak. Entah alasan apa.


"Tunggu Kak. Kita harus bicara!" teriak Cherryl dengan suara sendu.


Haidar terus melangkahkan kakinya, tak peduli. Sedang Cherry terus meneriaki namanya.


Terra masih setia memandangi raut wajah kekasihnya yang kini mulai mengelam. Nampak Haidar menahan emosinya. Ada sedikit rasa cemburu pada gadis tadi.


Ketika sampai lapangan parkir. Supir membuka pintu untuk keduanya. Terra menghentikan langkahnya.


"Pergilah dan datangi dia!' ujar Terra.


Haidar menatap wajah kekasihnya, bingung.


"Hmmm ... pergi. Bicaralah padanya. Ungkap semua kekesalanmu padanya. Kemudian tanyakan apa alasannya. Setelah itu. Kau tentukan pilihan. Aku atau dia."


Ungkapan Terra yang panjang lebar, membuat jantung Haidar berdetak kencang. Pria itu masih menatap kekasihnya. Kemudian.


"Pak, antar Terra ke mansion segera. Jangan belok kemana pun!" titahnya. "Kau tunggu aku!"


"Tapi, anak-anak?" tanya Terra keberatan dengan Titah Haidar.


"Anak-anak sudah ada di mansion dari tadi!" teriak Haidar. "Kau tunggu aku!"


Terra hanya bisa menghela napas. Gadis itu tak bisa berkutik dan menyangkal. Entah kenapa, Terra begitu penurut dengan pria yang adalah seorang dosen dan juga kekasihnya itu.


bersambung.


ah ... othor masih 🐟 ya 🤭🤭🤭🤭