
Seluruh undangan telah tersebar. Hari pernikahan di depan mata. Kedua mempelai kini makin banyak melakukan ritual ibadah. Puspita yang merupakan anak pertama. Mengadakan malam inai.
Seluruh tangannya di hias dengan inai. Bukan hanya Puspita tapi sang ibu dan adik iparnya juga.
"Wah, nggak nyangka Uni dapat orang bule. Mimpi apa Uni?' seloroh Aindra adik Puspita.
Gadis itu hanya tersenyum malu. Sungguh jika ia ceritakan awal bertemu pria yang besoknya akan menikahinya itu. Tentu membuat ayahnya berang.
Ia hanya akan menyimpan rapat aibnya. Biar ia saja dan Tuhan yang tahu. Ita, begitu panggilannya. Hanya mengulas senyum.
Sedang di mansion milik Virgou tampak semua berkumpul. Bart tak hentinya menangis. Ia mengingat mendiang adik juga ayah dari cucunya itu.
"Aku selaku kakak dari adikku meminta maaf atas semua penderitaanmu, Nak," ujarnya terisak.
"Sudahlah Grandpa. Jangan ingat itu lagi, aku sudah melupakan juga memaafkannya," sahut Virgou tulus.
"Dad. Besok adalah hari bahagianya. Jangan menangis. Kita harus berbahagia," ucap Frans menenangkan ayahnya.
Rion datang dengan santai menyambangi mereka. Terra, suami dan ketiga anaknya menginap di mansion Virgou.
"Daddy, Benpa penata meyanis?'
"Grandpa kelilipan sayang," jawab Bart asal.
"No, no, no ... benpa panan bolon woh, belbosa!" peringat Rion.
Bart tertawa. Ia langsung memeluk bayi gempal itu. Lalu menciumnya hingga tergelak. Lidya datang langsung menaiki Virgou. Gadis kecil itu memeluk pria besar kesayangannya.
"Daddy ... Iya saayaang Daddy. Daddy baik-baik yaaa," ungkap Lidya sangat tulus.
Pelukan Lidya membuat Virgou tenang. Ia memang sangat membutuhkan pelukan. Ia pun mencium pipi gadis kecil itu. Terra dan Haidar mendatangi mereka begitu juga Darren.
Darren langsung memeluk Virgou. Memberinya pelukan. Pria itu begitu terharu. Sejuta maaf terlontar dari mulutnya.
Setelah Darren melepas pelukannya dan mendatangi Gabriel. Terra memeluk Virgou. Mencium pipi pria itu.
Virgou mengacak rambut Terra, yang langsung cemberut. Ia pun terkekeh. Sampai sekarang. Ia tak tahu kemana semua napsunya untuk Terra. Haidar menyambanginya memberikan pelukan.
Virgou menatap mantan rivalnya dulu. Ia benar-benar terharu dengan kehangatan yang diberikan oleh Terra dan keluarga.
Hari berganti pagi menjelang. Terra sudah mengenakan kebaya modern warna pink selaras dengan putri kecilnya, Lidya dengan rok mengembang. Keduanya sangat cantik. Rambut mereka dibiarkan tergerai.
Sedang para pria memakai baju koko warna navi. Hanya Virgou yang memakai setelan melayu warna putih dengan lilitan sarung kain ulos ala sumatera Barat selutut di pinggangnya. Memakai kopiah.
"Aku lupa potong rambut," ucapnya sambil mengikat sedikit rambutnya yang agak panjang.
Semua telah siap. Mereka masuk ke mobil masing-masing. Frans menyetir untuk Virgou. Mereka meminjam mobil Terra sebagai mobil pengantin.
"Kenapa aku banyak lupa ya?" itu alasannya ketika meminjam mobil Terra.
Sedang Leon menyupiri Bart dengan Jeep putih milik Virgou bersama dengan Gabrielle.
Budiman menjadi supir Terra. Mereka mengendarai Pajero sport merah milik Terra.
Mereka bergerak diiringi bunyi sirine polisi yang mengawal mereka. Tim pengawal juga sudah bergerak.
Hanya butuh waktu setengah jam mereka sampai lobby hotel. Virgou turun dengan gagahnya. Para pria langsung membawa seserahan yang sudah dipersiapkan.
mereka menaiki lift menuju ballroom yang sudah disulap menjadi dekorasi penuh bunga sesuai keinginan Puspita.
Di satu area tempat berlangsungnya akad. Ayah Puspita sudah duduk menunggu. Terlihat ia berkali-kali mengusap air matanya.
Para keluarga menerima seserahan yang diberikan oleh keluarga Dougher Young.
Pria itu duduk di hadapan pria yang notabene adalah ayah kandung dari gadis pujaannya. Sedang keluarga Bart sudah duduk di tempat yang di sediakan. Terra mengusap peluh Virgou. Mengusap bahu pria itu memberi ketenangan.
"Istighfar, Kak. Lalu ucap basmalah," ucap Terra memberi saran.
Wanita itu pun kembali duduk bersama suaminya. Di sana ternyata sudah ada Herman beserta istrinya. Terra duduk diapit oleh suami dan pamannya.
Pengantin perempuan keluar dengan balutan ala Minang. Sangat cantik. Virgou langsung terpana.
"Sudah liatinya. Nanti setelah akad bisa sepuasnya," seloroh penghulu.
"Bagaimana, kalian siap?" tanya penghulu.
"Inshaallah siap!" jawab keduanya bersama.
Air mata Puspita luruh. Ia tak bisa menahan haru. Sang ibu juga sibuk mengusap air matanya juga sang putri.
"Baik, silahkan jabat tangan wali calon istri," titah sang Kadi.
Virgou menjabat erat tangan Basri Hasan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Ananda Virgou Black Dougher Young. Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri kandung saya bernama Puspita Hasan Binti Basri Hasan dengan mas kawin emas mulia dua ratus dua puluh dua gram dan uang dua juta dua ratus dua ribu rupiah dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawin Puspita Hasan Binti Basri Hasan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
satu tarikan napas Virgou mengucap ijab kabul. Tersebut.
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah!" sahut Bram sebagai saksi dari pria dan Aindra sebagai saksi dari wanita.
""Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya."
"Silahkan dipakaikan cincin kawinnya. Istrinya nanti dicium ya tangan suaminya," titah sang Kadi.
Mereka berdua memasang cincin dijari pasangannya. Puspita mencium punggung tangan suaminya. Sedang Virgou mencium kening istrinya. Tidak kena karean hiasan kepala Puspita menghalangi laju bibir pria itu.
"Sabar yaa. Ini ujian. Tunggu nanti malam, baru bebas," kelakar sang Kadi diiringi gelak tawa semuanya.
Baik Virgou dan Puspita hanya tersenyum malu. Terlebih gadis yang baru saja menyandang gelar istri itu. Mukanya memerah laksana kepiting rebus.
Puspita menangis ketika sungkem pada ayah ibunya.
"Nak, sekarang kau harus berbakti pada suamimu. Junjung dia, jaga iman Islamnya, Nak. Titahnya adalah perintah mutlak untukmu, hormati dia jaga kepercayaannya."
Sebuah nasehat panjang lebar diungkapkan dari ayah dan ibu Puspita.
"Nak, Virgou. Sekarang tanggung jawab seorang ayah sudah dilimpahkan padamu sebagai suami putriku. Tolong, jaga dia, lindungi dia dan cintai dia. Tegur ia dengan kelembutan dan cinta. Jangan kau menghardiknya. Karena air matanya adalah air mataku, selaku ayahnya. Jaga jantung kami, ya Nak," pinta Basri dengan linangan air mata.
Bart menangis penuh haru ketika Virgou duduk bersimpuh. Ia menciumi kepala cucunya itu. Bahkan Puspita juga ia cium.
"Berbahagialah kalian," doanya.
Tamu yang hadir memberikan selamat. Entah kenapa Rion tak mau lepas dari pangkuan Virgou. Bayi menggemaskan itu memainkan kalung melati yang dipakai pria itu.
"Daddy, imi pa'a?"
"Bunga melati," jawab Virgou.
Puspita pun gemas melihat Rion. Ia mencubit lembut pipi gembul Rion.
"Puma lelati?" Virgou tertawa.
Lidya pun ingin dipangku oleh Puspita. Terra sampai ingin mengambil dua bayi yang mengganggu pasangan berbahagia itu. Tapi langsung dimarahi keduanya.
Malam pun datang. Pesta sudah usai satu jam yang lalu. Semua kelelahan dan telah tidur di kamar masing-masing.
Tampak dua manusia tengah bersimpuh. Mereka usai shalat isya berjamaah pertama kali sebagai sepasang suami istri.
Virgou yang sudah khatam mengenai urusan ranjang dengan para wanita mendadak kaku dan kikuk. Puspita apa lagi. Ia sangat berdebar menerima sentuhan suaminya.
Akhirnya, sebuah ciuman mengawali percintaan mereka. Betapa perkasanya pria itu menggagahi istrinya. Puspita pun hanya pasrah.
Keinginannya terkabul. Kesuciannya direnggut oleh pria yang ia sukai. Dengan status halal yakni sebagai istri.
bersambung.
tancap gas Vir!
next?