
Setelah memberi perlengkapan sebagai hantaran pernikahan nanti. Padahal Terra tidak ingin ada hantaran segala. Tapi, Kanya bersikukuh ingin membawa perlengkapan hantaran.
"Cincin sudah kalian persiapkan?' tanya Kanya memastikan semuanya sudah tersedia.
"Sudah Ma. Terra yang pegang," jawab Terra.
"Baiklah. Semuanya sudah dibeli. Apa ada yang kurang, atau ada lagi yang ingi kau beli?' tanya Kanya lagi.
Terra langsung menggeleng. Hari sudah beranjak sore. Ia sudah terlalu lama meninggalkan anak-anak. Gadis itu sudah merindukan keluarga kecilnya.
Akhirnya Kanya dijemput oleh sopir pribadinya. Terra melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Menunggu Budiman manyambangi gadis itu di lobby mall.
Kanya mengusir pengawal Terra yang tampan itu. Memastikan keamanan gadis itu bersamanya. Budiman tentu tidak ingin mengikuti kliennya spa dan pergi ke salon bukan.
Sudah ada ponsel canggih ciptaan Darren. Ia tak perlu pusing mengintili gadis yang menjadi kliennya.
Nyaris lima jam ia bersama Kanya. Tubuh Terra terasa lepas dari persendiannya. Budiman muncul dengan mobil Mercedes yang baru beberapa minggu lalu Terra beli.
Gadis itu memilih duduk depan dan memasang kursinya hingga ia bisa merebahkan diri. Budiman menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang.
Butuh waktu setengah jam, untuk ia sampai di rumah. Terra mengucap salam ketika masuk dan dibalas oleh Darren.
"wawatitum salam, Ma," balas Rion.
Terra langsung menciumi tiga anaknya dengan gemas. Mereka semua terkikik geli.
"Mama dali mana syaja, balu pulan?" tanya Lidya serius.
"Mama baru beli gaun pengantin untuk Mama dan baju untuk kalian nanti," jawab Terra.
"Nanti Papa Idal bakalan jadi papa kita benelan Ma?" Terra mengangguk.
"Hole ... punya Papa lagi!" pekik Lidya kesenangan.
"Mama boleh nanya nggak?" tanya Terra hati-hati.
"Tanya apa Ma?" kini Darren yang menanggapi.
"Dulu, almarhum Ayah, baik nggak sama kalian?" tanya Terra.
Darren diam, Lidya berusaha mengingat sedang Rion tidak tahu. Wajah mendung Darren menjawab pertanyaan Terra jika dulu, ayahnya tidak begitu baik perlakuannya pada mereka.
"Ayah baik, Ma. Hanya saja, kami merasa aman jika Ayah ada di sisi kami. Tante Firsha tidak akan menyiksa," jawab Darren lemah.
"Ayah nggak nanyain perlakuan Tante Firsha ke kamu?" tanya Terra lagi.
Darren menggeleng lemah. Ia sangat tahu semua kejadian buruk masa lalu, yang sebenarnya ingin ia lupakan.
Terra langsung memeluk Lidya. Gadis kecil itu tiba-tiba tercenung ketika mengingat kejadian itu.
Terra mengusap lembut kaki kecil itu. Membayangkan pukulan sapu lidi mengenai kaki Lidya. Terra sesak, gadis itu menciumi kaki Lidya.
"Terus, apa lagi sayang. Biar Mama obati satu persatu kesakitan kalian," ucap Terra dengan suara serak.
"Darren selalu mengunci pintu jika Tante Firsha pulang dalam keadaan mabuk. Waktu pertama, Tante Firsha masuk kamar, menarik sprei hingga Rion nyaris terlempar dari kasur ... hiks!'
Terra tak sanggup. Gadis itu tak mau lagi mendengar kisah menyayat itu.
"Lalu malam kedua, juga sama. Dia pulang dan nyaris menindih Lidya dan melemparnya ke lantai karena mengganggu tidurnya. Mulai saat itu, Darren memindah kamar tidak tidur di kamar utama melainkan kamar yang lainnya," jelas Darren lagi.
"Kemudian pernah suatu hari. Ketika Daddy datang ...."
"Cukup!' titah Terra tak tahan.
Darren berhenti. Ia sudah sesak menahan isak yang sedari tadi tersekat di tenggorokannya.
"Mama, sebentar lagi, kita akan punya keluarga yang komplit, ada Papa, juga adik-adik lainnya," ujar Darren.
"Darren hanya minta. Ketika Mama punya anak sendiri nanti. Tolong sayangi kami seperti ini ya, Ma."
Terra memeluk Darren erat. Tubuh pria kecil itu bergetar hebat. Ia menangis di dada ibunya.
"Mama akan berlaku sama dengan kalian. Mama tetap menyayangi kalian selamanya," janji Terra.
Darren bernapas lega. Ia yakin dan percaya janji ibunya itu.
"Darren sayang Mama," ungkapnya tulus.
"Ba bowu, Ma," ungkap Rion.
"I love you, Ma!" Lidya juga mengungkapkan rasa cinta pada ibunya.
"I love all of you, more!" balas Terra kemudian menciumi wajah mereka satu persatu.
bersambung.
Jaga mereka terus Terra.
mereka tidak memiliki siapapun kecuali kamu.
next?