
Waktu berlalu. Hari berganti. Sudah satu bulan Terra menjadi seorang istri. Wanita itu tetap bisa menjalankan semua tugasnya dengan baik.
Baik itu sebagai istri maupun sebagai ibu dari tiga anaknya. Darren, Lidya dan Rion sudah tidak pernah lagi bangun malam. Bahkan Darren telah memiliki kamarnya sendiri.
"Besok ulang tahun Darren, lusanya Lidya. Kalian minta apa dari Mama sama Papa?" tanya Haidar dengan luapan kasih sayang.
"Iya eunda mau apa-apa. Iya puma mau dadhi pinces," jawab Lidya.
"Itu sama aja, kamu minta, Iya," saut Darren sambil memutar matanya malas.
Lidya cemberut. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Terra langsung menenangkan gadis kecilnya itu. Sedang Rion tengah berguling di kasur kakaknya yang spreinya baru dibeli oleh Haidar.
Pria kecil itu ingin dekorasi tokoh Marvel. Haidar baru membelikan meja belajar, lemari pakaian juga tempat tidur berseprai tokoh fantasi dari negeri adidaya itu.
"Mama, Ion mo puma pentat pidul beldili," pinta bayi itu sambil melompat.
Hap!
Terra menangkap bayi montok itu. Bibirnya tak berhenti menggelitiki Rion hingga tergelak.
"Baby mau punya tempat tidur sendiri?" tanya Haidar.
"Mama ... cuhdah ... wakakakakak!" Rion masih tergelak karena Terra gemas dengan bayi itu.
Sedang Lidya tak mau kalah. Ia juga mau digelitiki oleh ibunya. Terra pun melakukannya dengan senang hati. Walau harus bertengkar dengan Rion. Bayi itu mendorong kakaknya hingga menangis.
"Baby ... jangan kasar sayang. Nggak baik," tegur Haidar.
"Huuuwwaa ... Papa bahat!" pekik Rion menangis.
Darren hanya bisa menghela napas panjang. Ia pun mengatakan sesuatu.
"Baby juga jahat sama, Iya."
Rion tiba-tiba berhenti menangis. Bayi itu menatap kakak perempuannya yang bersedih. Rion pun bangun dari pangkuan ibunya, lalu memeluk sayang Lidya.
"Mamapin Ion ya Atak Iya ... srut ..." ucap Rion sambil menarik ingusnya.
Lidya mengangguk sambil menghapus air matanya. Ia pun membalas perlukan Rion. Terra dan Haidar mengulas senyum.
"Sini, Kakak Iya sama Papa aja," ucap Haidar.
"Emba boweh ... Ion mawu ama Papa," Bayi itu langsung melompat ke arah ayahnya.
Haidar menangkap tubuh gembul bayinya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Rion tergelak.
Terra meraih tubuh Lidya dan menciuminya. Gadis kecil itu senang. Darren pun ikut bergelayut manja pada keduanya.
Terra sudah mengundang seratus anak yatim di lokasi yang berbeda dari yang kemarin. Ia sudah menyiapkan bingkisan untuk seratus anak yatim-piatu tersebut.
Ruangan disulap menjadi dua dekorasi pesta. Tokoh Marvel juga Frozen. Lidya pun sudah dibelikan baju princess-nya kemarin, sedang Darren hanya memilih baju kemeja coklat dan celana panjang bahan kain warna hitam.
Terra memesan jasa catering dengan menu internasional. Bart dan lainnya akan datang setelah ashar, usai acara anak-anak yatim-piatu.
Terra menggelar acara usai shalat dhuhur. Hari ini hari sabtu. Darren pulang sedikit lebih cepat. Pria itu dikawal oleh Dahlan. Sedang Budiman tengah memeriksa barang bawaan catering juga manusia robot di depan.
Rion dan Lidya tengah tidur siang. Mereka tidak bisa mengikuti acara pesta mereka karena sudah lelah bermain tadi pagi.
Darren berganti pakaiannya. Setelah itu baru bergabung bersama anak-anak panti.
Usai menggelar doa, anak-anak itu makan makanan yang telah disediakan. Usai makan mereka pun pulang membawa bingkisan yang diberikan oleh empunya acara.
"Ma, Darren rebahan sebentar ya. Cape," ucapnya kelelahan..
Terra mengusap dahi putranya. Sedikit hangat.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu, sayang," ujar Terra.
Darren pun pamit pada Haidar. Pria itu mencium kening putranya sayang.
Bram membawa Kanya, Karina dan Raka. Berikutnya Bart dan keluarga pun datang. Mereka langsung masuk membawa banyak hadiah.
Bart membawa rumah boneka Barbie dengan segala isinya. Virgou membawa satu unit mobil golf untuk Darren.
Leon membawa hadiah satu set series boneka Barbie. Sedang yang lain membawa hadiah masing-masing.
Lidya dan Rion sedang dimandikan oleh Terra. Nampak gelak tawa terdengar dari luar. Haidar menyuruh Terra menyegerakan kegiatannya.
Lidya dipakaikan baju princess-nya sedang Rion memilih baju kodoknya.
Acara berlangsung hangat. Herman juga datang membawa hadiah untuk dua kemenakan lucunya itu.
"Mo banyi!" pekik Rion sambil memegang mik.
Semua tersenyum lebar. Bayi itu pun menyanyikan lagu.
"Pelamat mumat pahun ... lami pucap tan ... pelamat pawang bubul pita tan boa tan ... pemamat betah perah pehat pentosa ... pelamat papan bubul ban dahadia!"
bersambung.
barakallah fii umrik Kakak Darren dan kakak Iya ... Rion ... ba bowu
next?