TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN RAKA 2



Hari berlalu. Kini, Karina menahan tangisnya saat Raka bersimpuh meminta restunya. Begitupun gadis cantik yang ada di sisi putranya, Kamila Irawan. Gadis itu begitu cantik dengan balutan kebaya modern warna putih keperakan.


Ya, Raka baru saja resmi menjadi seorang suami. Terra menangis haru. Ketika Raka memeluknya dan masih memanggilnya, "Mama Teya.", bahkan Lidya begitu terharu melihat kakaknya kini telah membina kehidupan baru.


"Selamat ya kak. Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.!"


"Makasih Dik. Semoga kamu juga dapat jodoh yang terbaik dan mencintai kamu apa adanya," sahut Raka lalu memeluk erat pengobat hatinya itu..


Kamila sangat tahu arti Lidya di hidup Raka, pria yang telah menjadi suaminya ini. Pria itu menceritakan semua kehidupannya. Karmila atau biasa dipanggil Mila, juga memeluk gadis itu. Benar saja, ia merasakan yang apa Raka katakan.


"Oh, beruntungnya laki-laki yang akan menjadi suamimu, Dik," sahut Mila mengeratkan pelukannya pada Lidya.


"Kamu mau nggak sama adikku. Adikku udah dokter loh," lanjutnya sambil mempromosikan adiknya.


Lidya menggaruk keningnya. Haidar langsung memasang wajah datar. Raka mencolek istrinya dan berbisik.


"Awas, kamu harus melewati Papa."


Mila menatap pria yang memandangnya horor. Itu baru Haidar sedang di belakang pria itu. Sosok beriris biru juga menatapnya seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Hei, haruskah macet seperti ini. Aku sudah lapar!" teriak Virgou malu-maluin.


Semua tamu menatap pria tampan dengan sejuta pesona itu. Virgou pun menatap para tamu yang memandangnya dengan datar.


"Kenapa. Memang ada di sini yang memberi selamat langsung pulang? Tidak kan?" sahutnya menyindir.


Terra memutar mata malas'. Sedang Herman juga sudah mulai cerewet. Usai sesi foto keluarga. Semuanya pun menuju ruang VVIP. Di sana sudah ada kedua mertua Terra dan keluarga mempelai wanita. Aura arogan juga dingin Virgou, membuat semua keluarga pihak mempelai wanita takut mendekati. Terra sampai memukul gemas kakak sepupunya itu.


Dav langsung duduk dan mengambil makanan. Pria tampan satu itu juga kelaparan. Ia sengaja tidak sarapan. Semua pun mengambil tempatnya. Anak-anak dibiarkan bermain bersama yang lain.


"Wah, mereka banyak sekali ya," sahut salah satu kerabat mempelai wanita.


"Jelas dong, karena kami ingin memenuhi surga dengan anak-anak kami!" ketus Herman tak mau kalah.


Virgou langsung men-tos dengan Herman. Haidar ikut terkekeh. Sedang Bart hanya diam saja. Ia malas beradu debat dengan orang-orang tak penting.


Usai makan, Herman sudah tidak betah. Ia langsung mengajak pulang anak dan istrinya.


"Aku kan tidak begitu akrab. Jadi aku pulang duluan ya," ujarnya pamit.


"Tunggu. Aku ikut!' seru Virgou.


Tiba-tiba Karina datang bersama dengan Zain cukup kaget melihat keluarga Terra sudah mau pergi.


"Loh, ayah mau kemana?" tanya Zhein heran..


"Aku gerah ada di sini," jawab Herman.


Zhein bukan tidak mengerti. Memang, keluarga besannya itu sedikit unik. Yaitu, memamerkan kekayaan mereka yang bisa dihitung dengan kalkulator itu.


"Sudah, Yah. Biarkan saja. Maklum, mereka belum lihat uang ayah yang sekamar itu," ujar Zhein ikut meledek kerabat besannya itu.


"Ah iya aku sampai lupa akan hal itu," ujar Herman akhirnya duduk kembali.


Virgou pun menyelesaikan makannya. Pria itu duduk santai sambil mengawasi anak-anak walau pun sudah ada Rion, Darren dan juga Lidya di sana bersama adik-adik mereka.


Terra hanya memutar mata malas.


"Jangan sombong dengan apa yang kita miliki. Sekali Allah ambil, baru tahu rasa!' celetuk Terra cukup keras dan terdengar oleh para kerabat sombong itu.


Karina dan Zhein terkekeh dan mengangguk setuju. Mereka akhirnya bercengkrama dan saling bercerita. Dua jam mereka berada di pesta pernikahan itu. Kemudian mereka pun pamit undur diri. Pulang ke rumah masing-masing.


Raka menatap istrinya penuh cinta. Mila yang ditatap dengan penuh pemujaan oleh suaminya, tersenyum malu.


"Mas!" panggilnya merajuk.


Raka terkekeh. Ia memang sangat mencintai gadis itu. Hanya Karmila yang menerima masa lalunya sebagai autisme. Walau dirinya sudah sembuh total dan tidak akan menuruni penyakitnya pada semua keturunannya.


Tetapi, semua gadis yang pernah ia sukai mundur teratur bahkan ada yang sampai menghinanya. Raka sengaja menyembunyikan identitasnya sebagai CEO. Ia menyamar sebagai karyawan biasa di perusahaan ayahnya sendiri.


"Apa yang Mas, lamunkan?" tanya sang istri lembut sambil mengusap pipi suaminya.


Raka mengambil tangan istrinya dan mengecupnya mesra.


"Aku mengingat pertama kali melihat mu," jawabnya.


Karmila menunduk malu. Saat itu ia bekerja sebagai staf akuntansi di perusahaan yang sama dengan suaminya. Sampai sekarang ia belum tahu jika atasannya adalah suaminya sendiri.


"Kau sungguh galak waktu itu, dan aku sempat takut," sahut Raka sambil terkekeh.


Mila merajuk. Wanita itu mencubit mesra tangan suaminya. Raka pura-pura meringis sakit. Gadis itu langsung merasa bersalah dan langsung meminta maaf.


"Tidak apa sayang," ujar Raka lalu mengecup kening istrinya.


Mila tentu sangat tahu, bagaimana ia beradu argumen dengan pria yang menjadi suaminya saat ini. Walau ia yang salah paham. Gadis itu sangat malu.


Perjuangan panjang meyakinkan kedua orang tuanya, jika ia dan Raka memiliki hubungan serius. Bahkan ketika tahu jika Raka pernah mengidap Autisme.


Raka sempat mundur teratur ketika ayah sang gadis menolak keras dirinya. Bahkan statusnya yang hanya sebagai karyawan biasa. Mila memang hanya menjabat sebagai staf akunting. Tetapi, kedua orang tuanya cukup kaya dan kerabatnya itu merupakan pengusaha. Walau pun pengusaha mereka tak sebesar perusahaan yang Raka miliki.


"Sayang, pesta semewah ini, kita nggak utang kan?' tanya Mila kesekian kalinya.


Raka tersenyum lebar. Memang sampai saat ini, ia belum memberitahu siapa dirinya. Hanya beberapa karyawan saja yang tahu dia CEO.


"Tidak sayang, jangan khawatir," jawab Raka.


Raka sangat ingat betapa Om, Tante dan sepupu-sepupu istrinya sudah mewanti-wanti dirinya.


"Pokoknya, kami tidak mau jika selesai pesta ini tiba-tiba kami ditagih utang oleh debt kolektor!"


Semua masih memandang rendah dirinya. Hingga waktu pengenalan tiba. Nugie, Kakek Raka mulai memperkenalkan dirinya setelah para kerabat dari pihak mempelai wanita bersombong ria.


"Selamat pagi menjelang siang semuanya. Perkenalkan nama saya Nugie Wijaya, saya adalah kakek dari Raka Putra Wijaya!" semua langsung heboh.


Siapa yang tidak mengenal Nugie Wijaya. Seorang pengusaha yang cukup terkenal. Bahkan ia juga bebesan dengan Bram Hovert Pratama.


Kini, semua kerabat yang sombong itu hanya menutup mulut mereka rapat-rapat. Tak.ada lagi ocehan berapa limit yang mereka harus habiskan.


"Mas adalah CEO perusahaan tempat ku bekerja?" tanya Mila kini terkejut.


Raka merapatkan tubuhnya. Membisikkan kata cinta oada istrinya. Mila sampai memerah mukanya karena malu dan bahagia secara bersamaan. Ia juga sangat mencintai Raka.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas Raka," balasnya sambil berbisik mesra.


bersambung.


selamat menempuh hidup baru Raka ...


next?