TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
BEDANYA PENGAJAR DAN PENDIDIK



Bu guru pulang dalam keadaan hati gelisah. Ia tahu perbuatannya tadi kurang layak bagi seorang guru.


Dengan menggunakan motor. Ia pun pulang ke rumah. Sang suami ternyata sudah pulang juga. Suaminya adalah kepala sekolah di sebuah sekolah menengah pertama negeri.


"Assalamualaikum," salam Riana.


"Wa'alaikumusalam, Bu," balas salam Dito.


Riana mencium punggung tangan suaminya. Pintu dibuka oleh mbak Pur, pekerja yang mengasuh anak tunggal mereka. Ketika suami istri itu pulang maka, mba Pur pulang ke rumahnya.


"Bu ... sa' ya pu'lang du'lu," pamit mba Pur dengan suara gagunya. "A'ssalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumusalam!" sahut keduanya.


"Hati-hati dan terima kasih ya, Mba!" ujar Riana.


"I'ya Bu!"


Wanita berusia tiga puluh tahun itu pun pergi dengan sepeda ontelnya. Fisik mba Pur yang cacat membuat wanita itu tak bisa bekerja berat. Tetapi, ia sangat telaten dan jujur dalam bekerja.


"Kenapa, kok mukanya ditekuk terus dari tadi Bu?" tanya sang suami setelah makan siang.


Kini, Dito tengah bermain dengan putranya yang baru berusia delapan bulan. Riani hanya menatap suaminya dengan pandangan sendu.


"Pak, tugas guru yang paling utama itu apa sih?"


"Semestinya ya mendidik, dari mendidik kita bisa mengajari murid Budi pekerti luhur dan menjadi pribadi mandiri. Kenapa?"


Riani menceritakan permasalahannya tadi. Dito mendengar secara seksama. Pria itu tak menyela sedikit pun hingga istrinya selesai mengungkap permasalahannya.


Riani mengambil bayinya dari pangkuan sang suami. Bayi laki-laki itu mulai rewel. Wanita itu pun masuk kamar untuk menyusuinya. Dito ke kamar setelah memastikan pagar sudah digembok dan ia pun menutup pintu dan menguncinya.


Riani meletakkan bayinya dalam box ketika Dito masuk kamar. Pria itu membuka seragamnya. Mereka berdua pun mengganti baju mereka dan menuju ranjang mereka.


"Ibu merasa bersalah dengan Lidya dan Putri, Pak," ujarnya penuh dengan kekecewaan.


"Berarti ibu mesti minta maaf besok pada keduanya. Bawakan mereka kue bolu kukus buatan Ibu, sebagai permohonan maaf, berikan juga pada Nina," sahut Dito lalu merengkuh kepala sang istri ke dadanya.


"Bu, sebagai guru tugas kita bukan hanya mengajar saja. Tetapi kita juga mendidiknya. Seperti kata Bapak barusan," lanjutnya.


"Iya, Pak. Ibu jadi seperti ibu yang mengabaikan keadilan anak-anaknya tadi. Ibu sebenarnya tidak ingin terlalu mencampuri masalah anak-anak. Ibu hanya mau mengajar saja. Cukup!' jelas Riani dengan tatapan menerawang.


"Tetapi, perkataan Lidya begitu menekan Ibu. Gadis kecil itu begitu berani mengatakan kebenaran bahkan memilki dasar bukti yang kuat. Ia pun tak takut diancam oleh Ibu," jelasnya lagi.


"Berarti ananda Lidya mengajari Ibu perihal membela kebenaran," sahut Dito lalu mengecup pucuk kepala sang istri.


Riana mengangguk. "Bahkan, Ibu memaksa Putri menerima perlakuan kasar Nina tadi."


"Kalau begitu, Ibu benar-benar harus minta maaf dengan keduanya. Lalu mendamaikan Nina dengan Lidya dan Nina harus meminta maaf pada Putri," ujar Dito memberi saran.


Riana mengangguk setuju atas saran dari suaminya. Kini sepasang suami-istri itu pun berpelukan mesra, dan terlelap hingga sore menjelang.


Sementara itu di rumah lain. Terra memandangi wajah putrinya yang lesu semenjak pulang sekolah. Tidak seperti biasanya.


"Sayang, kamu kenapa?' tanya Terra lembut.


"Sayang, kamu kenapa sedih?" ia pun memeluk Lidya.


Sedangkan Rion tengah bermain dengan adik-adik kembarnya. Darren belum pulang dari kuliah ia mendapat mata kuliah tambahan hari ini.


Lidya menceritakan apa yang terjadi hari ini pada ibunya. Terra mendengarkannya dengan seksama.


"Apa salah jika Iya, kasar sama Nina tadi, Ma?" tanyanya penuh penyesalan.


Terra mengulas senyum. Ia sangat paham dan menempatkan dirinya di posisi Lidya. Sebagai manusia yang tahu rada syukur, tentu akan marah jika seseorang melempari makanan dengan sampah. Walau terlihat sampah itu bersih, tapi tetap saja sampah.


Lidya marah karena sikap tak terpuji salah satu temannya itu. Bahkan ia pun membela Putri dan dirinya ketika tersudutkan,


"Sebenarnya, Iya tidak salah, tapi juga tidak benar," ujar Terra. "Sini, Mama pangku!"


Ia pun mendudukkan Lidya di pangkuannya. Gadis kecilnya sudah tambah berat. Terra mencium gemas pipi gadis kecilnya.


"Lidya benar karena membela Putri tetapi salah karena marah dan membalas perbuatan Nina," jelasnya kemudian.


"Iya, cuma ingin Nina merasakan bagaimana jika makanannya berubah menjadi sampah!" serunya kesal.


Terra tertawa melihat wajah putrinya yang marah. Wajahnya dingin dan datar. Entah kenapa, rupa dari Haidar membayang di wajah Lidya yang marah.


"Kamu kayak Papa kalo marah!" cetus Terra.


"Bukan kayak Daddy atau Ayah?"


"Kalo Daddy marah persis Rion. Tetapi, entah ya, sepertinya, kalo Ayah yang marah lebih mirip Kak Darren. Menggunakan ilmu dan nalarnya," jawab Terra terkekeh geli.


"Begini sayang. Jika ada temanmu berbuat tak terpuji lagi, tegurlah ia dengan baik. Tetapi, jika dia menolak untuk ditegur. Maka laporan dia pada kepala sekolah. Bukankah Bu Rismala itu sangat tegas?" Lidya pun mengangguk membenarkan.


"Besok, kamu ganti rotinya Nina dan meminta maaf," Titahnya kemudian.


"Kalau Ninanya tambah ngelunjak?"


Terra tertawa. Ia pun mencium lagi pipi putrinya hingga kemerahan. Lidya sampai merengek.


"Mama!"


"Maaf, sayang. Kamu menggemaskan soalnya."


"Kalau dia ngelunjak ya terserah Lidya mau diapain. Mama mendukung apa pun tindakanmu," sahut Terra. lagi.


"Dengarkan Mama lagi!" Terra memeluk erat putrinya.


"Seorang guru itu tugasnya bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik. Ia layaknya orang tua pengganti. Di sekolah, gurulah yang berperan penuh dalam membentuk karakter bangsa. Dengan Mendidik ia juga akan mengajar. Tapi, jika hanya mengajar, dia tidak akan mendidik apa pun pada anak-anak muridnya," jelas Terra lagi. "Maka tugas orang tua kembali mendidik anak-anak agar terbentuk menjadi anak yang berbakti Nusa dan bangsa juga agama."


Lidya paham. Ia akan menuruti apa kata ibunya. Meminta maaf pada Nina. Jika temannya itu berulah. Ia tidak akan mau berteman dengan manusia macam Nina.


bersambung


Seorang pendidik sudah pasti bisa mengajar, namun seorang pengajar belum tentu bisa mendidik. Seorang guru dituntut untuk dapat melakukan keduanya; mengajar dan mendidik. ... Pengajar yang berasal dari kata ajar dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya petunjuk kepada orang supaya diketahui (dituruti). sumber Google.


next?