
"Ini sudah waktunya. Kita berangkat sekarang?" ajak Didi menatap Budiman.
Pria itu berdiri. Mereka berdua melangkah keluar rumah. Aura kelam langsung menguar dari tubuh pria kecil itu, Budiman bisa merasakannya.
"Kau akan menjadi orang besar dan berpengaruh suatu saat nanti" puji Budiman dalam hati.
Didi melangkah lebih dulu. Pria kecil itu tak sabaran ingin menumpahkan semua kekesalannya karena telah dibohongi.
Di sebuah tempat sedikit sepi. Nampak sosok ber-hoodie abu-abu tengah berdiri menunggu. Didi menyambangi orang itu.
"Mba!" panggilnya dengan suara cukup keras.
Orang itu menoleh. Budiman sengaja bersembunyi. Pria itu masih ingin menyelidiki lebih lanjut, maksud dari wanita tersebut.
Leana menoleh. Menatap datar bocah pesuruhnya. Sebenarnya ia tidak suka berinteraksi dengan kasta rendah macam Didi ini. Tapi, untuk sebuah misi. Perempuan itu terpaksa menggunakan jasa bocah lugu itu.
"Apa kau sudah melakukan apa tugasmu?" tanya Leana.
"Sudah," jawab Didi singkat.
"Kau tak bohong kan? Kau tahu bohong itu dosa. Kamu telah menipu Tuhanmu!"
Sebuah ancaman yang sangat bagus untuk bocah selugu Didi. Anak baik itu tentu tidak mau menipu Tuhannya sendiri. Didi tadinya sedikit takut. Tapi, kejadian yang barusan ia dapati mengajarkan sesuatu agar tidak langsung mempercayai sesuatu sebelum mengetahui kebenarannya secara menyeluruh.
"Kenapa? Mba nggak percaya?" tanya Didi langsung.
"Oke, aku percaya. Kau kan sudah bersumpah atas nama ibumu yang penyakitan itu," jawab Leana asal.
"Apa maksud Mba?' tanya Didi gusar.
"Ah ... emm ... maksudku tuh ibumu yang sakit-sakitan!" ralatnya gugup.
'Duh nih, mulut nggak bisa dijaga. Bisa berabe ni bocah kalo ngambek!' gerutunya dalam hati.
"Saya mau mundur dari semua ini, Mba. Ibu saya sedang sakit parah, saya harus menjaganya. Jadi mulai besok saya tidak bisa membantu Mba lagi!' ucap Didi tegas.
"Apa! Jangan seenaknya gitu dong Lo!" teriak Leana tidak terima.
"Loh kenapa tidak?" tanya Didi acuh.
"Eh ... kamu nggak bisa gitu, kalo nolong orang itu harus keseluruhan," lagi-lagi Leana meralat kata-katanya.
"Maaf, Mba. Saya nggak bisa. Ibu saya jauh lebih penting dari nolong Mba!" tolak Didi.
Pria itu melangkah meninggalkannya. Leana memutar otak agar bocah itu terus membantunya.
"Apa kamu tega membiarkan suami Mba tinggal dengan pelakor!" Didi berhenti melangkah.
"Aku tahu, kamu pernah terluka karena ayahmu memilih wanita lain dari pada ibumu. Jika kau ingin membalas semua kelakuan Ayahmu. Sekarang saatnya kau lakukan itu," bujuk rayu Leana.
Jika Leana mengira caranya memutar kata akan berhasil menjerat Didi. Kali ini, Didi jadi jauh lebih pintar lagi memutar balik menyerang Leana.
"Tapi, suami Mba bukan Ayah saya. Jadi bukan urusan saya."
Telak! Leana tak bisa berkata apa-apa. Ia pun marah.
"Hei bocah miskin! Lu mau duit berapa dari gue?' tanya Leana angkuh. "Seratus ribu? Dua ratus? Atau satu juta?"
"Gue bayarin sekalian buat beli nyawa cadangan ibu Lo!"
"Maksudnya apa ya?" tanya Didi tak mengerti.
"Nyawa ibu Lo kan ada di tangan gue sekarang. Kalo Lo nggak bawa uang dari gue. Lo mau ngobatin ibu Lo pake apa?" tanyanya sinis.
"Ibu saya baik-baik saja, tanpa uang dari Mba!' tukas Didi tegas.
"Lu yakin? Nggak mau duit dari gue?" tanya Leana lagi.
Perempuan itu mengeluarkan dua lembar uang bergambar proklamator. Ia mengibas-ngibaskan lembaran uang itu ketika mendekati Didi.
"Sebenarnya, apa maksud Mba meneror pria itu?" tanya Didi. Ia masih belum tahu jika pria yang dimaksud adalah pria yang kini bersamanya.
"Itu bukan urusan Lo!' saut Leana cuek sambil terus memainkan lembaran uang itu.
"Kalau begitu. Silahkan Mba lakukan sendiri. Karena itu juga bukan urusan saya," tukas Didi tegas lalu ia melangkah.
"Tunggu!" teriak Leana. Didi berhenti.
"Oke gue kasih tau. Gue itu kesel ama orang itu. Dia seenaknya mutusin gue. Gue anak dari pengusaha ternama, model papan atas, masa diputusin sama cecurut kek dia!" ujarnya penuh dengan nada penghinaan.
"Gue mau itu gue yang mutusin dia!" lanjutnya.
Didi tak percaya.
"Hanya karena masalah sepele seperti itu Mba juga melakukan drama ini?"
"Maksud Lo?"
"Budiman itu bukan suami Mba kan?" Leana terkisap ia tersadar jika ia baru saja keceplosan.
"Mba yang ternyata berbohong berarti Mba yang berdosa!" tuduh Didi tanpa pengampunan.
"Eh ... maksud gue ...."
"Leana!"
Sebuah suara besar yang Leana kenali. Wanita itu menoleh. Budiman dengan pakaian compang-camping. Pria itu belum membuka samarannya.
"Bu-budi!" Leana membelalakkan mata menatap pria tampan yang kini berpakaian mengenaskan.
Setelah sekian lama ia menatap Budi. Perempuan itu pun tertawa terbahak-bahak. Saking kerasnya tertawa hingga ia terbatuk.
"Aduh ... uhuk ... uhuk ... kamu nggak lagi becanda kan?' tanyanya geli sambil menatap remeh Budiman.
"Katanya kamu kerja di perusahaan bonafit. Tapi, kenapa tampilanmu seperti gembel begini?" lanjut Leana bertanya masih memandang rendah Budiman.
Pria itu pun mengikuti alur drama. Ia menatap sedih perempuan yang dulu selalu memanfaatkannya itu.
"Aku dipecat, sayang," ujarnya berbohong.
"Apa katamu. Sayang?" tanya Leana penuh selidik.
"Iya, setelah aku pikir-pikir kita ternyata adalah pasangan sejati. Kau masih mencintaiku. Buktinya kau menyuruh bocah ini untuk menggangguku. Iya kan?''
Budiman nyaris muntah dengan drama yang diciptakannya sendiri itu.
'Kok aku jadi seperti Tuan Baby yang bisa bikin drama gini, ya?' gumamnya bermonolog dalam hati.
"Benar kan dugaanku. Kau masih mencintaiku!?"
Leana memandang jijik pria yang dulu pernah selalu ada untuknya. Walau sebenarnya ia hanya memanfaatkan kepolosan pria itu.
"Tidak ... mana sudi aku bersamamu jika kau begini!" pekik Leana kemudian.
Perempuan itu beranjak ingin pergi. Namun, baru beberapa langkah, Leana berhenti sambil memegang keningnya. Tiba-tiba ia pun terjatuh tak sadarkan diri.
"Leana!"
Tiga suara meneriaki namanya. Budi mengernyit. Ia pun menoleh asal suara.
bersambung.
nah loh ... kenapa tuh Leana? and siapa tiga orang itu?
next?