
Hari senin, Terra berniat ke kantor. Kemarin, ia sedikit adu argumen dengan Haidar perkara mobil. Walau argumen itu akhirnya dimenangkan oleh Haidar tentunya. Pria itu akan menjemputnya. Seperti pagi-pagi sekali, pria itu sudah sampai di teras dan mengobrol dengan Budiman.
"Tuan Haidar dan Tuan Budi, disuruh masuk buat sarapan," ujar bi Ani sambil membungkuk hormat.
Dua pria itu masuk ke dalam. Semenjak bekerja dengan Terra bobot tubuh Budiman jadi naik secara signifikan. Bahkan para tim juga merasakan, bila tubuh mereka sudah mulai berat. Bik Ani membawa satu kantung besar berisi dua puluh lima kotak nasi goreng. Padahal, bukan tanggung jawab Terra untuk memberi makan orang-orang itu. Hanya makan siang saja, jika bukan hari libur, mereka akan makan sendiri.
Kini Budiman dan Haidar berada di meja makan. Terra mengambil makanan untuk Haidar, kemudian juga Budiman. Waktu awal Haidar protes, tapi jawaban Terra membuatnya bungkam.
"Kak Budi sudah kuanggap Kakakku sendiri. Jadi sebagai adik, apa salahnya jika aku melayani Kakakku?"
Budiman merasa tersanjung. Ia benar-benar merasa memiliki keluarga bekerja di tempat kliennya ini. Mengingat awal ia sedikit keberatan mendapat tugas menjaga anak perempuan remaja.
Dalam pikirannya, anak remaja biasanya manja, terlebih anak orang kaya. Ia selalu merasa kesulitan jika bekerja mengawasi remaja, terlebih perempuan. Banyak kliennya yang menggoda dirinya waktu itu.
Namun, ketika ia membaca file gadis bernama Terra dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. Pria itu sedikit bingung.
Bukan ranahnya ia bertanya perihal kehidupan pribadi calon kliennya. Siapa sangka ketika awal bertemu ia dikejutkan banyak hal.
Kliennya bisa bela diri dengan keahlian master. Menguasai IT. Bahkan memiliki hati yang baik, juga sangat perhatian.
Usai sarapan mereka pun berangkat ke kantor. Ketiga anaknya ikut. Semenjak kejadian ular itu, Terra tidak mau lagi meninggalkan anak-anaknya di rumah.
Seperti biasa Budiman menjadi supir, Haidar akan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi online.
Sampai di sebuah gedung tinggi menjulang. Terra mengeluarkan stroller. Menaikan Rion dan Lidya di sana. Sedang Darren menggandeng tangan ibunya. Budiman mengikuti Terra, sampai depan lobby. Mereka disambut oleh Rommy juga Aden.
Semua karyawan berbaris menyambut mereka. Dua balita di dalam stroller bertepuk tangan melihat orang-orang berbaris rapi.
Aden menjelaskan apa saja agenda Terra hari ini. Sedang Rommy menjelaskan siapa saja yang akan datang untuk melakukan kerja sama.
"Mana resepsionis?" tanya Terra.
Sosok wanita berbalut busana ketat dengan rok mini datang menghadap. Riasan muka wanita itu begitu tebal, hingga membuat Rion menangis melihatnya. Sedang Lidya ikut takut.
"Mama, Iya tatut ada badut," cicitnya dalam stroller.
Wanita itu jadi salah tingkah ketika dirinya dikatai badut. Semua karyawan yang mendengarnya pun menahan tawa.
Terra menggendong Rion dan menenangkan bayi itu. Entah mengapa tangannya menjulur ke arah Budiman. Terra menyerahkan bayi montok itu pada bodyguardnya.
Dengan sigap, Budiman mengambil Rion dari gendongan Terra. Bayi itu langsung menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher tegap pria itu sambil terisak.
"Lain kali, pakailah riasan natural. Dan ganti bajumu. Ini kantor, bukan klub malam," tegur Terra pada resepsionis.
Wanita itu mengangguk.
"Oh ya, nanti ada dua wanita bernama Ani dan Romlah. Bawa mereka ke ruangan saya, ya!' titahnya yang ditanggapi anggukan oleh resepsionis itu.
Terra, Darren, Rommy, Aden dan Budiman yang sedang menggendong Rion berjalan menuju lift khusus.
Ketika pintu lift tertutup, mereka yang berbaris membubarkan diri. Tampak, resepsionis yang ditegur tadi menghentak kaki kesal.
"Gue udah cantik kek gini, dibilang badut. Dasar Boss buta!" runtuknya kesal.
Sebagian karyawan yang mendengarnya menggerutu hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Lu coba aja ngaca, emang lu kaya badut," ejek rekannya.
Sedang di dalam ruangan, anak-anak sudah berada di lantai beralas karpet tebal. Terra sengaja menciptakan ruangan bermain untuk anak-anak. Budiman langsung mengamati ruangan Terra. Memeriksa semua celah yang ada bahkan celah udara di atas pintu ruangan pun tak luput dari pemeriksaannya.
Rommy sudah menyerahkan tumpukan kertas yang harus Terra baca dan pelajari. Rommy menjelaskan apa saja yang tidak begitu Terra mengerti.
Pukul 10.11. Terra mengamati jam di lengan kirinya. Mestinya, Bik Romlah dan Bik Ani sudah sampai. Ia menatap CCTV. Sepertinya mereka tertahan di resepsionis karena tidak ada orang yang menunggu di sana.
"Mama mau kemana?" tanya Darren..
"Darren di sini dulu, ya. Mama mau jemput Bik Romlah sama Bik Ani," ujarnya lembut.
Budiman yang tau gelagat kliennya, hanya menunduk hormat menjalankan perintah untuk menjaga anak-anak.
Terra turun dengan lift khusus. Gadis itu langsung mendatangi Romlah dan Ani yang menunggu di lobby.
"Bik!' panggil Terra.
"Non," saut mereka berdua.
"Bibik langsung menuju lift sana ya. Sebentar," Terra mencari seseorang karyawan untuk mengantarkan dua wanita sederhana itu ke ruangannya.
"Kamu, sini!" panggilnya.
Seorang cleaning servis datang menghampiri.
"Saya, Nona."
"Tolong antarkan dua wanita ini langsung ke ruangan saya, ya. Di sana sudah ada anak-anak," titah Terra yang langsung dikerjakan oleh CS tersebut.
Romlah dan Ani mengikuti cleaning servis ke sebuah lift yang tadi Terra pakai. Sedangkan gadis itu menunggu di tempat resepsionis berada.
Lima belas menit sudah kepergian Romlah dan Ani. Tapi, entah kemana wanita yang dikatai Lidya badut ini berada. Sedangkan waktu makan siang belum datang.
Rommy dan Aden berlari mendatangi Terra. Mereka mengatakan bahwa direktur perusahan Morto Tech akan datang. Mereka pun bersiap-siap.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan teras lobby perusahaan. Sosok pria berusia tiga puluhan turun dari kursi depan dan membuka pintu penumpang.
Sosok wajah tampan berusia empat puluhan, muncul dengan. aura dinginnya. CEO ala novel muncul. Arogan, dingin, datar dan mengintimidasi.
"Selamat pagi menjelang siang Tuan Samhadi. Selamat datang di perusahaan kami," sambut Rommy yang hanya ditanggapi anggukan oleh pria datar itu.
"Perkenalkan ini CEO kami, Nona Terra Arimbi Hudoyo," ujar Rommy lagi memperkenalkan Terra.
Samhadi menaikkan alisnya. Menatap sosok cantik dengan balutan formal sederhana, tidak ada branded terkenal dan mewah yang dipakai gadis itu.
Netranya menatap mata Terra yang memandangnya begitu tenang. Samhadi menaikan sebelah bibirnya.
Sebuah tangan terjulur ke arahnya. Ia membalas dan mengeratkan tangan ketika berjabatan. Siapa sangka jika Terra ikut menguatkan genggaman tangannya pada pria itu.
Samhadi melepas tangannya yang kini sedikit perih.
'Gadis kecil ini, tidak bisa dianggap remeh,' gumamnya dalam hati.
Mereka pun berjalan menuju ruang meeting. Pria itu masih membaca gadis CEO yang berjalan di sampingnya. Tak ada pembicaraan yang berarti.
Namun.
"Kak, tolong urus pekerja resepsionis. Pecat dia!"
Sebuah suara penuh ketegasan dengan aura kepemimpinan. Tak bisa dianggap remeh oleh Samhadi.
'Siapa dia?' tanyanya dalam hati.
bersambung.
readers tuh Samhadi nanya siapa Terra. Bisa ada yang jelasin?
next?