TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENDADAK ISTRI



"Mama ... Saf dicium orang!" pekiknya lalu menangis.


Terra memeluk gadis itu dan tertawa tertahan. Semua ikut menahan tawanya. Para anak-anak berteriak senang karena mereka akhirnya mendapat kakak yang sangat istimewa. Terlebih Sky.


"Ata' Babitli ... Ata'Babitli!" panggilnya sambil terisak.


Saf menangis dan memeluk bayi itu. Benua, Bomesh dan Domesh ikut menangis juga memeluk gadis itu.


"Mama?" panggilnya.


"Iya, sayang ... kamu sudah sah menjadi istri dan kamu anak Mama sekarang," sahut Terra menangis.


"Huuuwwwaaaa!"


Makin menangislah gadis bongsor itu. Ia tak percaya dirinya sudah mendadak jadi seorang istri.


"Hei ... ayo kita pulang!" ajak Bram akhirnya.


"Kita ke mansion kakek ya," lanjutnya.


Darren membawa mobil Safitri, istrinya. Gadis itu masih bingung dengan semuanya. Kanya yang menjelaskan sekali lagi.


Semua mobil akhirnya pun pergi ke mansion Bram. Sampai sana, Kanya dan Bram langsung turun dan meminta semua maid bekerja memasak yang banyak.


"Assalamualaikum!" Terra memberi salam.


"wa'alaikumussalam!" sahut Kanya.


"Bawa semua masuk, Te!" titahnya.


Semua masuk mansion mewah itu. Saf sampai terbengong melihat kemewahan mansion keluarga Pratama.


"Duduk, sayang," pinta Darren.


Pria itu menggenggam tangan istrinya. Ia bahagia bukan main. Ia juga masih tak menyangka jika dirinya sudah menjadi seorang suami.


"Ata'!"


Sky, Benua, Bomesh dan Domesh memeluk perempuan besar tinggi itu. Mereka bahagia sekali.


"Sayang," panggil Terra.


"Mama," sahut Saf.


"Kamu sudah menjadi istri. Kamu sekarang menantu Mama," ujar wanita itu.


Demian dan Dominic tersenyum. Ini lah yang dinyatakan takdir dan jodoh tak ada yang tau. Mereka mengira akan melangkahi Darren menikah ternyata justru pria itu menikah lebih dulu.


"Jadi, sekarang Saf sudah anak Mama dan Papa juga?" tanya gadis itu.


Terra mengangguk. Saf pun kembali menangis. Ia tak menyangka jika pernikahannya secepat ini.


"Sayang, resepsinya nanti kita pikirkan ya," ujar Darren.


Saf mengangguk. Anak-anak sudah heboh minta Saf membuatkan makanan untuk mereka.


"Kak, buatin mie yang kek kemarin," pinta Arimbi manja.


Saf mengangguk dan tersenyum. Ia memang suka memasak. Jadi dia tak masalah dengan memasak.


"Nggak usah repot sayang. Oma sudah minta maid buat masak. Jadi makan yang sudah dibuat ya," ujar wanita itu.


Semua pun menurut. Saf hanya duduk dan menyandarkan bahunya. Darren meletakkan dadanya agar bagi Saf nyaman. Gadis itu terkejut ketika punggungnya menyentuh benda keras.


"Eh!"


"Tidak apa-apa, sayang. Bersandarlah," ujar Darren lalu menarik tubuh gadis itu.


Saf akhirnya merebahkan punggungnya di dada suaminya. Ia tersenyum sendiri ketika menyadari Darren sudah menjadi suaminya.


"Aku mencintaimu, sayang," ujar pria itu sungguh-sungguh.


Rona merah menjalar di pipi gadis itu. Terra begitu terharu, tak butuh waktu lama ia kini sudah menjadi seorang mertua. Haidar pun tak sanggup berkata apapun. Virgou lega, janjinya pada sahabatnya sudah ia tepati.


'Jonnas ... putrimu sudah ada yang menjaganya. Jangan kau khawatir lagi,' gumamnya dalam hati.


Darren mencium pucuk kepala istrinya. Hal itu membuat Herman berdecih.


"Dasar genit!" sindirnya.


"Ayah," rengek Darren.


Herman menitik air mata haru. Pria itu akhirnya pasrah jika Darren kini sudah memiliki istri.


"Lidya saja, aku masih berat melepasnya. Ini tiba-tiba Darren sudah suami orang!" keluhnya.


"Apa ayah marah?" tanya Virgou.


"Ck ... bagaimana aku bisa. Kau sudah menikahkan mereka," sengit Herman.


Virgou tertawa. Pria itu memeluk paman dari sepupunya itu. Ia jadi sangat menyayangi Herman, ia seperti memiliki ayah yang selama ini ia tak pernah miliki.


"Tapi, aku senang karena kau memilih gadis yang sangat cantik untuk Darren," ujar pria itu bahagia.


"Terima kasih, sayang. Telah memilihkan Safitri untuk Darren. Padahal Bunda juga nggak keberatan jika Satrio yang jadi suami Saf," kekeh wanita itu.


"Jangankan Bunda. Aku saja, juga mau menikahkan Kean pada Saf," celetuk Virgou.


"Tapi, Darren lebih cocok untuk gadis itu," lanjutnya.


Semua mengangguk setuju. Darren senang memeluk terus-menerus tubuh padat istrinya.


"Makanan sudah siap!" ujar Kanya.


Semua pun mengambil piring mereka. Begitu juga Saf. Anak-anak meminta gadis itu menyuapi mereka. Bahkan Lidya dan Rion tak mau kalah.


"Ion dulu!" pekik remaja itu menjauhkan wajah kakaknya dari suapan.


"Mama .. Ion nakal!" adu Lidya.


Terra tertawa melihat itu. Demian merasa tak dianggap dengan calon istrinya akibat ada kakak ipar barunya itu.


"Sayang, aku yang suapi ya," ujar Demian kesal.


Lidya hanya memandang malas pria itu. Demian tentu takut jika Lidya malah sebal padanya.


"Sayang," panggilnya.


"Iya .. Iya mau disuapi Mas Demian," ujar gadis itu pada akhirnya.


Demian menyuapi calon istrinya. Dominic senang melihat hal itu. Pria itu menyuapi Kean dan Al. Bart menyuapi Arimbi, Nai dan Daud juga Dimas.


Darren menyuapi istri dan Rion. Remaja itu memang sangat manja jika ada Safitri.


"Habis makan pada bobo ya," titah Terra.


"Iya, Ma!" sahut semuanya.


Makan pun usai. Semua anak pun naik ke kamar mereka dan tidur siang bahkan termasuk Lidya dan Rion.


"Ma, Demian dan Daddy pulang dulu, ya. Sabtu depan ke rumah Mama buat rayain ulang tahun Lidya," pamit pria itu.


"Iya sayang. Kita langsung ke panti ayah ya. Kamu tau alamatnya kan?" Demian mengangguk.


"Ma, Saf juga mau pulang," pamit gadis itu.


"Ngapain pulang?" tanya Herman.


"Kamu sudah jadi istri, jadi kamu sama Darren sana istirahat!" titah pria itu.


Saf menelan saliva kasar. Demian iri pada gadis itu. Pria itu akhirnya pulang bersama ayahnya.


"Yuk, ke kamar," ajak Darren.


"Mama," rengek Saf takut.


Terra tertawa. Wanita itu mengecup sayang kening Safitri.


"Nurut sama suami ya, Nak. Itu pahala istri," sahut wanita itu.


Darren menggenggam tangan istrinya lalu mengajaknya istirahat.


"Nggak ngapa-ngapain, sayang. Janji," ujar pria itu.


Tak! Virgou menjitak putranya gemas.


"Aduh! Daddy!"


"Dasar!" sahut pria itu kesal.


"Loh ... Saf sudah pakaian Darren sekarang begitu juga sebaliknya. Kenapa sih?" ujar Herman.


"Ck ... sabar sampai malam kenapa!" sergah Virgou kesal.


"Yang menikah kan mereka siapa?" sindir Herman juga kesal.


"Hei ... kenapa jadi kalian yang ribut sih?!" seru Kanya kesal.


Sedang yang lain hanya bisa menggeleng saja. Mereka juga ngantuk dan memilih masuk kamar masing-masing. Puspita sudah duluan masuk kamar dan tidur untuk menyusui putranya begitu juga Seruni dan Dav.


Akhirnya, Saf dan Darren masuk kamar. Pria itu merebahkan tubuhnya langsung di ranjang. Sedang Saf masih takut-takut.


"Sini sayang," panggil Darren mesra.


"Mas," cicit Saf.


Darren lalu menarik tubuh bongsor gadis itu hingga terjerembab dalam pelukannya. Kedua mata saling tatap dan dengan berani. Darren mencium bibir istrinya.


Bersambung.


langsung sosor ...


next?