
Malam menjelang. Ketiga bersaudara itu duduk di balkon. Lidya bersandar pada kakaknya sedang Rion dipangku Darren.
"Kau sudah besar ternyata Baby!" ucap Darren sedikit meringis ketika Rion duduk di pangkuannya.
Terra mendatangi mereka. Sama seperti ketika pertama kali wanita itu menemukan Ketiga anak itu dalam ketakutan, kedinginan, juga kelaparan.
"Mama!" panggil Darren.
Terra menangis. Waktu berlalu begitu cepat. Anak-anak yang tadinya begitu lemah dan kurus. Kini, mereka tampan-tampan juga cantik.
"Sayang!" panggil Terra merentangkan tangannya.
Ketiga anak itu pun langsung memeluk ibunya. Hanya Lidya yang paling kecil di antara mereka. Tingginya hanya 155cm dengan berat 45kg. Haidar, Virgou dan Herman memeluk semuanya.
"Kalian adalah belahan jiwa Papa, Daddy juga Ayah," ujar Haidar.
"Lidya, dengarkan Ayah. Kau harus hadapi ketakutanmu sendiri. Bukankah sekarang kau adalah seorang dokter?!"
Lidya mengangguk. Ia memang harus menghadapi ketakutannya. Memang berat. Bayangan kepala Firsha yang terbelah dan darah yang muncrat ke wajahnya. Ia sering menghadapi mayat yang lebih parah kondisinya dari itu.
"Ayah ... Iya minta beliin koper besar sih. Kan, bentar lagi Iya mau ke Eropa!"
"Nanti Daddy belikan!" sahut Virgou.
"Daddy kasih Iya gaun buat pesta wisuda. Papa belikan sepatunya!" ujar Lidya.
Para pria itu pun tertawa. Dav datang. Mereka akan bersama-sama ke acara malam puncak ulang tahun perusahaan. Banyak reward bagi mereka yang berprestasi. Bahkan akan ada penganugerahan karyawan teladan dan terloyal. Kesetiaan mereka yang mau bekerja secara jujur Terra telah mempersiapkan hadiah yang tak tanggung-tanggung.
Para wanita memilih pergi ke salon. Di sana Terra bertemu dengan mama mertuanya. Mereka sudah janjian.
*Assalamualaikum, Ma!"
"Wa'alaikumussalam, sayang!"
Kanya mencium pipi semuanya. Bahkan juga Seruni. Kini mereka memanjakan diri mereka di salon khusus wanita. Seruni yang tak pernah datang ke tempat itu gugup. Ia enggan jika harus mengenakan baju kimono.
Memang tidak akan laki-laki yang masuk ke area itu. Tetapi, ia ragu jika harus melepas alat bantu kakinya itu. Terra melihat kegelisahan Seruni.
"Dik," panggilnya.
"Kak ... aku nggak ikutan ya," pintanya memelas.
"Tidak apa-apa sayang. Percaya deh, kamu akan lebih nyaman," Terra memberi dukungan pada adik iparnya.
"Apa mau kakak bantu lepas?" Seruni mengangguk.
Ketika memakai kimono, terlihatlah alat bantu yang menopang kaki kanan dan kiri Seruni. Kanya sedih melihat kaki wanita itu.
"Sayang," panggilnya iba.
"Mama!" sahut Seruni tersenyum.
"Oh, kau adalah wanita yang tabah luar biasa, Mama yakin Dav sangat beruntung mendapatkan dirimu," Terra mengangguk setuju.
Semua bersiap pada pesta ulang tahun perusahaan yang didirikan oleh Ben Hugrid Dougher Young itu.
Malam datang, Bart dan Leon masih ada di sini. Gabe tak bisa datang, kehadirannya akan diwakili oleh Leon atau Bart.
Sebuah slide video dipertontonkan. Wajah Ben, pria yang datang tiga puluh lima tahun lalu. Bagaimana dalam. jangka dua tahun, ia bisa membangun sebuah perusahaan besar berskala nasional kala itu.
"Perusahaan Hudoyo.. Awalnya saya kurang paham dari mana pria bule bisa mendapat nama Indonesia Hudoyo. Ternyata itu adalah nama singkatnya. Hugrid Dougher Young!" jelas Rommy.
"Saya bergabung di perusahaan ini, ketika saya masih berusia dua puluh tahun. Tapi, saya mengenal sosok Tuan Ben Hugrid Dougher Young dari usia tujuh belas tahun!" lanjutnya bernarasi.
Darren, Lidya dan Rion menatap foto besar yang dipampang pada layar besar. Foto ayah mereka. Ayah yang membuat mereka hadir ke dunia ini. Ayah yang membuat mereka mengalami penyiksaan baik secara fisik maupun mental.
Terra memeluk ketiganya. Mencium satu persatu adik-adiknya.
"Sebuah penghargaan besar dari para karyawan bagi almarhum Tuan Hugrid Dougher Young!"
Sebuah plakat terbuat dari kristal bertuliskan tinta emas "Terima kasih Tuan Ben Hugrid Dougher Young". Terra maju untuk menerima. penghargaan itu.
"Sebagai putri beliau. Saya meminta maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan yang diperbuat oleh Almarhum!" pinta Terra tulus pada semua karyawan yang telah berjuang bersama.
Acara puncak dimulai. Satu persatu karyawan yang berprestasi mendapat penghargaan juga hadiah fantasia. Para karyawan OB/OG dan Cleaning servis dan sekuriti, mendapat sebuah rumah kecil di beberapa perumahan.j Mereka begitu terharu dan mengucap terima kasih.
Terra bahagia telah menyenangkan orang lain. Rommy juga mendapat hadiah sebagai karyawan terbaik. Berangkat haji bersama istri dengan ONH plus. Pria itu sampai terhenyak melihat hadiahnya. Gunawan sebagai karyawan terfavorit. Ia juga mendapat hadiah sama. seperti Rommy. Iskandar dan Aden pun mendapat hadiah serupa.
Semua larut dalam bahagia. Terra juga menghadiahkan Darren sebuah dasi. Sedang Dav mendapat sebuah jam tangan rolex edisi terbatas.
Kini mereka pulang ke rumah masing-masing. Seperti keinginan Lidya yang ingin tidur dengan ibunya. Kini semua menumpuk menjadi satu. Empat tempat tidur di jejerkan agar besar.
"Selamat malam Ma, Pa!" sahut semuanya setelah usai berdoa.
"Selamat malam Baby!" jawab Terra dan Haidar.
Malam ini Lidya kembali berada di mimpi yang sama. Ia duduk di sebuah mobil yang melaju kencang. Sedang kedua orang tuanya bertengkar. Lalu mobil itu hilang kendali dan menabrak. Gadis itu tidur sedikit gelisah. Terra bisa merasakannya.
Keringat dingin mengucur deras. Haidar terbangun menenangkan anak-anak. Ternyata semua anak-anak juga merasakan kegelisahan kakaknya. Ia pun menenangkan semuanya. Darren terbangun begitu juga Rion.
"Sayang, hadapi itu sayang!" pinta Terra menguatkan anak gadisnya.
"Semua itu sudah berlalu, Dik!" ujar Darren kini mengusap punggung adiknya.
Sedang Rion mulai berdoa. Ia meminta agar kakaknya lepas dari rasa traumanya. Begitu juga dia. Ia juga ada di dalam mobil yang sama. Ia juga merasakan ketakutan luar biasa waktu itu.
"Mama!" Lidya terbangun dengan napas tersengal dan keringat mengucur.
Terra menciumnya. Lidya pun tertidur kembali. Kini, mimpi itu pun tak pernah datang lagi. Gadis itu akhirnya terlelap dalam senyum terbingkai.
bersambung
Alhamdulillah ... akhirnya bebas juga.
Next?