
Darren tengah sibuk menggambar di sebuah kertas putih. Wajahnya serius. Besok hari minggu, Terra memperbolehkan bermain sedikit malam.
"Sedang apa sayang?" tanya Haidar.
Rutinitas malam minggu sebagai sepasang kekasih adalah ngapel. Ini lah yang dilakukan oleh Haidar, mengapeli pacarnya. Tapi, gadis itu tidak semerta-merta bermanja dengan kekasihnya. Malah, Haidar kini harus menemani ketiga anaknya bermain.
Haidar belum menyelesaikan pekerjaannya. Ia masih fokus dengan apa yang ditekuninya sekarang.
"Serius sekali," ujar Haidar kemudian menghadiahkan ciuman di pucuk kepala Darren.
Sekilas Darren tersenyum. Terra mendatangi mereka dan membawa camilan. Lidya yang tadi sedang mengganggu Rion, beralih pada camilan yang ibunya bawa.
"Mama ... Iya mau, boleh?" pintanya sambil menunjuk makanan yang ada di piring.
Terra mengetuk keningnya dengan telunjuk. Tampak berpikir lama. Ia sedang menggoda gadis kecilnya. Hingga ....
"Mama!" rengek Lidya, tapi tangannya langsung mengambil makanan itu lalu memasukkannya ke mulut.
Terra tertawa melihat tingkah Lidya. Haidar cukup terkejut mendengar tawa lepas kekasihnya itu.
"Cantik," pujinya.
Terra pura-pura tidak mendengar pujian itu. Tapi, rona merah yang ada di pipinya tak bisa disembunyikan. Gadis itu merona malu.
"Darren sedang apa sih?" tanya Haidar kemudian ia merengkuh pinggang ramping Terra dan menaruh dagunya di bahu gadis itu.
Terra langsung menepis dan menghindar jauh dari kelakuan Haidar. Gadis itu tidak mau menampilkan kemesraan di depan mata suci ketiga anaknya.
"Apaan sih!" sungut Terra sambil mencebik.
"Hmmm ... nggak bisa mesra dikit aja!" ketus Haidar. Terra menggeleng.
"Itu Darren kamu suruh apa sayang. Kok serius amat?" tanya Haidar.
"Oh, Darren sedang membuat rumah yang ia impikan. Dan Te, coba buat wujudinnya," jelas Terra.
"Jadi kamu yakin jual rumah itu?" tanya Haidar.
"Iya, setelah mendengar kisah pilu yang Darren alami. Sepertinya rumah itu tidak jauh dari kenangan buruk, yang berakibat dengan traumanya," jelas Terra lagi.
Gambar Darren selesai. Kemudian menyerahkannya pada Terra. Gadis itu cukup terkejut akan gambar yang Darren buat.
"Bagus sekali!" puji Terra dengan mata berbinar.
Haidar ikut melihat dengan cara memeluk Terra. Gadis itu sedikit berontak. Tapi, kuncian keras tangan pria itu tak bisa dilepas. Akhirnya Terra pasrah.
Darren yang mendengar pujian bertubi-tubi dari ibunya juga om Haidar, senang bukan main. Lidya ikut-ikutan melihat gambar Darren.
"Duyu Tata Dallen peulnah dambal baduuusss, tluss dapet bintan buaaanaaak dali Ibu duyu. Tapi, disyobek ama Mama Icha," adu Lidya dengan wajah sedih.
Darren menunduk. Wajah cerianya berubah murung. Terra langsung memeluk Darren dengan erat. Ia curahkan semua kasih sayang pada pria kecil yang tiba-tiba kini tubuhnya bergetar.
"Sudah sayang. Jangan ingat. Itu sudah berlalu. Ada Mama di sini," ujar Terra menenangkan Darren.
"Sayang. Lihat, Mama!" ujar Terra kemudian menakup wajah Darren agar berhadapan dengan wajahnya.
Tampak air yang menggenang di pelupuk mata pria kecil itu. Ada kilatan ketakutan kembali hadir. Terra mengusap lembut genangan itu.
"Dengar Mama. Kamu adalah putra Mama, yang paling hebat, paling pintar dan paling tampan. Tidak ada satu pun yang bisa mengalahkan dirimu," ujar Terra kembali memberi semangat untuk Darren.
"Termasuk Om Haidar?" cicit Darren sambil tersenyum.
"Ya ... siapapun dia akan kalah denganmu. Mereka bukan apa-apa dibanding denganmu. Termasuk Om Haidar," ujar Terra menyetujui perkataan Darren.
Haidar tersenyum. Tak ada raut kemarahan tergambar. Ia sangat tidak masalah jika dirinya di nomor duakan oleh kekasihnya.
"Darren adalah segala-galanya bagi Mam juga Om Haidar. Bagi Lidya, Rion. Kakek, Oma. Tante Karina, juga Kakak Raka," ujar Haidar kini ikut menimpali.
Darren memeluk Terra erat. Laki-laki kecil itu masih takut dengan semuanya.
"Darren tidak sedang bermimpi kan, Ma?" tanyanya lirih.
"Jika pun ini mimpi. Darren nggak mau bangun lagi," lanjutnya.
"Bukan sayang. Ini bukan mimpi, ini kenyataan," ujar Terra kemudian memeluk erat Darren.
"Mama!" tiba-tiba Rion merangkak menggapai Terra.
Terra langsung melepas pelukannya. Darren menyingkir memberi jalan untuk adiknya agar bisa menggapai ibu mereka.
Begitu sampai. Terra langsung mengangkatnya tinggi-tinggi. Rion tertawa lepas. Begitu juga semuanya.
Haidar menatap kekasihnya penuh kasih sayang. Tadi, ia kembali melamar Terra. Pria itu mendapat jawaban yang cukup mengejutkan.
'Baiklah sayang. Akan aku persiapkan semua,' gumamnya dalam hati.
bersambung.
eh ... apakah Terra menerima lamaran Haidar??