
Malam belum bergulir, bahkan mata Terra baru saja terpejam. Entah mengapa, pria kecil yang tidur di sisinya ini menggeliat gelisah.
Sesekali terdengar isakan lirih. Suara meminta ampun, atau minta jangan disakiti keluar dari bibir Darren yang mungil.
"Am ... pun, Tanteh ... hhh ... ja ... nghanhh ..."
Terra mengerjapkan mata. Ia mengelus punggung Darren, memberinya kenyamanan. Sesaat, pria itu mulai tenang.
Tiba-tiba Darren memeluknya erat dengan tubuh gemetar.
"Jhah ... nghan ... am ... phun ... hiks ... hiks!"
"Sayang," Terra mengusap pipi Darren agar terbangun.
"Huuu ... uuu ... ampun, Darren nggak akan bilang Ayah ... huuuu ... uuu ... hiks!"
Terra meraba tubuh pria kecilnya. Panas.
Terra langsung menggendong Darren dan mendekapnya. Ia tidak perduli dengan siapapun . Tapi, ia ingat dua anak lain yang kini ikut merengek seakan tahu kesakitan kakak mereka.
"Mama, Papa!" teriaknya sambil terisak. "Mas Haidar!"
Terra kebingungan, Rion mulai menangis. Sedang Lidya juga sudah bangun. Gadis kecil itu tampak tahu jika ibunya kesulitan.
"Mama ... tata Dallen tenapa?" tanyanya dengan suara sendu.
"Kak Darren panas. Apa, Iya tidak apa-apa kalau Mama tinggal?" tanya Terra khawatir.
"Mama, jangan tinggalin mereka. Darren tidak apa-apa," ucap pria kecil itu lirih. Sepertinya sudah terbangun.
Darren berusaha turun dari gendongan Terra. Tapi, gadis itu masih bersikukuh untuk membawa Darren sekarang juga ke rumah sakit.
"Kamu harus ke rumah sakit, sayang. Badan kamu panas."
Darren mengambil jaketnya. Seakan tahu apa maksud putranya. Gadis itu membantu memakaikan sweater pada Lidya dan Rion.
"Mama, gendong Rion. Darren bisa kok jalan," ujarnya.
Terra menitikkan air mata. Gadis itu menggendong Rion dengan sebelah tangannya. Kemudian ia juga mengangkat Lidya.
"Darren pegang celana Mama, ya," Darren mengangguk.
Mansion yang luas dengan kamar masing-masing kedap suara. Hanya kamar tamu yang mereka tempati saja yang tidak.
Dengan langkah pelan. Gadis itu sudah memesan taksi online. Walau kini sudah pukul 24.12.. Gadis itu beruntung masih bisa mendapatkan taksi yang kebetulan langganannya.
Sedang di kamar lain. Tampak Haidar tertidur dengan gelisah. Tiba-tiba ia tersentak. Pria itu baru saja bermimpi buruk.
Karena haus. Ia melihat gelas dan teko airnya kosong. Dengan rasa malas. Ia pun beranjak dari ranjang menuju lantai bawah di mana dapur berada.
Ketika ia keluar dengan mata setengah terpejam, ia melihat seseorang tengah menggendong dua balita dan satu anak yang memegang celananya. Pria itu masih belum seratus persen sadar.
Ketika, ia mengucek matanya. Baru ia ingat. Jika ada Terra dan ketiga anaknya di mansion pribadi milik orang tuanya.
"Terra, kau mau kemana?!" tanyanya langsung berlari ke arah gadis itu.
Nampak Terra yang sudah bersimbah air mata dan wajah Darren yang memucat. Sedang baik Rion dan Lidya telah tertidur di bahu kanan dan kiri gadis itu.
"Aku mau ke rumah sakit ... hiks bawa Darren. Dia panas, hiks" jawabnya sambil terisak.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu," ujar Haidar langsung mengambil Lidya dari dekapan Terra.
"Biar aku antar," tawar Haidar.
"Pak Nemo, taksi langganan ku sudah ada di depan ... hiks ...."
"Baiklah. Kau ke taksi dulu. Tunggu aku sebentar ya," ujar Haidar.
"Biar bersamaku."
Haidar pergi ke kamarnya, meletakkan Lidya di ranjang. Mengganti bajunya cepat, mengambil dompet dan menaruhnya di saku celana belakang. Kemudian menyambar ponsel dari atas nakas.
Lidya kembali ia dekap dan menaruh kepala gadis kecil itu di bahunya. Dengan sebelah tangan ia mengirimkan pesan singkat pada ibunya jika ia ke rumah sakit mengantar Terra karena Darren panas.
Setengah berlari. Pria itu keluar dan membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Tampak taksi pesanan Terra sudah ada di halaman. Jadi Haidar tak perlu jauh menuju gerbang. Beruntung penjaga rumah masih berjaga.
Haidar duduk di depan bersama supir taksi yang bernama Nemo.
"Jalan agak cepat ya, Pak," pinta Terra yang kini sudah bisa menahan isaknya.
"Baik, Mba Te. Yang sabar, ya," ujarnya kemudian menekan pedal gas perlahan.
Dalam beberapa menit. Mobil itu sudah meluncur membelah jalan sepi ke rumah sakit.
Darren tidak lepas menyandar pada Terra. Wajah tampannya masih pucat. Suhu tubuh juga masih belum turun.
Terra terus berdoa dalam hati. Agar putranya tetap kuat hingga rumah sakit. tiga puluh menit. Mereka sudah sampai di depan lobby.
Sayang, Darren sudah tidak sadarkan diri. Terra menangis sejadi-jadinya. Ia menyesal karena memaksa Darren mengisahkan cerita yang sama sekali tidak ingin ia ingat.
Pak Nemo menolong Terra. Sedang Haidar langsung berteriak meminta pertolongan pada pihak medis.
Para medis langsung membawa brangkar. Nemo, langsung menggendong Darren yang tak sadarkan diri. Terra membayar lebih pada Nemo sebagai ungkapan terima kasih dan berjanji akan menekan bintang lima untuk pria baik itu.
"Sudah nggak usah pikiran, Mba. Yang penting, Dik Darren tidak apa-apa," jelasnya.
Terra setengah berlari mengejar brangkar Darren menuju UGD. Terra duduk di samping Haidar yang mendekap Lidya. Gadis itu tenang dan tidak rewel sama sekali. Begitu juga Rion.
Terra tak berhenti-hentinya berdoa dalam hati. Sesekali mengusap air mata dan ingusnya dengan baju di bahunya.
"Ih ... jorok amat sih ... meper ingus di baju!" seru Haidar jijik.
"Bodo ... huuu ... uuu! Nggak suka ya sana, pergi. Siniin Lidya!"
"Ck ... gitu aja ngamuk," keluh Haidar akhirnya membiarkan Terra berbuat semaunya.
Dokter keluar dari ruangan. Raut kelegaan terpancar dari wajahnya.
"Bagaimana, Dok?' tanya Terra yang tadi langsung berdiri ketika melihat dokter keluar dari ruangan UGD.
"Pasien hanya tertekan sangat berat. Sepertinya, ia harus melakukan serangkaian test untuk menghilangkan traumanya. Pasien harus ke psikiater," jelas dokter ber-nametag Farida Spok.
"Bapak ibu bisa membawanya pulang, tidak perlu dirawat. Nanti biar suster di sini akan menyerahkan resep untuk ditebus sekalian membayar administrasinya."
Terra dan Haidar mengucap terima kasih. Tiba-tiba sosok pria tegap berlari menuju mereka.
"Tuan muda," sapanya sambil membungkuk hormat.
"Loh, Pak Lukman. Kok bisa ada di sini, apa Papa yang nyuruh?' terka Haidar.
"Iya, Tuan muda. Tuan besar tadi bilang jika, Tuan ada di rumah sakit terdekat. Jadi saya bisa tebak kalo Tuan muda ada di rumah sakit ini," jelas Lukman.
Haidar mengangguk. Kemudian ia mengeluarkan dompet dari sakunya.
Sebuah kartu hitam ia keluarkan dari dompetnya. Menyerahkan pada Lukman untuk segera membayar tagihan rumah sakit sekalian menebus resep yang baru saja di serahkan seorang suster.
Terra tadinya menolak semua keinginan Haidar. Tapi, pria itu tak peduli. Bahkan mengancam akan memberi nilai E jika tidak menurutinya.
Bersambung.
ah ... Darren ... kasian kamu, Nak.