
Rion hanya menghela napas panjang. Baru dua hari lalu ia memberikan bekalnya untuk teman satu kelasnya itu. Ternyata, itu adalah makanan terakhir Nuria.
Pihak sekolah hanya memberi kesaksian, Nuria sering datang dalam keadaan tubuh penuh luka. Nuria juga sangat pendiam.
"Kenapa tidak dilaporkan atau setidaknya diberi penanganan?" tanya pihak berwajib.
"Itu bukan ranah kami. Ketika di sekolah kami ajari mereka. Soal masalah atau apa pun. Kami tidak berhak turut campur!"
"Tetapi itu kan bisa mengganggu konsentrasi belajar murid. Masa sebagai guru anda tidak perhatian pada murid?"
"Sulit Pak. Nanti kami malah jadi sorotan jika terlalu ikut campur!" pihak sekolah membela diri.
"Tapi, setidaknya, Nuria tidak akan jadi korban jika langsing ditangani dan dilaporkan pada pihak berwajib!"
Rion menatap dua tangannya. Ia berpikir bagaimana cara anak-anak keluar dari kekerasan yang justru dilakukan oleh orang-orang yang mestinya melindungi mereka.
"Rion beruntung masih bisa bertahan dan mendapat Mama," gumamnya.
Apa daya seorang anak jika mengadu. Mereka pasti dituduh.
"Kamu sih nakal!"
"Kamunya kali melawan orang tua!"
Arau hanya sebatas kasihan di mulut saja. Tetapi tak ada tindakan lanjutan.
Seluruh siswa kini datang ke.pemakaman Nuria. Mereka mendoakannya. Rion menatap nanar timbunan tanah yang basah. Teringat Kakak angkatnya Anwiyah, yang berpulang karena sakit, ia juga korban dari keserakahan orang dewasa.
Ibu tiri Nuria dipenjara dalam jangka yang cukup lama. Sebuah hukuman yang menurut Rion tak setimpal sama sekali.
"Bisa nggak yang menyiksa anak itu hukumannya mati?" tanya Rion.
"Hukuman atas kekerasan hingga menghilangkan nyawa orang lain, paling lama lima belas tahun penjara," jawab polisi.
Rion masih terlalu kecil untuk mengerti akan hukum Ia hanya mendoakan semoga Tuhan nanti membalas semua kejahatan orang-orang yang menyiksa anak-anak kecil.
"Andai Rion Super Hero," keluhnya.
Ia pun pulang bersama dua pengawalnya. Kembali berdoa. Semoga tidak ada lagi Nuria-Nuria lain di dunia ini.
Terra menatap Rion penuh dengan tanda tanya. Wajah suram putranya itu membuatnya gelisah.
"Kemari, Baby," panggil Terra merentangkan tangannya.
"Kadang, sesuatu yang terjadi itu sudah kehendak Tuhan. Segala daya upaya kita, Tuhan lah yang menentukan. Nuria, memang memiliki garis hidup yang malang. Kita berdoa semoga arwahnya tenang di alam sana," jelas Terra panjang lebar.
Rion menyurukkan tubuhnya ke pelukan ibunya.
"Makasih ya Ma, sudah datang di kehidupan Rion. Terima kasih Mama kembali pada kami," ungkapnya tulus.
"Mama yang harusnya berterima kasih dengan adanya kalian, Baby. Entah apa yang terjadi pada hidup Mama, jika kalian tidak ada. Tetapi, inilah yang dinamakan takdir."
"Sebaik apa pun rencana kita, pasti ada salah satunya tak sesuai ekspektasi. Di sana kita harus belajar menerima dan ikhlas atas semua kejadian yang menimpa pada kita."
Penjelasan Terra panjang lebar, entah dimengerti bocah lelaki itu atau tidak. Terra akan menyerahkan pada waktu. Suatu saat bayi besarnya ini akan mengerti.
"Mama,.boleh tidak Ion jadi Superman?"
Terra terkekeh. Ia sangat paham jika putranya mengetahui tokoh yang ia sebut itu adalah fiksi.
"Baby, jangan jadi Superman. Tapi, jadilah diri sendiri. Jadilah seseorang yang memiliki hati kuat, cerdas dan baik," ujar Terra lalu tersenyum.
Wanita itu mencium gemas pipi Rion. Bocah lelaki itu kini sudah mulai meninggi bahkan semakin tampan. Para gadis masih banyak yang menggandrunginya.
"Mama," panggil Rion.
"Iya, Baby," sahut Terra.
"Ion mau oke-oke sama para Babies," pintanya sambil tersenyum lebar.
"Oteh, Baby," sahut Terra dengan senyum lebar.
Rion memanggil adik-adiknya. Semua berlompatan kegirangan. Kebetulan. Virgou dan Herman datang membawa anak dan istri mereka.
Kini, rumah Terra riuh dengan suara anak-anak yang bernyanyi dengan sesuka hati mereka.
bersambung.
rame deh 🙂ðŸ¤
next?