
"Anwiyah!' pekik Khasyana dan Herman bersamaan.
Semua panik. Bram, Kanya dan Budiman langsung menenangkan anak-anak yang juga ikut panik.
Budiman memanggil tim. Semua datang mengamankan lokasi pernikahan. Tamu-tamu undangan juga mulai tenang. Darren dan Lidya mulai menangis. Rion yang sedikit demam karena kebanyakan minum es, langsung menangis melihat kakaknya terjatuh.
Darah mengalir dari hidung, Anwiyah. Khasyana menangis pilu, ia tahu hidup putrinya tak akan lama lagi. Herman ingin membawanya ke rumah sakit. Khasyana melarang.
"Mas ...," Khasya menggeleng.
Herman menitikkan air matanya. Ia langsung lemas. Pria itu pun menggendong salah satu putrinya itu.
"Nak ... sayang," panggil Herman.
Bram ternyata memanggil dokter pribadinya, tanpa sepengetahuan Herman dan Khasya. Ia mengira gadis kecil itu kelelahan.
Lidya menangis. Ia memeluk ayahnya erat.
"Papa, Kakak Wiwi akan pergi Papa ... hiks ... hiks," bisiknya pada Haidar.
Haidar terhenyak ketika putrinya mengatakan hal itu. Ia tak percaya. Sedang Darren memeluk tubuh ayahnya, ikut menangis.
"Putri Ayah, bangun, Nak," panggil Herman dengan suara gemetar.
Perlahan Anwiyah membuka matanya. Darah yang mengalir dari hidungnya telah dibersihkan oleh Khasyana.
"A ... ayah," panggilnya lemah.
"Sayang," sahut Herman dan Khasyana dengan linangan air mata.
Napas Anwiyah sudah satu-satu. Denyut nadi di lehernya juga makin terlihat. Wajahnya juga sudah pucat pasi. Bibirnya mulai kebiruan.
"A-ayah ... terima kasih telah menjadi Ayah bagi Wiwi," ucapnya dengan mata sayu.
Herman menahan tangisnya. Semua yang ada juga ikut larut dalam kesedihan. Semuanya duduk dalam keheningan. Seolah-olah ingin mendengar pesan terakhir dari gadis kecil nan cantik itu.
Herman memangku Anwiyah. Khasya memegang tangan gadis kecil itu. Tak henti-hentinya Herman mengecup kening Wiwi dengan penuh kasih sayang.
"Wiwi pasti sembuh, sayang bertahanlah. Ayah bawa Wiwi ke rumah sakit ya," ajak Herman.
Anwiyah menggeleng. Ia sudah sangat sakit dan sudah tidak bisa menahannya lagi lebih lama.
"Tidak Ayah. Anwiyah sudah tidak kuat, ini sangat sakit," tolaknya dengan suara lemah dan penuh rasa sakit.
Semua menangis tergugu. Terra memeluk erat Rion yang juga menangis. Lidya makin mengeratkan pelukannya pada Haidar. Kanya menyambangi Darren dan memeluknya. Ia juga menangis. Bram, Bart dan Virgou menahan sesak karena air mata mereka mengalir. Sedangkan Budiman dan tim hanya bisa diam menunduk.
"Ra .. rasanya sakit, Ayah. Wiwi nggak kuat ... hiks ... hiks ..." ujarnya sambil terisak.
Herman dan Khasya langsung tersedu. Wanita yang baru bersuami itu meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Sedang anak-anak yang lain hanya diam menangis. Mereka memanjatkan doa untuk kesembuhan salah satu saudaranya.
"Nak ... Ayah, mohon. Bertahanlah, kamu pasti sembuh ... huuu ... uuu .. hiks ... hiks!" pinta Herman dengan tangisan pilu.
"Wiwi mau, tapi ini sakit sekali Ayah ... hiks ... hiks ... Wiwi nggak kuat," Wiwi sangat ingin hidup tapi rasa sakit tak bisa ia tahan.
"Ayah ... Bunda ... uhuk!' Anwiyah terbatuk. Darah keluar dari mulutnya.
Herman dan Khasya menangis. Dokter tiba-tiba datang dan langsung memeriksa nadi dan napas Anwiyah. Ia pun menggeleng lemah. Bram langsung terduduk lemas. Begitu juga Bart dan Virgou.
Jangan tanya lagi bagaimana rupa mereka. Berantakan. Mata dan hidung memerah karena banyak menangis.
Terra pun langsung lemas. Ia pun terduduk. Ini sungguh menyakitkan baginya. Melihat anak kecil tengah menghadapi sakaratul mautnya. Dulu ia melihat ayah dan ibunya tengah menghadapi sakaratul mautnya saja ia begitu ketakutan dan kesakitan.
"Ayah, Bunda!' panggil Anwiyah pelan.
Herman sibuk membersihkan darah di mulut salah satu putrinya. Bahkan kini baju pengantin keduanya bernoda darah.
"Sayang, kita syahadat yuk," ajak Khasyana.
"Ayah .. Bunda ... sakit," rengeknya.
"Terus sebut nama Allah, sayang," pinta Khasyana sambil berurai air mata.
"Allahu ... Akbar."
Kepala Anwiyah pun terkulai. Dokter langsung memeriksa. Lalu ia menepuk bahu Herman.
"Innalilahi wa inna ilaiyihi radjiun. Putri Bapak, telah meninggal dunia," ucapnya berbela sungkawa.
Herman menangis begitu juga Khasyana. Haidar terdiam. Kata-kata putrinya jadi kenyataan. Anwiyah pergi selamanya.
Semua tamu undangan pun turut menunduk. Semua hanyut dalam duka yang dalam.
Hari di mana kebahagiaan berlangsung, ternyata menjadi hari kedukaan bagi panti asuhan Azhar.
Salah satu anggota keluarga mereka pergi selamanya. Pergi ke tempat yang seharusnya. Di mana lagi ia tak merasa kesakitan. Bahkan mungkin ia akan menjadi bidadari di surga.
Cuaca berubah menjadi mendung, seakan ikut mengiringi gadis kecil nan cantik juga berhati baik. Herman menggendong jasad kaku putrinya.
Pria itu sudah mengganti bajunya. Khasyana dan beberapa ibu dekat panti membantu memandikan juga mengkafani Anwiyah. Sebisa mungkin Khasya tidak menitikkan air mata.
Ia mengingat ketika, wajah pucat itu begitu bahagia ketika mendengar ia akan segera dioperasi. Seorang donatur telah menjanjikan mereka sejumlah uang besar untuk semua pengobatannya hingga sembuh, tiga tahun lalu. Waktu itu usia Anwiyah lima tahun.
Sayang, uang dengan jumlah yang sangat besar itu, membuat pengurus lama gelap mata. Mereka membawa lari uang itu entah kemana. Donatur angkat tangan. Ia sudah menyerahkan uang itu pada pengurus panti. Jadi ia tak bertanggung jawab lagi, karena niatnya sudah ia laksanakan.
Soal uang yang dibawa lari, donatur tersebut tidak tahu menahu. Khasya begitu terpukul, terlebih Anwiyah. Bayangan hidup sehat hilang seketika dari mimpinya.
"Tidak apa-apa, Bunda. Wiwi ikhlas. Mungkin ini sudah jadi takdir Wiwi dari Allah," ujarnya bijak waktu itu.
Khasya tak sanggup melanjutkan mengkafani salah satu putrinya itu. Ia sudah berlari keluar dan menangis tersedu-sedu. Herman menyambanginya dan memeluknya erat. Ia juga sangat terpukul.
Kini Herman membopong tubuh kaku putrinya ke peristirahatan terakhir. Salah satu kolega Herman memayungi pria itu. Bram juga ikut mengantarkannya, begitu juga Haidar. Sedang anak-anak bersama Terra dan Bart juga Kanya. Mereka semua bersedih. Hari bahagia kini menjadi duka mendalam bagi Herman dan Khasyana.
Herman, turun ke liang lahat. Pria itu dibantu oleh beberapa orang, untuk melepas tali pocong dan meletakkan mayit dengan posisi yang benar.
Adzan dikumandangkan oleh Herman. Suaranya sedikit tercekat. Sedang Khasyana hanya menangis. Wanita itu diberikan kekuatan oleh ibu-ibu para tamu yang ikut mengantar ke pemakaman.
Tanah sudah tertimbun. Bunga sudah ditabur. Gerimis mulai turun. Semua orang sudah pergi dari pemakaman. Mereka kembali ke tempat pesta
Herman dan Khasya menatap pilu gundukan tanah yang masih merah. Di sana tertulis nisan dari kayu. Anwiyah binti Herman Triatmodjo. Mereka pun kembali ke tempat perhelatan, setelah membaca doa.
"Mas," panggil Khasyana.
"Iya, sayang," sahut Herman lembut.
Mereka melangkah bersama perlahan di bawah payung. Saling mengeratkan perlukan memberi kenyamanan.
"Terima kasih, telah menjadi Ayah untuk anak-anakku," ujar Khasya haru.
"Iya, sayang, sama-sama," sahut Herman mengecup kening istrinya.
Life must go on. Anwiyah memang pergi. Ia sudah kembali pada sang pencipta. Herman kini harus memikirkan ke dua puluh sembily anaknya yang lain. Mereka juga butuh masa depan dan kasih sayang darinya sebagai ayah juga Khasyana sebagai ibu mereka.
bersambung.
Innalilahi wa inna ilaiyihi radjiun.
selamat jalan Anwiyah ... selamat beristirahat dengan tenang. Kamu tidak sakit lagi sekarang.
😥😥😥😥
next?