
Terra sedikit heran dengan bayinya yang anteng hingga ceramah selesai, setelah Herman membisikinya sesuatu.
"Oh ya, tadi siapa yang nanya, ya?" tanya ustadz dengan senyum lebarnya.
"Ion panya Om Pustad!" bayi itu langsung tunjuk tangan.
"Ustadz saja tak usah pake Om," jelas ustadz sambil terkekeh.
"Emba bica ... emba bica. Om pudah bede dadhi, Ion balus pandil Om Pustadz," ucap Rion menolak sambil menggeleng.
Ustadz bernama Ahmad pun tertawa mendengar perkataan Rion. Terra langsung menghampiri. Ia takut jika sang ustadz tak bisa mengerti bahasa Rion.
"Maaf, Pak ustadz. Bayi saya belum dua tahun. Jadi ngomongnya belum lancar," jelas Terra sambil meminta maaf.
"Oh tidak apa-apa. Tadi saya kaget saja, di tengah ceramah tiba-tiba ada yang bertanya. Dan, adik kecil ini yang bertanya. Jadi saya malah senang, berarti adik ini mendengarkan saya," jelas Ustadz Ahmad panjang lebar.
"Nah, sekarang tadi adik tanya apa tadi?" tanya ustadz Ahmad lagi.
"penandun payi ipu pa'a?" tanya Rion.
Ustadz Ahmad melihat ke arah Herman. Pria itu mengkode perut istrinya yang tengah berisi. Ustadz Ahmad akhirnya paham sambil terkekeh.
"Mengandung bayi itu, adalah ada bayi di dalam perut sang ibu. Artinya kamu bakalan jadi kakak," jawab Ustadz Ahmad sambil tersenyum.
Rion mengangguk tanda mengerti.
"Om Pustadz, Ion bawu bapet pabala, bimana?"
Semuanya mengerutkan dahi. Mencoba mencerna apa perkataan bayi itu. Rion masih setia menunggu jawaban. Terra akhirnya mengerti apa yang bayinya itu katakan.
"Ah, putra saya bertanya biar dapat pahala bagaimana caranya, Ustadz," jelas Terra.
"Oh ... hahahahaha!'
'Duh, mati gue!' Terra panik karena ustadz tertawa karena pertanyaan Rion.
Rion merasa tidak suka jika dirinya ditertawakan. Wajahnya mulai cemberut. Herman yang melihat Rion cemberut, membisikan sesuatu. Lalu, reda lah amarah Rion. Terra makin penasaran. Kata-kata sakti apa yang bisa meluluhkan amarah Rion.
"Kalau mau dapat pahala, harus berbuat baik. Sayang sama orang tua terutama terhadap ibu yang mengandung kita, yang merawat kita, yang sayang sama kita," jawab Ustadz lagi.
"Oh, betitu," Lidya menyahut sambil mengangguk.
"Iya, syayan syama Mama, syama Papa. Dadhi Iya, dapet pahala?'
"Iya, pinter banget ini. Namanya, siapa anak manis?" tanya Ustadz Ahmad sambil membelai kepala Lidya yang memakai jilbab instan warna pink sesuai baju panjangnya.
"Namanya Lidya, Ustadz. Panggilannya Iya," jawab Terra.
Lidya tiba-tiba mendatangai ustadz Ahmad, ia pun mencium punggung tangan Ustadz tersebut.
Nyes ...
Hati Ustadz Ahmad berdesir ketika Lidya menyentuh dan mencium tangannya. Ia merasa sejuk dan hangat secara bersamaan.
"Boleh Ustadz minta peluk?"
Lidya menoleh ibunya. Terra sedikit ragu. Ia hanya ingin menjaga putrinya, bukan maksud lain. Mendapat respon penolakan, Ustadz Ahmad pun mengerti.
"Ya, sudah tidak apa-apa," ujarnya kemudian tersenyum.
Terra tak enak hati. Mungkin jika tiba-tiba Lidya yang memeluk mungkin tidak apa-apa, karena biasanya, putrinya itu akan langsung memeluk orang jika melihat orang itu tersakiti.
"Om Ustadz tan pidat apa-apa, pentapa minta pelut Iya?" ustadz Ahmad bingung.
"Maksudnya?"
"Maksudnya Lidya, Ustadz kan tidak terluka atau pernah mengalami kesakitan, seperti pernah disiksa atau yang lainnya," jelas Terra.
"Oh, begitu. Jadi Lidya ini hanya akan memeluk seseorang jika ia melihat orang itu seperti pernah disakiti atau semacamnya?" tanya ustadz Ahmad.
"Benar, ustadz," jawab Terra.
"Sebenarnya saya merasakan sesuatu yang lain ketika Lidya memegang dan mencium tangan saya. Saya merasakan kesejukan juga kehangatan secara bersamaan. Saya, yakin tangan Lidya memiliki kekuatan dari Allah untuk menyembuhkan luka hati orang lain," jelas Ustadz Ahmad, dengan binaran mata takjub.
"Benar, ustadz. Saya sangat beruntung mendapatkan Lidya," jawab Terra dengan sangat bangga.
Acara sudah selesai. Bram dan Kanya pamit pulang. Ia bertanya kapan Terra menginap lagi di mansion mereka.
"Nanti, Ma. Selesai ujian semester ini dan kenaikan kelas Darren. Kita semua akan mengacak rumah Mama," jawab Terra.
"Bener, ya!" sahut Kanya dengan wajah cembetut. Terra terkekeh.
"Iya, Ma."
Bram dan Kanya pulang. Virgou tidak bisa datang karena harus menyelesaikan beberapa urusan penting di kantor. Ia menyatakan selamat. Ia juga menyampaikan kabar gembira lain, jika istrinya juga sedang hamil dua minggu.
"Wah, Te bakalan punya dua adik sekaligus nih," ujar Terra bahagia.
Herman memeluk Terra. Ia sangat tahu apa yang dipikirkan kemenakannya itu. Terra masih belum dipercaya untuk memiliki anak dari rahimnya sendiri.
"Yang sabar ya. Lidya dan Rion masih membutuhkan kamu. Terutama Rion," ujar Herman menenangkan Terra yang sedikit sedih.
"Iya, Ayah. Te juga tahu itu. Hanya saja ...."
"Sudah tidak usah banyak pikiran. Ingat Nabi Ibrahim Alaihi Salam. Berapa lama beliau tak memiliki anak?" Terra mengangguk.
"Bersabarlah. Allah itu maha baik, minta lah dengan penuh keyakinan jika kamu bisa menyayangi mereka setelah kelahiran anak-anak kamu nanti," ujar Herman sambil menunjuk ketiga anak Terra yang tengah bermain.
"Te bakal sayang kok sama mereka!" sergah Terra.
Herman menggeleng. "Allah maha tahu apa yang tidak kamu ketahui."
Terra pun terdiam mendengar perkataan Herman. Ia pun tersadar. Bahwa batasan manusia itu adalah bertawakal pada Allah.
Allah yang mengatur roda kehidupan. Allah yang mengatur perjalanan manusia sesuai tercatat di laukhul mafus. Seperti kehadiran Darren, Lidya dan Rion dalam hidupnya.
Terra sangat yakin, jika ia tak akan bertemu jodohnya secepat ini. Ia yakin, hidupnya tak akan semudah ini.
"Ayah. Tadi bisikin apa sih, Kok sampai baby diam gitu?" tanya Terra mengingat hal yang terjadi ketika ceramah dan ketika ustadz tertawaan tadi.
"Oh itu. Baby, mau dapat pahala? kalau mau, diam dulu dengar orang tua bicara dan tidak boleh marah," jawab Herman enteng.
"Nggak mungkin itu. Soalnya, Te, sering ngomong gitu, tetep aja Baby seperti itu," sahut Terra tak percaya.
Herman tertawa. Ia mengusap kepala kemenakannya yang dibalut hijab biru itu.
"Rahasia dong," sahut Herman lagi-lagi tertawa.
"Ish, Ayah!' rengek Terra.
Herman berlalu ia duduk sambil meminum kopinya. Terra mengerucutkan bibirnya. Khasya mendatangi kemenakan suaminya itu.
"Te, Bunda minta kamu masakin telor ceplok dong," pintanya memohon.
"Oh, oteh. Tunggu, ya Bun," sahut Terra langsung melesat menuju dapur.
Herman heran, lalu bertanya pada istrinya.
"Kamu ngomong apa sama Terra sampai dia ke dapur?"
"Oh, tiba-tiba aku pengen banget makan telor ceplok yang digorengin
Terra," jawab Khasya enteng.
"Kamu ngidam?' Khasya mengangguk.
"Loh, kok sekarang baru ngindamnya?" Khasya hanya mengendikkan bahu.
Terra membawa satu piring nasi bersama telor ceploknya. Betapa bahagianya Khasya, hingga ia begitu lahap memakan nasi dan telur ceplok buatan Terra.
bersambung
next?