
Mansion Bram tampak penuh manusia. Semua berkumpul dan bersenda gurau. Darren mengajak Aini dan dua adiknya ikut serta. Padahal gadis itu menolak keras. Ia beralasan akan dinas malam.
Hubungan mereka sudah berjalan tiga bulan. Darren ingin menaikan skala hubungannya dengan gadis berprofesi dokter itu.
Ketika sampai mansion kakeknya. Darren membawa turun Aini dan dua adiknya. Pria itu tak lagi dikawal Budiman jika ingin menjemput sang kekasih.
"Ini lumah atau istana, Mba?" tanya Radit berbisik.
"Ayo, masuk," ajak Darren lalu menggandeng dua adik kekasihnya.
Ini pertama kali, pria itu mengajak Aini menemui keluarga besar dalam skala hubungan lebih jauh lagi. Mereka bahkan sudah mempersiapkan lamaran untuk gadis itu. Rion sudah tak mempermasalahkan kakaknya untuk melangkah lebih serius.
"Assalamualaikum!" salam Darren setelah sampai depan pintu.
"Wa'alaikumussalam," sahut semuanya kompak.
"Hei, Mas Bitya dan Mas Ladit!" panggil Sky.
Benua senang ada teman seumurannya, Radit. Samudera pun mengajak Ditya langsung bermain bersama mereka. Tak butuh waktu lama keduanya dapat membaur menjadi satu dengan yang lain. Aini sangat takut jika kedua adiknya berbuat salah.
"Sudah, biarkan mereka bermain," ujar Khasya.
"Kakek, Oma. Perkenalkan ini Aini," ujar Darren memperkenalkan kekasihnya.
"Pacar Darren," lanjutnya malu-malu.
Entah kenapa, Terra begitu nyeri mendengar kata-kata putranya itu. Ia menatap haru. Pria kecil nan kuat itu kini sudah dewasa. Ia memang harus merelakan Darren untuk melangkahkan kakinya ke jenjang yang lebih serius.
"Ah ... kau sudah besar, ternyata," sahut Bram dengan penuh haru.
"Aku baru saja menggendongku beberapa tahun lalu. Tak kusangka kau sudah sebesar ini," lanjutnya lalu mengusap genangan di sudut matanya yang mulai lamur.
Bram sudah lama pensiun. Semenjak Rion mengambil alih kepemimpinan perusahaan dibantu oleh putranya. Ia kini jauh lebih bersantai dan menikmati hari tuanya. Siapa sangka. Keturunannya bertambah.
"Kemari, Nak!" ujar Pria itu merentangkan tangannya.
Darren memeluk tubuh pria renta yang masih saja gagah itu. Aini menatap penuh haru. Betapa hangatnya keluarga besar ini. Ia sangat yakin dengan kebahagiaan yang Darren tawarkan untuknya nanti.
"Walau mungkin tidak semudah yang aku ucapkan. Tapi, yakinlah jika aku akan berusaha membuatmu bahagia!" janji pria itu.
Aini tersenyum mengingatnya. Kanya mendekati gadis cantik itu. Lalu memberinya dekapan hangat.
"Halo, sayang. Saya adalah nenek dari pacarmu. Anak menyebalkan itu tak memberitahu wanita tua ini jika dia memiliki kekasih secantik kamu," adu Kanya sambil mencibir kesal pada Darren yang memeluk suaminya.
Pria itu hanya terkekeh. Seruni datang dengan suami dan anaknya yang baru berusia tiga bulan. Mereka sudah pindah rumah, beberapa minggu lalu.
"Assalamualaikum!" salam Dav.
"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.
"Ayo duduk-duduk!" ujar Bram.
Ustad datang. Anak-anak sudah bersama para anak yatim-piatu yang diundang. Semua melantunkan shalawat. Bart nampak gagah dengan baju kokonya.
Acara gunting rambut pun dimulai. Bart, Bram, Herman dan Haidar menggunting rambut dua bayi itu. Virgou membotaki setelahnya. Pria sejuta pesona itu menciumi gemas bayi-bayi lucu itu.
Seperti biasa, anak-anak ikut antri bersama barisan anak yatim. Tentu saja hal itu membuat Herman kesal bukan main.
"Hais ... kalian ini ya!"
Terdengarlah keluhan anak-anak. Hanya Ditya dan Radit yang tidak keluar dari barisan.
"Kenapa kalian masih di barisan?" tanya Rion.
"Kami berdua kan memang yatim piatu, Mas," jawab Ditya polos.
Rion tersenyum. Ia pun ikut mengantri. Ditya bingung.
"Kok, Mas Ion ikut antri?" tanyanya dengan mata bulat dan jernih.
"Mas kan sama, anak yatim," jawabnya santai.
"Loh, Mama Tella bukan Mamanya Mas Ion?" tanya Radit polos.
Rion pun terdiam. Ia jadi bingung sendiri. Lalu ia ingat jika Terra memang bukan ibunya. Melihat putranya berbaris. Terra ikut berbaris.
"Apa-apaan kau?" sungut Kanya kesal.
Herman kesal bukan main, pria itu menyerahkan semua bingkisan pada Bram. Ia ikut barisan. Makin bingung lah Ditya dan Radit.
"Astaghfirullah! Kenapa Mas ikut-ikutan antri!" protes Bram kesal.
"Aku juga yatim piatu!" jawab Herman sangat santai.
"Astaga, apa aku juga harus ikut antri?" sungut Bart kini.
Bram dan Kanya tak bisa ikut antrian. Kedua ibu mereka masih hidup. Khasya ikut dengan suaminya, mengantri.
"Darren juga kalo gitu," ujar Darren.
"Hei ... kenapa kalian jadi seperti anak kecil sih!" sentak Kanya marah.
"Keluar kalian dari barisan!" lanjutnya sambil berkacak pinggang.
Akhirnya para orang tua keluar. Rion mengajak Radit dan Ditya juga keluar. Akhirnya dua anak itu mengikutinya.
Pembagian bingkisan berlangsung aman dan terkendali. Mansion Bram pun tak sepenuh tadi. Kini anak-anak bermain kembali.
"Aini, Darren, duduklah!" titah Herman.
Dua sejoli itu pun duduk, ada sedikit jarak di antara mereka. Keduanya berdebar kencang. Herman menjadi pembicara.
"Hubungan kalian sudah tiga bulan. Ayah, rasa sudah cukup. Terlebih kalian sudah saling mengenal satu dengan lainnya. Ayah hanya menjelaskan beberapa hal saja," ujar pria itu.
"Jika hari ini kau melihat semua kebaikan Darren, jangan kaget ketika kau menemukan keburukannya setelah menjadi suamimu. Simpan itu!" lanjutnya memberi petuah.
Semua keluarga duduk bersama dan menghadap dua insan itu. Terra menyerahkan semua keputusan pada Herman, pamannya. Bart hanya mengikuti mau besannya itu, begitu juga Bram.
"Semua aib suami, harus kau tutupi, bahkan dengan ibu mertuamu sendiri!" tekan Herman lagi.
Aini mengangguk tanda mengerti. Haidar kini yang mulai berkata.
"Aini, Papa dan Mama sangat ingin keseriusan kalian. Apakah sudah saatnya kami melamarmu sekarang, untuk putra pertama atau adik kami Darren?"
Jantung gadis itu mau lepas dari tempatnya. Ia tak menyangka jika secepat ini dilamar oleh keluarga terpandang itu.
"Kau tak perlu repot dengan segala urusan. Daddy yang akan mengurus semuanya!" sahut Virgou.
Aini diam membisu. Lidya tampak menatap calon kakak iparnya itu. Ia sangat berharap jika gadis itu menerima pinangan sang kakak.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya mau dipinang, Pa, Ma, Daddy," jawab Aini.
"Alhamdulillah, baik sekarang secara resmi kami meminta dirimu untuk menjadi pasangan putraku Darren Putra Dougher Young!" Ujar Virgou.
"Saya bersedia menjadi istri dari Mas Darren," Aini menerima pinangan itu.
Darren mengusap wajahnya dan mengucap hamdalah. Sebentar lagi, Aini akan menjadi tanggung jawabnya secara penuh. Pandangannya beralih pada Lidya dan Rion yang menitikkan air mata. Lalu pada Terra, sang kakak yang memeluk suaminya. Terlihat jelas bahu wanita yang baru melahirkan beberapa hari lalu menangis.
"Saya tetapkan satu bulan setengah lagi kalian menikah!" ujar Bram kini.
Aini mengangguk tanda setuju. Ia menatap dua adiknya yang asik bermain dan tertawa bahagia.
Beberapa jam kemudian. Darren mendatangi Lidya dan Rion yang tengah duduk di teras belakang mansion. Ia baru saja mengantar pulang Aini dan dua adiknya.
"Kak, Kak Darren akan menikah. Apa nanti, dia tetap sayang sama Ion?" tanya remaja yang besok akan berulang tahun.
"Kak Iya, yakin kok, kalo Kak Dar pasti masih sayang sama kita!," ujar Lidya memeluk adiknya itu.
Sesungguhnya Lidya juga takut jika Darren perlahan akan berkurang kasih sayangnya dan mulai melupakan dia dan adiknya.
"Kak Aini pantas bahagia, jadi mungkin Kak Dar akan lebih sayang sama istrinya, kan?"
Darren sedih mendengarnya. Ia jadi takut sendiri. Takut jika hal itu terjadi. Pria itu memejamkan matanya.
"Kakak tidak akan melupakan kalian, seumur hidup kakak!"
bersambung.
😥 eh kok mewek lagi?
next?