
Waktu berlalu hari pun berganti. Persiapan pernikahan sudah sembilan puluh persen selesai.
Dari dekorasi dan segala macamnya. Semua sudah rampung. Tinggal menunggu akad.
Bart dan yang lainnya sedang diajak Virgou menginap di mansion pribadinya.
Baik Haidar dan Terra makin menahan diri mereka untuk saling berkomunikasi. Banyak hal-hal sepele menjadi masalah besar. Setan mulai gencar melakukan aksi godaannya.
"Mama, kita nanti apa masih tinggal di sini atau pindah?" tanya Darren.
Terra yang sedang melakukan sebuah pekerjaan, langsung menghentikan kegiatannya. Ia belum terpikir hingga ke sana.
"Kalau kita pindah, memang Darren keberatan?" tanya Terra lalu menyuruh putranya itu duduk di sebelahnya.
"Kemana pun Mama pergi, Darren ingin ikut," ucapnya takut-takut.
"Hey, sejak kapan kamu dilarang untuk ikut Mama?" tanya Terra menyelidik.
Darren menghela napas berat. Pria kecil itu mengingat kisah salah satu teman sekelasnya. Ayah ibunya bercerai. Tidak ada satu pun yang ingin merawat sahabatnya itu dan sang nenek lah yang merawatnya kini.
"Teman Darren orang tuanya bercerai. Baik ayah dan ibunya tidak mau merawatnya, sekarang ia tinggal sama nenek yang sudah tua," jawab Darren lemah.
Terra terhenyak. Masih ada kah orang sekeji itu pada darah dagingnya sendiri?
"Tapi kan Darren dari dulu sudah sama, Mama. Hanya sekarang sebentar lagi bertambah dengan Papa," jelas Terra. "Lagi pula Papa juga sangat menyayangi kamu."
Darren mengangguk membenarkan. Terra mengusap wajah putranya. Ia sangat tahu kekhawatiran Darren.
"Jangan pikirkan yang tidak akan pernah terjadi. Mama, tidak akan pernah meninggalkanmu," janji Terra.
"Makasih, Ma ... hiks ... makasih mau jadiin Darren dan adik-adik sebagai anak-anak Mama ... hiks," ungkapnya tulus sambil terisak.
"Sayang," Terra memeluk Darren.
Mengusap punggung putranya. Membiarkan tangis pria itu dan menumpahkan segala ketakutannya.
Lidya dan Rion datang, mereka seakan tahu jika kakaknya sedang bersedih.
"Tata Dallen tenapa meyanis?" tanya Lidya dengan nada sendu.
"Sini, Dik," ajak Darren mengurai pelukannya.
Lidya dan Rion mendekat. Terra langsung memangku keduanya. Memeluk mereka dengan penuh kasih sayang.
"Jangan nakal-nakal ya, sama Mama. Kita mesti ngucapin terima kasih ke Mama yang datang ke kehidupan kita," ucap Darren.
"Mapasih, Mama. Ba bowu ... hiks ... hiks!"
"Mama ... Iya sayaang and cintaaa banet ama Mama."
"Oh ... sayang-sayangnya Mama. Mama juga sangat mencintai juga menyayangi kalian. Kalian adalah hidup, Mama," ungkap Terra tulus.
"Maafin Mama dulu sempat mau meninggalkan kalian begitu saja, Mama ... hiks ... hiks ...!" Terra mengingat di masa ia nyaris meninggalkan ketiga anaknya di tengah jalan.
Menghardik anak yatim piatu yang tak memiliki siapa-siapa. Terra menyesali tingkahnya saat itu.
Budiman mendengar itu semua. Air matanya pun ikut menetes secara tak sadar. Bergegas ia menghapusnya dengan kasar. Pria itu tadi hendak ke halaman belakang. Ia mencurigai sesuatu benda yang terjuntai di tembok. Pria itu hendak memeriksanya.
"Om Pudi ... Om Pudi!' panggil Rion.
Terra menghapus buliran bening yang menetes di pipinya. Ia menatap pria yang sedang menenangkan diri. Pria itu menunduk hormat pada kliennya.
"Maaf, Non. Saya mau periksa halaman belakang. Ada benda mencurigakan terjuntai di tembok pagar," ucapnya meminta ijin.
"Ah, silahkan Kak. Lain kali, langsung masuk saja. Jangan sungkan," ujar Terra memberi ijin sekaligus akses masuk.
Budiman segera bergegas memeriksa. Ternyata itu hanya sampah plastik yang terbang terbawa angin dan menyangkut di sana. Budiman segera membersihkannya. Pria itu membawa keluar sampah yang tadi ia curigai.
"Apa itu Kak?" tanya Terra.
"Hanya sampah, Nona," jawab Budiman.
"Oh ya sudah. Langsung buang Kak, trus cuci tangan yang bersih ya, sebentar lagi kita akan makan siang," ucap Terra memberi perintah
"Baik, Nona," saut Budiman langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Terra.
"Mama siapin makan siang dulu, ya," ucapnya lalu mengecup kening ketiga anaknya satu persatu.
"Iya, Mama," saut Lidya dengan suara imutnya.
"Sudah jangan nangis lagi," ujar Terra menghapus jejak basah di pipi ketiganya.
"Mama!" panggil Rion.
"Iya, Baby," saut Terra.
"Ba bowu!'
Terra terkekeh. Berkali-kali ia mengajarkan tiga kalimat sakti itu. Namun selalu kata-kata itu yang keluar dari mulut bayi montok itu.
"Ba bowu pu, Baby," saut Terra.
Rion tersenyum lebar. Begitu juga kedua kakaknya. Terra mulai menyusun makanan dibantu oleh Ani dan Romlah. Sedang Gina tengah menggosok pakaian yang sudah kering.
"Ini, Bibi kasih Kak Dahlan ya, buat makan siang tim," titah Terra lembut. "Sekalian suruh Kak Budi masuk untuk makan siang."
"Baik, Non," saut Romlah langsung mengambil bungkus besar itu.
"Sayang, ayo cuci tangan kalian, lalu kita makan," ajak Terra.
"Iya, Mama," saut Darren kemudian menuntun dua adiknya turun dan membawanya ke wastafel.
Terra mengangkat Rion dan membantunya mencuci tangan begitu juga Lidya. Hanya Darren yang sudah bisa mencuci tangan sendiri. Budiman menyusul ikut mencuci tangannya.
Mereka pun duduk bersama, kemudian berdoa dan makan bersama. Tak ada percakapan, hanya bunyi sendok dan piring yang berdenting.
Bersambung.
next?