
Budiman mengajak dua orang tuanya ke rumah kakak iparnya, Terra. Mia masih saja merasa takut. Wanita itu gelisah jika bersentuhan dengan barang-barang mahal milik putranya itu. Begitu juga Fery.
Haidar dan Terra telah diberitahu jika kedua orang tua Budiman telah kembali. Terra senang mendengar adik iparnya itu mau berdamai dengan masa lalu.
Budiman turun bersama Gisella. Budiman membukakan pintu untuk orang tuanya. Gisel sudah menyambangi kakaknya memberikan pelukan dan ciuman untuk Terra. Sedang Haidar hanya mengacak rambut adik iparnya.
Terra sedih menatap dua orang tua yang seperti ketakutan. Mereka menatap lantai rumah dengan perasaan sungkan. Kaki keduanya gemetar saat masuk ke teras.
Terra langsung memeluk wanita yang dari tadi memegang pria yang usianya mungkin hanya berkisar lima puluh lebih.
Mia terkejut bukan main. Hatinya menghangat ketika dipeluk sedemikian rupa oleh wanita cantik.
"Assalamualaikum, Bu. Saya Terra kakaknya Gisel," ujar Terra memberi salam sambil memperkenalkan diri.
"wa-wa'alaikum salam, saya ... saya Mia Amrullah, Ibunya Budiman," sahut Mia memperkenalkan diri.
"Oh ya, Bu. Ini suami saya Haidar Putra Hovert Pratama," Haidar mencium punggung tangan wanita itu lalu beralih pada pria yang berada di sisinya.
"Panggil saya, Idar Bu," sahut Haidar sopan.
"Kalo Bapak?"
Fery gelagapan ia tadi sedikit terbengong melihat keramahan Terra.
"Saya, Fery. Hanya Fery," jawabnya kikuk.
"Ayo masuk," ajak Terra mengait tangan sang ibu.
Mia melangkahkan kakinya. Gisel sedikit iri, bagaimana kakaknya bisa menggiring mertuanya tanpa ketakutan dari sang ibu.
Anak-anak datang langsung menyalami kedua orang tua itu. Mia dan Fery menatap takjub anak-anak tampan dan cantik.
"Ini putra tertua saya, Darren, Ini Lidya, ini Rion, Naisya, Sean, Al dan Daud ini kembar empat," Terra memperkenalkan satu persatu putra putrinya.
Mia begitu gembira melihat anak-anak. Al mendekatinya.
"Mama, Al pesti pandil pa'a sama powang pua imi?" tanya Al menelisik wajah keriput yang duduk di depannya itu.
"Panggil Nenek," jawab Terra.
"Penek?" Al menirukan perkataan ibunya dengan salah.
Mia terkikik geli. Baru kali ini Budiman melihat senyum ibunya. Setelah dari kemarin hanya ketakutan terpancar dari wajah sang ibu.
"Iya, Nak. Nenek," sahut Mia. "Dan ini Kakek." tunjuknya pada sang suami di sebelahnya.
"Patek!" Al mengangguk.
Fery tertawa lepas. Ia sangat terhibur dengan kelucuan Al. Budiman ternganga. Setelah nyaris dua puluh tahun ia tak mendengar tawa ayahnya. Kini, ia mendengar lagi.
Anak-anak mengerubungi dua orang tua itu. Mereka sangat ingin tahu, bagaimana kulit mereka yang keriput, dan rambut yang memutih.
"Mama, Patek Belman judha pua, pati pulitnya emba pelitut," sahut Sean mengingat Kakek Herman ayah dari Arimbi dan Satrio.
Fery jadi tergelak. Mia tersenyum lebar. Dengan penuh kasih sayang, ia mengusap pipi gembul Al dan Sean. Sedang Terra hanya meminta maaf atas ketidak sopanan putranya.
"Maaf, ya, Pak, Bu."
"Al, Sean, Nai, Daud. Yang sopan sayang," tegur Terra.
"Tidak apa-apa, Nak. Biarkan mereka mengungkapkan keingintahuannya. Saya sudah lama tidak mendengar celoteh anak-anak yang lugu," sahut Fery dengan mata berbinar.
Rion mengajak adik-adiknya ke taman belakang untuk bermain, Darren dan Lidya pun ikut dengan mereka.
Tiga cangkir teh, dan tiga cangkir kopi terhidang di meja berikut camilan. Gisel memberitahu kehamilannya. Terra begitu bahagia mendengarnya.
"Wah, tokcer juga kau," sahut Haidar mencibir.
"Iya lah," Budiman membalas sengit sahutan kakak iparnya.
"Papa, potcer ipu pa'a?" tiba-tiba Daud bertanya. Ia tengah ke dalam untuk mengambil minuman.
Haidar bingung menjelaskannya. Sedang mata Daud masih menunggu jawaban ayahnya. Rion pun datang.
"Hei jangan dengerin orang tua bicara. Tidak baik!"
"Pati Ata' Ion. Baut puna peultanya. Potcel ipu pa'a!" sahut Daud.
"Tokcer itu lancar, Baby," jawab Rion.
"Oh pancar ... Om Pudi pancar woh!" sahut Daud.
Rion menatap pria yang tengah duduk di sana yang tengah mengelus perut istrinya. Rion pun menghela napas panjang.
"Kenapa kau begitu Baby?" tanya Haidar usil.
Budiman dan Haidar pun tertawa. Fery dan Mia pun mendapat satu kisah lucu tentang keluarga besar dari sepupu menantunya ini.
Mereka pun kembali bercengkrama. Fery menyatakan ingin pulang sebentar. Ia akan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
"Pak, apa tidak apa-apa, Bapak berhenti kerja?" tanya Mia khawatir.
"Kalau Bapak kerja berangkat dari sini. Kehabisan waktu di jalan, Bu. Nanti, Bapak tanyakan pada Boss Apen, apa ada fotokopi cabangnya di sini," ujar Fery menenangkan istrinya.
"Apa maksud Bapak?' tanya Budiman tak suka.
"Bud!" tegur Haidar.
Budiman mendengkus kesal. Terra menghela napas panjang.
"Pak, untuk apa Bapak bekerja lagi?" tanya Terra lembut.
Fery tersenyum. "Saya tidak mungkin berdiam diri di rumah, Nak. Kami juga tidak mungkin menyusahkan Budiman."
Budiman menahan emosinya. Terra sangat paham apa yang dirasakan kedua pria itu.
"Bud, sebaiknya kamu bicarakan ini baik-baik nanti di rumahmu ya," pinta Terra.
Kini wanita itu tak lagi memanggil Budiman Kakak. Karena menikahi adiknya. Otomatis, pria itu menjadi adik ipar Terra.
"Baik, Kak," jawab Budiman setuju.
Mereka kembali bercengkrama. Mengajak semuanya makan siang bersama. Mia dan Fery tidak canggung dan takut lagi ketika berada di rumah Terra.
Satu jam pun berlalu. Sepasang suami istri itu sudah kembali ke rumah putra mereka. Mia mengelus kakinya yang masih bengkak. Sang suami mengambilkan minyak dari tas yang kemarin dibawanya.
Fery mengolesi minyak dan sedikit mengurut kaki istrinya.
"Bu, apa dibawa obatnya kemarin?" tanya Fery sedih.
"Obatnya kan sudah habis, Pak. Belum tebus lagi resepnya," jawab Mia sambil meringis.
Penyakit diabetes membuat kakinya membengkak. Fery pun mengambil kertas fotokopi resep. Ia harus menebusnya.
"Ya, sudah. Bapak tanya Budiman dulu. Di sini apotik paling dekat di mana. Sebentar ya, Bu," ujarnya.
Mia membiarkan sang suami. Fery mencari keberadaan Budiman. Karena tidak menemukan putranya. Ia pun berinisiatif bertanya pada satpam yang menjaga di depan.
Budiman keluar dari kamar ia baru saja membersihkan dirinya. Gisel pun ikut keluar bersama sang suami. Mereka berdua bergandengan tangan menuju kamar kedua orang tuanya.
"Loh, Bapak mana Bu?" tanya Budiman.
"Loh, tadi katanya dia mau bertanya ke kamu. Apa tadi ngga ketemu?" tanya Mia bingung.
"Nanya apa Bu?" tanya Gisel.
"Apotek ada di mana. Soalnya Bapak mau tebus obatnya Ibu," jawab Mia lalu tersadar. Ia pun menutup mulutnya.
Gisel mendatangi mertuanya.
"Ibu sakit apa?" tanya Gisel khawatir.
Budiman langsung ke luar. Pria itu memprediksi jika ayahnya itu pergi bertanya pada penjaga.
"Ibu ..., " panggil Gisel lembut.
"Ibu tidak apa-apa, Nak," sahut Mia tak ingin menantunya cemas.
Gisel tak memaksa. Ia akan tahu sendiri nanti. Ia pun merebahakan tubuhnya di sisi mertuanya.
"Bu, Gisel udah lama nggak disayang sama Mama. Ibu mau nggak sayang Gisel?" pinta Gisel.
"Ibu sayang kok sama Gisel," sahut Mia lalu mencium pucuk kepala menantunya.
Budiman dan Fery kembali. Wajah cemas langsung tersirat di wajah suami Gisel itu.
"Bu, kita periksa ibu ke rumah sakit ya!" ajaknya.
Mia menggeleng. Budiman memeluk ibunya penuh kasih sayang. Pria itu ingin ibunya sembuh. Resep tadi ditolak oleh pihak apotek.
"Resep ini mestinya ada jenjang pakai. Ibu ini sudah memasuki step berapa? Jika dilihat dari tanggal. Mestinya, pasien naik step masa penyembuhan. Jadi saran saya, lakukan pemeriksaan ulang, agar obat yang diminum itu benar sesuai dosisnya.".
Budiman akan membawa ibunya secara diam-diam, nanti. Fery hanya diam. Ia kini menyalahkan dirinya sendiri akibat penyakit sang istri.
bersambung.
masih sedih ... othor juga masih sakit ....
next?