TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MALAM PENUH KEGELISAHAN



Waktu berlalu. Satu jam yang lalu. Bart dan keluarga sudah kembali ke mansion Virgou. Sedang Bram dan Kanya juga Karina dan Raka kembali ke mansion mereka masing-masing.


Bram akan mengantarkan Karina ke rumahnya terlebih dahulu. Baru ia pulang ke mansion pribadinya.


Selesai isya. Terra telah menidurkan ketiga anaknya. Semuanya terlelap dalam damai. Walau sudah satu minggu bersama Haidar. Baik Darren juga Lidya belum pernah terbangun tengah malam karena mengigau. Wanita itu berharap kedua anaknya ini sudah lepas dari rasa traumanya.


"Sayang," panggil Haidar.


Pria itu merebahkan dirinya di belakang tubuh sang istri. Terra menggeser dirinya agar sang suami masuk dalam satu selimut dengan anak-anak.


Pipi dan pipi saling menumpu. Haidar menatap tiga anak mereka yang sudah terlelap dalam damai. Walau terdengar gerutuan kecil dari mulut Rion. Keduanya tersenyum mendengar itu. Ternyata kegiatannya tadi siang terbawa mimpi bayi itu.


Haidar mencium pipi istrinya. Ciuman itu menjalar ke telinga, hingga membuat Terra mengendik geli.


"Mas ...," bisik Terra.


"Hmmm," hanya deheman.


Napas Haidar menderu. Ciuman pria itu menjalar hingga tengkuk sang istri. Tangannya nakal menyelusup masuk piayama Terra. Merayap hingga Terra mengeraskan perut agar tidak kegelian. Tangan Haidar makin naik hingga menyentuh dua benda kenyal itu. Terra mendesis lirih.


"Mas," rengeknya.


"Apa sayang," saut Haidar dengan suara serak.


"Tunggu lima belas menit lagi ... ahh," desah Terra tertahan hingga ia harus mengigit bibir bawahnya kuat-kuat.


"Tenang lah ... jangan berisik," ucap Haidar terus menjalankan aksinya.


Sedang di tempat lain. Nampak sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi. Bram merebahkan dirinya di sisi sang istri. Kanya merapat mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya. Bram yang merasa sang istri merangsek masuk ke dalam tubuhnya, ia pun merengkuh tubuh Kanya yang masih terjaga keseksiannya. Sepasang mata saling tatap. Deru napas keduanya terasa di wajah mereka masing-masing.


"Mas ... Karina cocoknya sama siapa?" tanya Kanya sedikit mendesah ketika Bram melancarkan kecupan di leher jenjang istrinya itu.


"Memang, siapa pria yang menurutmu pantas?" tanya Bram menjauhkan wajahnya dan menatap lekat sang istri.


"Aku setuju semuanya, jika mereka sayang sama putri juga cucuku," jawab Kanya.


"Aku lihat Budiman mulai tertarik dengan putri kita. Raka juga nyaman bersama pria itu," saut Bram sambil pikirannya menerawang kejadian satu hari tadi.


"Raka suka sama siapapun yang membuat dia nyaman. Dengan Lidya cucu kita jauh lebih nyaman. Kan tidak mungkin kita jodohkan Karina dengan Lidya. Atau kita jodoh kan saja Raka dengan Lidya, bagaimana!" usul Kanya tiba-tiba.


Bram langsung menggeleng. Pria itu tak menyukai acara perjodohan.


"Aku takut, Raka bukan jodoh Lidya begitu juga sebaliknya. Kita jangan memaksakan jodoh. Tidak selamanya perjodohan mulus seperti kita berdua," jelas Bram panjang lebar.


Kanya menghela napas. Ia setuju. Kemudian ia menjauh dari rengkuhan suaminya. Bram terheran.


"Jadi Karina sama siapa dong!' teriaknya frustrasi.


Bram terkekeh. Pria itu menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. Kemudian mencium bibir sang istri.


Malam itu keduanya pun melakukan ritual penyatuan cinta. Menyamai tindakan pengantin baru.


Bedanya. Bram dan Kanya bebas menyalurkan hasrat mereka di atas ranjang empuk. Sedang Haidar dan Terra harus mengungsi menggelar kasur tipis. Mereka harus menahan ******* mereka. Sesekali mengintip pergerakan tiga anaknya.


"Sayang, pindah kamar, yuk?" ajak Haidar berbisik.


Terra mengangguk. Secara perlahan tanpa melepas penyatuan mereka. Terra merangkul kakinya ke pinggul sang suami dan mengalungkan tangan ke leher suaminya. Haidar menyelimuti tubuh mereka berdua dengan kain sprei dan berjalan sambil menggendong istrinya pindah ke kamar sebelah. Mereka melanjutkan sesi percintaan keduanya secara bebas di sana.


Sedang di tempat lain. Karina sudah menidurkan Raka di kamarnya dari tadi. Kini ia tak bisa memicingkan matanya. Ranjang ukuran queen size nya berantakan karena ia bergulingan di sana.


Seraut wajah samar terbayang di ingatan Karina. Wajah itu kini tersenyum. Setiap ia memejamkan mata. Wajah itu selalu terbayang.


"Ah. Shalat istikharah deh. Biar Allah beri petunjuk," ujar Karina kemudian lalu mengangkat tubuhnya dari kasur.


Ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Usai berwudhu ia pun mengganti pijamasnya dengan dress panjang sebetis lengan sesiku warna hijau.


Mengambil mukena dan menggelar sajadah yang ia beli ketika umroh bersama mantan suami dulu. Setelah mengenakan mukena, sejurus kemudian ia pun khusyuk mengerjakan sunnahnya.


Di tiga tempat berbeda. Tampak tiga pria beda usia. Herman, Frans dan Budiman tengah gelisah dengan pikirannya masing-masing.


Frans jatuh hati dengan Raka. Pria kecil istimewa itu berhasil mencuri perhatian pria dingin dan kaku.


"Jika Raka aku rekomendasikan di rumah sakit di sini. Aku yakin dia akan cepat pulih," gumam Frans.


"Besok aku bicarakan pada Terra tentang ideku ini," lanjutnya bermonolog.


Sedangkan Herman baru saja usai mengerjakan shalat Sunnah hajat setelah mengerjakan fardhunya terlebih dahulu.


"Karina cantik. Putranya juga tampan. Aku yakin jika Raka ditangani Dokter dan rumah sakit yang tepat, anak bagus itu pasti cepat sembuh," gumamnya bermonolog.


Pria itu pun merebahkan tubuhnya di kasur. Setelah mengganti keremangan lampu. Pria itu pun memejamkan matanya.


Sedangkan di sebuah rumah bedeng tak jauh dari lokasi rumah Terra, di mana Budiman menyewa di sana. Ia berganti jaga dengan rekannya.


Selesai isya. Ia merebahkan tubuhnya dengan telanjang dada. Terlihat bongkahan otot di dada juga perutnya yang bak roti sobek itu.


"Aku tak mungkin menyuruh Nyonya Karina menungguku lima tahun masa dinas ku," ujarnya lalu mengangkat kedua lengan menjadi bantalnya. Makin terpampang lah otot-otot pria itu.


'Ah ... kau terlalu tinggi kugapai, Nyonya," ujarnya lagi.


bersambung.


nah loh ... nah loh ...


next?