
"Jadi, apa yang terjadi dengan putri saya, Dok?" tanya pria itu dengan suara tercekat.
Alissha kini berada dalam pelukan Lidya. Pria itu kembali datang. Gadis itu menghela napas panjang. Sesungguhnya ia telah mengetahui cerita sebenarnya. Tetapi ia ragu mengatakan pada ayah dari anak perempuan yang kini dalam dekapannya.
"Tuan, maaf. Saya bukan ingin merusak kehidupan rumah tangga anda, tetapi, jika bisa, pulanglah anda lebih cepat dari biasanya, anda akan tau kebenarannya," jelas Lidya.
"Lissha, bisa ceritakan pada Daddy, Nak!" pinta pria itu gusar.
"Tuan ... saya mohon, jangan paksa putri anda seperti itu," pinta Lidya.
"Lissha!" sentak pria itu lalu menarik tubuh ringkih yang berada dalam pelukan Lidya.
"Tuan!" tegur gadis itu.
"Katakan padaku, apa yang terjadi!" sentak pria itu sambil mencengkram kedua bahu anak gadisnya kuat-kuat.
Alissha menangis histeris. Ia kesakitan. Lidya menenangkan pria itu agar melepaskan putrinya sementara Gio, Juan dan Hendra telah bersiap.
"Cepat katakan pada Daddy!" teriak pria itu makin kuat.
"Mommy tidak lumpuh Daddy, aku tak menyiram air panas itu, tetapi Mommy sendiri yang menyiram tubuhnya lalu menyalahkan aku!" jawab Lissha pada akhirnya.
"Bohong!" teriaknya.
Pria itu pun melempar anak gadisnya ke lantai, beruntung dengan sigap Lidya menangkap tubuh kurus anak itu.
"Kau bohong!" teriak pria itu lagi.
"Kau ... kau pasti bohong kan Nak!" ujarnya lagi kini mulai menangis.
"Itu benar Daddy, itu benar," jawab Lissha dengan air mata yang juga berderai.
"Kenapa ia lakukan itu padamu, apa alasannya?" tanya pria itu lagi.
"Aku tak tahu Daddy, semenjak Mommy menerima telepon dari seseorang, Mommy suka melamun dan menangis diam-diam. Setiap ditanya, Mommy jawab tidak ada apa-apa. Tetapi, ketika kejadian itu. Mommy tengah memasak air entah untuk apa. Tiba-tiba, panci itu tumpah mengenai kakinya, aku baru saja pulang sekolah Daddy!" jelas Lissha panjang lebar.
"Sebenarnya sejak itu Mommy juga sering memukuliku," cicitnya lirih.
"Apa katamu?" tanya pria itu.
Lissha bungkam. Lidya yang mendengar keluhannya lalu memeriksa tubuh kurus Lissha.
"Tuan, lihat ini," ujarnya.
Pangkal lengan Lissha seperti memar sedikit biru dan menghitam. Melihat betapa kerasnya pukulan itu.
"Sayang, bajunya buka semua ya," pinta Lidya lagi.
"Innalilahi!" pekik Lidya melihat belakang tubuh gadis itu penuh luka cubitan yang memburu sebagian malah ada yang terkelupas kulitnya.
"Tuan!"
Pria itu langsung memeluk tubuh putrinya, ia menangis sejadi-jadinya. Mengutuk keras perbuatan istrinya.
"Tuan, laporkan kasus ini pada pihak berwajib, lalu lakukan visum segera. Ini sudah keterlaluan, saya takut jika luka ini tidak hanya sekedar cubitan saja," ujar Lidya menyarankan.
"Baik Dok, terima kasih, saya akan laporkan ini pada pihak yang berwajib dan melakukan visum segera," ujarnya.
Lidya memakaikan baju anak perempuan itu lagi. Lalu mengusap pipi gadis kecil itu.
"Yang kuat ya, sayang, saya yakin kamu pasti bisa," ujar Lidya memberi semangat.
Alissha tersenyum, ia mengangguk penuh keyakinan. Keduanya pun pergi. Lidya yakin jika Alissha akan lebih baik setelahnya.
Hari pun berganti, kini Lidya makin sering berada di ruang konselingnya. Pasiennya bukan nya berkurang tetapi malah bertambah. Tak semua healing bisa dilakukan hanya dengan sentuhan dan pelukan. Kebanyakan mereka yang datang tingkat depresinya sangat tinggi.
Sebisa mungkin ia memberikan healing-nya. Alissha kembali datang bersama ayahnya. Kini, ada senyum merekah di bibir gadis kecil itu.
Ketika gilirannya, ia pun memeluk Lidya dan memberi banyak kecupan di pipinya. Mengucap terima kasih.
"Istri saya ditangkap atas kasus kekerasan Dok. Ia melakukan hal itu karena kecewa ditinggal oleh selingkuhannya yang menikah dengan wanita lain," jelasnya. "Kini, saya sedang mengajukan gugatan cerai."
"Dok, nggak mau belajar akupuntur?" tanya salah satu asistennya.
"Akupuntur?" tanya Lidya mulai tertarik.
"Iya, Dok. Saya punya kenalan senshei yang mahir akan hal itu, mau coba? Saya yakin, Dokter bisa mempraktekkannya dalam waktu singkat," ujarnya lagi.
"Boleh. Bisa nanti antarkan saya ke sana?" pinta Lidya.
Gadis itu haus akan ilmu. Maka segala hal yang menyangkut pengetahuan kesehatan ia pasti akan cari tahu.
waktu berlalu kini mereka berdua berada di sebuah perkampungan Cina di sebuah kota kecil di Eropa. Lidia dan asistennya tengah memandang sebuah bangunan kuno berdekorasi khas negara Tiongkok titik dengan banyak ornamen berwarna merah dan emas. asisten yang bernama Nania, mengetuk pintu yang terbuat dari kayu.
tok tok tok!
"permisi selamat sore!" ucapnya memberi salam dalam bahasa Tionghoa .
"Iya sebentar, sore juga!" sahut orang dari dalam rumah.
pintu terbuka. sosok wanita bertubuh kecil sedikit membungkuk dengan rambut beruban menyambut mereka dengan senyum yang ramah.
"ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.
"apa sinshe Shen ada?" tanya Nania.
"Ah ... ada-ada, mari masuk-masuk," ajaknya membuka pintu lebar-lebar.
Semua masuk ke dalam. Seperti dugaan Gio dan lainnya. Pasti yang ia temui pertama adalah halaman yang cukup luas dengan berbagai alat latih kungfu. Sedangkan di sebagian, terdapat meja-meja yang ditata untuk menjemur bahan-bahan obat-obatan herbal.
Sosok pria tua datang dengan tubuh sedikit membungkuk. Gio memperkirakan jika usia pria itu sekitar sembilan puluh tahun.
"Selamat datang di rumah kecilku, Tuan dan Nyonya, ah kau juga ada di sini Nania," ujarnya mengenali asisten Lidya.
"Senshei aku perkenalkan engkau pada atasan yang mengajariku," ujarnya kemudian memperkenalkan Lidya.
Pria tua itu menatap gadis bertubuh mungil. Netra gadis itu masih penuh kisah luka yang dalam, tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Bahkan sangat berbahaya jika si empunya kekuatan menggunakannya untuk kejahatan.
"Apa yang bisa kulakukan untuknya? Dia sudah bisa segalanya," ujar pria tua itu menatap takjub Lidya.
"Saya tak punya apa-apa kecuali ilmu yang sedikit, Senshei," sahut Lidya merendah.
Pria itu terkekeh, lalu menatap pria-pria yang berdiri di belakang gadis yang menutupi kepalanya dengan kain itu.
"Kau juga memiliki pengawal yang kuat-kuat," ujarnya lalu berdiri menghampiri Gio.
"Apa yang ingin kau pelajari Tuan?" tanyanya pada pria tampan dan gagah di hadapannya.
"Bukan saya. Tetapi, Nona saya yang ingin belajar Tuan," jawab Gio hormat.
"Kau tidak ingin melati titik syaraf mu agar ketika Nona mudamu tak sengaja menotok salah satu titik syaraf mu?" tanya pria tua itu.
"Dari mana anda tau, Tuan?" tanya Gio tak percaya.
"Nania yang memberitahukannya," jawabnya terkekeh.
"Ah, begitu rupanya," cicit Gio lirih.
"Kau ingin belajar apa Nona cantik?' tanya Sheng pada Lidya akhirnya.
"Akupuntur," jawab Lidya singkat dan tegas.
Pria itu mengangguk. Ia melihat aura yang begitu kuat pada Lidya, ia pun ingin mewariskan semua ilmunya pada gadis berhijab ini.
"Kalau begitu, mari kita lakukan sekarang," ujarnya kemudian.
Bersambung.
ah ... orang pinter pasti haus akan ilmu.
next?