TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN ROBERT



Hari ini, pernikahan Robert berlangsung. Pria itu menikah dengan gadis berusia tiga puluh tahun sedang Robert berusia tiga puluh tiga tahun. Mereka baru saja melaksanakan pemberkatan nikah di gereja terdekat.


Terra dan Haidar menyalami sepasang suami istri itu. Robert memeluk erat Terra. Ia mengucap terima kasih atas kedatangan wanita baik itu.


"Hei, kau memeluk istri orang!" seru Haidar kesal.


Robert terkekeh. Terra sudah seperti saudara perempuan baginya. Istrinya telah ia ceritakan kebaikan atasannya itu.


"Terima kasih, Nyonya sudah datang ke pesta sederhana kami," ujar gadis cantik itu.


Setelah berfoto. Satu persatu keluarga Terra memberi selamat pada pria yang mengabdikan hidupnya bersama Terra.


Darren bersama pasangannya. Begitu juga Lidya. Nai datang bersama saudara-saudaranya. Bart memundurkan kepergian semua cucunya ke Eropa karena permasalahan pada struktur management.


"Wah, Om Robert ninggalin Nai," seloroh gadis itu.


Robert tentu tertawa mendengar selorohan sang gadis. Pria itu yang dulu selalu menjadi objek gombal Nai ketika bayi. Pria itu yang sangat paham bahasa para bayi. Waktu itu Robert masih berusia remaja.


"Oh, ini Nona Nai yang dulu tukang gombal itu ya?' ledek istri Robert.


"Iya, sampai sekarang saya masih suka gombal sama cowok," sahut Nai tak masalah dengan ledekan istri pengawalnya itu.


Robert melirik wanita yang baru ia nikahi itu. Dilirik sedemikian rupa oleh sang suami. Membuat wanita itu langsung bungkam dan kini banyak tersenyum.


Pesta meriah. Rion naik ke panggung. Remaja tampan itu membuat para gadis yang hadir histeris. Semua pengawal menjaga di bibir panggung.


Rion bersama empat perusuh. Sedang yang lain menikmati hidangan.


"Palo ... pemamat sole," sapa Bomesh memegang mik.


Rion berada di depan organ. Remaja itu sudah bisa memainkan alat musik tersebut. Satu lagu dangdut akan memeriahkan suasana.


"Yan ... yan ... yan ... diboyan-boyan yan ... put ... but ... put ... yot pita beuldanput ....!"


Domesh menyanyikan lagu sambil bergoyang pinggul. Virgou dan lainnya sudah di bawah panggung berjoged.


"Yan ... dipoyan, dipoyan yan ... sel ... pandud ... pandud ... pandud ... poha!'


Terra menghela napas panjang. Ia melihat seluruh keluarganya memporak porandakan pesta yang terbilang elit ini. Tak ada yang berani melarang. Ketua dari SavedLive berada di tengah pesta dan sedang berjoged riang.


Kedua orang tua mempelai membiarkan kerusuhan yang terjadi.


"Kak, apa mereka seperti ini ya?" tanya gadis yang menjadi istri Robert.


"Kan aku sudah bilang, jika memang mereka semua begitu?"


Robert memasang wajah tak suka pada istrinya yang berdecih.


"Jangan buat aku menyesal menikahimu, Celia!" bisik Robert dingin.


Celia terdiam. Pernikahan ini memang pernikahan paksa. Usianya yang terbilang cukup tua membuatnya menuruti orang tuanya ketika mengajukan Robert untuk menjadi suaminya.


Celia pun kembali berwajah ceria. Gadis itu harus merubah sifatnya. Ia jatuh cinta pada suaminya ketika dijodohkan padanya.


Suasana pun mulai sepi. Anak-anak yang tadi menghebohkan panggung sudah pulang bersama orang tuanya.


Kini Terra menuju mansion mertuanya. Kanya memanggil semua karena rindu.


"Kalian harus menginap!" titahnya.


Mansion mewah itu kini penuh dengan manusia. Saf yang baru pertama kali datang begitu terpukau dengan hunian itu.


"Wah besar sekali!" serunya takjub.


Dulu ia juga pernah tinggal di sebuah mansion. Tapi tak semegah dan sebesar ini.


Maria, Terra, Puspita dan Seruni, Gisel dan Khasya menidurkan anak-anak di kamarnya. Keempat perusuh plus adik-adiknya kelelahan dan tertidur.


"Ah, kalian memang penghibur hati!" gemas Khasya mencium Bomesh.


Kanya yang mengikuti mereka menciumi satu persatu anak-anak. Ia juga gemas dengan kecerdasan empat perusuh itu.


"Mama sampai berulang-ulang melihat video mereka yang bergosip," ujarnya.


Setelah puas menciumi para bayi. Mereka pun kembali ke ruang tengah. Di sana ada tiga kelompok. Para ayah, para perempuan dan para remaja laki-laki.


"Wah, mereka membentuk kelompok sendiri-sendiri?" tanya Puspita bergumam.


"Kalian tengah diskusi apa?" tanya Kanya lalu duduk di samping Kean.


"Ini Oma. Kami tengah berdiskusi tentang keberangkatan kami. Kata buyut, ternyata ada peraturan baru di Eropa masalah kepemimpinan," jawab Kean.


"Ah, Alhamdulillah ... akhirnya kalian nggak jadi pergi ke Eropa dalam waktu dekat," ujar Kanya bersyukur.


Bart berdecak kesal. Ternyata, ia harus menunggu sampai usia cicitnya tujuh belas tahun paling muda.


"Padahal di sini sudah lebih maju dan membiarkan anak-anak yang berpotensi memegang kendali bisnis!" keluh Bart kecewa.


"Ma, apa kita harus melamar kerja lagi? Sebenarnya sih nggak masalah, nggak kerja. Sean mau fokus sama usaha cuci mobil Sean dulu," ujar remaja itu.


"Ya, sayangnya kalian harus melamar lagi. Karena kemarin kalian sudah mengundurkan diri," jelas Terra sedikit menyesal.


Tapi peraturan perusahaan harus diutamakan. Mereka memang pemilik atau pengendali penuh pada perusahaan. Tapi, banyak penanam modal di sana. Terra tak mau mencoret citra. Terlebih kasus keturunan kemarin masih menjadi buah bibir.


"Iya, Kean juga punya bisnis pembuatan sepatu. Sepertinya Kean mau fokus di sana dulu," ujar Kean.


"Calvin juga ah. Usaha food court juga mesti diurus dan harus diperhatikan penuh."


"Al juga punya usaha barber dan cafe. Perlu banyak pembenahan serius!"


Semua anak memiliki usaha mereka sendiri. Satrio juga memilih mengurusi usaha teh kemasan yang telah ia bangun ketika awal kuliah. Satrio bersama Arimbi membangun usaha itu dari nol.


Para orang tua tak bisa berbuat banyak. Mereka membiarkan kegiatan anak-anak selagi itu tak melanggar hukum. Bahkan Herman pun tak bisa mencegah putranya yang fokus pada usaha bersama saudara kembarnya.


"Kalian hebat. Di usia masih belia sudah mendirikan usaha di luar kendali kami," sahut Bart bangga.


"Nai saja nih yang belum punya usaha," sela gadis itu.


"Kamu gabung sama aku aja Nai," ajak Calvin.


"Atau kamu buka usaha kue. Kamu kan bisa bikin kue seperti Mami Seruni," ujar Arimbi lagi.


Dimas, Maisya, Affhan, Kaila, Dewa, Dewi, Ella, Sebastian, Billy, dan Martha telah tidur di kamar mereka. Widya bersama Martha, Ella, Maisya dan Kaila.. Ia sudah kelelahan dan tidur.


Seruni menggeliat. Ia pamit tidur. Wanita itu naik ke atas bersama bayinya yang sebentar lagi satu tahun. Harun dan Azha hanya beda dua bulan saja sedang dengan Arion dan Arraya beda empat bulan.


"Jadi Gabe pulang minggu depan?" tanya Bram.


Gabe mengangguk Leon dan Frans sudah meneriakinya agar pulang cepat.


"Ya, lagi pula sekolah sudah di mulai," jawab pria tampan itu.


"Yah, sepi lagi deh," keluh David.


Memang David dan Gabe begitu dekat. Kini Gisel tengah menggelayuti kakak laki-lakinya itu.


"Kamu hamil kok manjanya sama Kakak, sih?" sindir Gabe.


Gisel hanya merengek. Bart menggeleng dengan kelakuan cucunya. Sedang Budiman hanya melihat kelakuan istrinya.


"Apa kamu masih belum berani melihat Gisel diperiksa?" tanya Gabe pada adik iparnya.


Budiman terdiam. Kemarin ia baru saja melihat embrio milik Lidya. Pria itu hanya menghela napas panjang.


"Mungkin masih takut, Kak," jawabnya lirih.


"Ya, sudah. Biar aku yang akan menemani Gisel melahirkan nanti," sahut Virgou menepuk bahu Budiman.


"Ah, Iya nggak sabar anak Iya lahir!" celetuk Lidya.


Semua menoleh dengan wajah takut. Terra apa lagi, wanita itu tak bisa membayangkan putri kesayangan akan merintih kesakitan ketika berjuang melahirkan.


bersambung.


ah ... next?