
Malam menjelang, anak-anak sudah tidur di kamar mereka. Setelah drama Rion, yang menguras air mata. Bayi montok itu tidur diperlukan ibunya.
Berkali-kali Terra mencium Rion dengan penuh kata maaf. Ia tak bermaksud menyakiti hati kecil putranya. Ia sangat tahu, bagaimana bayinya melewati ketegangan sebelum ada ditangannya.
Virgou juga jadi merasa bersalah. Ia ikut andil dengan semua kelakuan yang Rion lakukan sekarang. Pria itu juga memberikan dekapan hangatnya, ia yang membawa bayi menggemaskan itu ke kamar Terra. Memeluknya sebentar.
Setelah itu, ia juga memeluk Lidya. Menumpahkan semua kasih sayangnya. Ia mencium keduanya. Setelah yakin keduanya terlelap. Pria itu masuk ke kamar Darren.
Pria kecil itu sudah terlelap. Ia kelelahan dengan banyak kegiatan sekolah. Terra menyuruh putranya untuk mengurangi beberapa kegiatan agar sang putra tak kelelahan. Darren akan meninggalkan kegiatan olah raga sepakbola nya. Selain ia memang tidak mahir di sana. Ia juga seperti merasa sedikit dibully. Hanya saja, ia tidak mengatakan itu pada ibu dan ayahnya.
Virgou mencium kening Darren. Membenahi selimutnya. Lalu mengganti lampu kamar dengan lampu tidur. Ia pun menutup pintu rapat. Terra sudah memegang laptopnya. Begitu juga Haidar. Bart hanya menonton saja. Virgou juga mengambil laptop. Sedang Budiman tengah bertugas untuk mengamankan situasi rumah. Tim bergerak mengelilingi rumah Terra selama pesta otak di mulai.
Budiman menggunakan BraveSmart ponsel nya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Terra.
Semua mengangguk dan mengacungkan jempol mereka.
"Kita mulai!' seru Terra sambil menyeringai.
Wanita itu mulai memasuki ranah pasar malam. Ia sengaja menggunakan akun BlackLion miliknya. Haidar juga tengah mencari situasi yang layak memulai kekacauan. Virgou pun sudah menarik beberapa data yang terlempar di pasaran. Yang ia duga adalah data perusahaannya.
"Te, mereka merubah dataku seperti data mainan. Harganya murah Te!" pekik Virgou tak terima.
"Itu hanya jebakan, hati-hati, Kak. Mereka belum melempar data inti yang dicuri. Itu baru sampulnya!'
"Ah, ya ... tidak apa-apa. Gerakan ku bisa mereka baca. Biar aku lempar lagi kulit-kulit kosong itu," saut Virgou dengan seringai licik.
"Jangan lupa pakai isi, Kak!' saut Terra.
"Oteh!' saut Virgou lagi.
"Hai-hai-hai ... ini dia. Pasar dimulai. I am coming baby!" pekik Haidar kegirangan setelah melihat situasi yang bagus untuk membuat kekacauan.
Terra juga melihatnya. Lalu data-data itu pun datang dengan speed di atas rata-rata. Mata harus jeli gerakan harus cepat. Tidak ada yang bersuara kecuali bunyi keyboard yang diketik.
"Mampus Lo!' pekik Virgou dengan seringai buas.
Pria itu kalap. Terra tertawa melihat beberapa akun dibakar oleh akun Virgou. Ia pun membantu menyelusup pada akun-akun mencurigakan. Mereka masih terus berkutat pada layar laptop mereka. Bart menguap. Ia mengantuk. Memutuskan masuk ke kamarnya, lalu tidur.
Banyak peretas yang mati di tangan mereka bertiga. Haidar juga makin kesenangan mendapat mainan baru. Begitu juga Virgou.
"Kita berhenti di detik ke lima!" titah Terra.
"Kita berhenti ...," Terra menghentikan ucapannya.
Haidar dan Virgou mulai menutupi jejak dengan cepat, tanpa ada bekas. Pengacak lokasi sudah dialihkan di sebuah dermaga yang menyelundupkan ribuan manusia dengan berbagai usia.
"Sekarang!"
Semua mengangkat tangan mereka. Terra membereskan semuanya dengan serangan terakhirnya.
Sektor M mati lampu mendadak. Sektor M adalah di mana pasar gelap diadakan. Lokasi bertepatan pada radius 156kilohertz.
Pasar yang berbentuk jaringan internet yang menghubungkan semua jual beli mafia hangus terbakar. Mereka kehilangan kontak juga lokasi penyeludupan.
Transaksi pun lenyap seketika. Uang mereka hilang tak berbekas. Tentu Sudah dipersiapkan siapa yang menjadi kambing hitam.
Klan DarkBlood jadi sasaran. Semua transaksi menumpuk di rekening mereka.
Terra menutup laptopnya. Haidar meletakkan benda persegi empat itu ke lantai. Lalu menggeser tubuhnya ke sang istri. Memberi pelukan erat.
"Wah, aku tak merasa sebahagia ini!" pekiknya kesenangan.
Virgou mengangguk setuju. Para mafia di luar sana kini saling membunuh. Polisi makin gampang menangkap para cere yang keluar dari sarang karena para ketua mereka saling membunuh. Mereka tidak mau mati konyol. Kecuali para pengikut setia.
Selama tiga bulan ke depan, negara aman dari tindak ilegal para oknum petinggi negara yang bekerja sama dengan mafia.
Para mafia harus memulai organisasi mereka setelah perbaikan sistem dan sebagainya. Akan terjadi perebutan kekuasaan.
"Alhamdulillah, semua aman!" seru Budiman, setelah melacak keamanan sekitar.
"Aku jadi lapar," ujar Haidar.
"Aku juga," sahut Virgou.
"Saya juga," Budiman memegang perutnya yang tiba-tiba berbunyi.
Terra tertawa.
"Mau mie instan?" tawarnya.
Ketiganya menoleh. Pria-pria penganut hidup sehat itu sangat anti yang namanya makanan instan. Tapi, hanya itu yang cepat.
"Baiklah, tapi dengan sayur dan telur," ucap Haidar setuju.
"Aku mau pake sosis!" pinta Virgou.
"Saya juga!" Budiman pun ikut-ikutan.
Terra dengan senang hati menyiapkan semua. Memasak empat bungkus mie instan. Memotong sayuran dan sosis juga menambah telur di masing-masing masakan mie.
Setelah di tuang ke dalam mangkuk masing-masing. Terra menyajikannya dibantu oleh Haidar membawanya ke meja makan.
Terra melihat satu bungkus besar kerupuk di lemari. Mungkin itu punya bik Romlah atau bik Ani.
"Bik minta kerupuknya, ya," ujar Terra dengan suara kecil.
"Iya, ambil aja," jawabnya sendiri.
Ia pun terkikik geli. Langsung mengambil satu bungkus kerupuk itu dan membawanya ke meja makan.
Melihat ada kerupuk..Virgou langsung menyambarnya. Lalu mengambilnya. Budiman ikut mengambil kerupuk tersebut begitu juga suami Terra.
"Ih, Te nggak kebagian!' sungutnya.
"Nih, ada remahannya," ujar Virgou langsung menuang remahan kerupuk di atas mangkuk Terra.
Terra mengerucutkan bibirnya. Ia yang minta kerupuknya secara diam-diam malah ia yang tak dapat. Melihat itu Haidar pun membagi kerupuk, tapi hanya bagian kecil saja.
"Perempuan nggak boleh makan banyak-banyak malem-malem. Ntar endud," ujarnya enteng.
Terra kesal bukan main. Bibirnya terus cemberut. Virgou sampai mengancam akan menghabisi mie di mangkuknya jika ia terus-menerus cemberut seperti itu.
"Hayo di makan. Entar aku ambil nih mienya mumpung masih lapar."
Terra buru-buru memakan mienya. Ia tentu tak mau jika makanannya diambil lagi.
"Ah ... lama!'
Virgou menarik mangkuk Terra dan menghabiskan isinya yang tinggal separuh. Terra merengek.
Haidar langsung menyuruh sikat gigi dan tidur. Terra menurut. Ia tak mau cuci piring. Budiman yang menggantikan tugas Terra membersihkan meja makan, juga mencuci piring mereka.
"Kita duduk-duduk dulu, baru makan, nggak bagus langsung tidur," ujar Haidar duduk di ruang tengah.
Mereka bertiga duduk, mengobrol apa saja. Kadang terselip tawa ketika mereka bicara.
Lima menit kemudian, Virgou dan Haidar beranjak dari tempat duduk mereka. Lalu masuk ke kamar masing-masing.
Virgou tidur di ruang depan bersama Bart. Sedang Haidar masuk ke kamar bersama Terra dan dua anaknya Malam ini giliran Budiman berjaga.
Pria itu merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Pintu dan gerbang sudah tertutup rapat. Para tim juga bergantian. berjaga.
Sekedar melepas lelah. Budiman memejamkan mata, namun telinganya masih terus terhubung dengan timnya.
bersambung.
pesta beres ... otak othor yang panas ...
next?