
Paginya, Lidya, Putri dan Safitri pulang ke rumah mereka masing-masing. Aini baru datang dan langsung ke ruang kerjanya. Pasiennya sudah banyak yang mengantri.
Begitu sampai rumah. Lidya langsung membersihkan diri dan tidur, ia terlalu lelah. Terra masuk kamar adiknya tersebut.
Perlahan ia mengusap rambut Lidya yang ikal kemerahan. Dikecupnya perlahan kening sang gadis. Ada sedikit rengekan manja di sana. Terra tersenyum, ia suka dengan suara rengekan itu.
"Kau cepat sekali besar sayang. Sebentar lagi aku akan jarang melihatmu, karena kau akan ikut suamimu," ujarnya dengan mata menggenang.
"Mama," panggil Lidya dengan mata tertutup.
Terra tersenyum, rupanya gadis itu mengigau. Wanita itu kembali mengecup sayang. Lalu perlahan meninggalkan Lidya yang kelelahan.
Ponselnya berdering, tulisan Nai ada di layar.
"Halo assalamualaikum!" sahutnya langsung mengangkat telepon.
".......!"
"Apa katamu, Baby!' pekik Terra tak percaya.
"......!"
"Baik Baby, Mama ke sana segera!" ujar Terra menutup sambungan telepon setelah mengucap salam.
Wanita itu langsung pergi ke kamarnya dan berganti baju. Celana jeans belel dan kaos hitam sedikit longgar. Terra mengingat rambutnya. Netranya nampak memerah menahan kemarahan luar biasa.
"Akan kuhancurkan siapa pun yang menjamah putriku!" tekadnya dengan kerling mata sadis.
Terra mengambil ponsel dan menaruhnya dalam saku celana begitu juga dompetnya. Wanita itu pun bergegas keluar rumah.
"Mama!" panggil Rion.
Terra terkejut bukan main. Wanita itu lupa jika Rion akan pulang setelah keluar kota kemarin. Remaja itu sangat lelah.
"Mau ke mana?" tanyanya.
"Kamu, istirahat aja ya. Mama ada urusan sebentar," jawab Terra setenang mungkin.
"Apa Mama pikir Ion masih kecil, hingga gampang dikelabui?" sindir remaja tampan itu bertanya.
Terra tersenyum kikuk. Tentu Rion sangat paham gelagat ibunya terlebih Terra memakai pakaian premannya.
"Mama ... Mama ...."
"Ck ... Ion ikut!" pungkas remaja itu tak bisa ditolak oleh Terra.
Akhirnya bersama Lilo dan Andre. Terra dan Rion pergi ke kampus di mana Nai berada.
Beberapa jam sebelumnya.
Nai yang baru selesai mengerjakan koasnya harus kembali ke kampus untuk memberikan beberapa laporannya. Gadis itu tahun ini akan segera mendapat gelar kedokterannya bersamaan dengan Arimbi dan Daud. Mereka tidak koas di tempat yang sama. Tempat koas Arimbi jauh dekat pelabuhan angkut batubara. Nyaris semua pengawal ikut dengan gadis itu karena memang daerahnya cukup rawan. Sedang Daud jauh lebih aman karena dekat perkotaan bahkan sebelah kliniknya dekat dengan kantor polisi dan perumahan tentara. Nai koas di permukiman padat penduduk dengan berbagai status sosial. Dekat dengan rumah Maria. Gomesh sering dipinta Virgou untuk menjaganya.
Karena memang kurang pengawal dan Nai sedikit menyulitkan karena sifatnya yang tomboy.
Ketika beranjak remaja sifat Nai dan Arimbi jadi tertukar. Dulu, Arimbi yang galak dan tomboy kini berubah manis dan sangat kalem. Sedang Nai, gadis itu berubah karena pergaulan di tempat koasnya.
"Hei, cewek!" goda salah satu mahasiswa.
Nai baru saja sampai universitas milik kakeknya. Tadinya, gadis itu tak begitu menanggapi. Pengawalnya Dion sedang memarkir mobilnya. Gomesh tak menjaganya hari ini..Pria raksasa itu keluar bersama David ke sebuah kota. Virgou mengurusi perusahaannya.
"Eh, lewat aja nih, Bu calon dokter," goda mahasiswa itu lagi.
Nai melihat lambang di almamater pemuda itu.
'Oh, mahasiswa teknik mesin,' gumamnya dalam hati.
"Hei ... neng! Dipanggil diem aja! Gagu ya!" sentak pria itu mengatai Nai.
Nai yang dari dulu usil. Jadi tercerahkan.
"E .. ngo- mong ... a' pa Lu?" sentak Nai dengan nada khas orang gagu.
Pria itu terkejut bukan main. Ia tak menyangka jika gadis yang sangat cantik ini ternyata gagu. Lalu tiba-tiba ia tertawa keras.
"Hahaaha ... gue nggak percaya Lu gagu!" sentak pria itu tak percaya.
Pria itu marah bukan main. Ia tak suka jika ada gadis yang tak tertarik padanya. Dia adalah Kevin O'Leary, pria berdarah campuran Padang dan Inggris. Ketampanannya benar-benar membuat semua kaum hawa histeris.
"Kau meledekku ya!" bentaknya.
"Ih ... si-apa ya-ang nge-le-dek!" sahut Nai sambil menarik bibir miring.
"Kurang ajar!" ujar pria itu tak terima.
Kevin lalu hendak mencengkram dagu gadis itu. Belum sempat tersentuh, Nai sudah memegang dan memelintirnya.
"Aarrgghh!" teriak pria itu kesakitan.
Dengan santai, Nai mendorong kuat pria yang mungkin berusia sekitar dua puluh tahunan itu.
Kevin nyaris terjungkal jika saja pria itu tak menyeimbangkan tubuhnya.
"Bangsat ... awas aja Lo!" sentak Kevin, lalu meninggalkan Nai.
Gadis itu hanya mengendikkan bahunya. Ia pun bergegas ke ruang dewan pembimbingnya. Tak lama, Arimbi datang dengan sepuluh pengawal. Gadis itu juga sama dengan Nai. Memberi laporan. Tak lama Daud menyusul.
Para sepuluh bodyguard diminta untuk meninggalkan lorong kampus. Karena ternyata Nai, Arimbi dan Daud sedang menyusun materi kembali untuk mengambil program paska sarjana mereka.
"Kamu mau ambil spesialis jantung ya?" tanya Arimbi pada Daud.
"Iya, aku mau ambil bagian itu. Secara kita punya orang tua yang sudah lumayan tua. Aku mau bisa membantu mereka walau sedikit," jawab Daud.
"Kalau kamu?" tanyanya kini.
"Nai, mau ambil genekolog, atau alat reproduksi masalah kehamilan. Mau seperti Ibu bidan Safitri," jawab Nai terselip rasa bangga.
"Aku juga mau ambil sama kek kamu, ah Nai!" sahut Arimbi juga.
"Aku kangen tau sama Bu bidan," ujar Daud tiba-tiba.
Nai dan Arimbi terdiam. Kemarin mereka juga berebut perhatian bidan cantik itu. Safitri tak pernah merasa kesusahan menjawab semua pertanyaan mereka.
"Bu bidan kek Mama ya, serba tau," sahut Nai dengan mata menerawang.
"Pangsit rebus buatannya, eennaaakkk banget!' puji Arimbi mulai ngiler.
Sedang di tempat lain. Saf yang sedang istirahat bersin-bersin tak karuan.
Kembali ke kampus. Ketiga bersaudara itu keluar ruangan. Beberapa pengawal memang sudah tak ada di sana. Mereka diminta menunggu di parkiran. Mobil ketiganya cukup jauh dari tempat biasanya.
Tiba-tiba ada sepuluh orang mengepung ketiga bersaudara itu. Arimbi, Nai dan Daud melihat mereka. Nai mengenali salah satunya. Pria yang tadi menggodanya.
"Wah, ada apa ini?" tanya Arimbi bingung.
Tak ada ketakutan di wajah ketiganya. Mereka malah berwajah polos.
"Gue nggak ada urusan dengan kalian. Gue cuma mau dia!" tunjuk Kevin pada Nai.
Nai mengerutkan keningnya. Ternyata pria itu dendam karena telah didorong olehnya.
"Sayangnya, apa yang jadi urusan dia jadi urusan saya," sahut Daud santai.
Melihat kepolosan Daud dan bergemingnya Arimbi. Membuat Kevin jadi di atas angin. Ia mengira bisa membodohi ketiganya.
"Ya, sebenarnya gue nggak tega buat nyakitin kalian bertiga, terlebih dia," ujarnya sambil menyeringai licik.
"Gue bakal bebasin Lo semua dengan syarat ...."
Kevin menggantung ucapannya.
"Dia mesti cium gue!" lanjutnya sambil menunjuk Nai.
bersambung.
Aha ... ada lagi yang cari mati.
next?