
Kemarin, Aini dan Gio serta dua adiknya tak mengikuti tujuh bulanan kandungan Lidya dan Safitri. Gio kembali melayangkan cuti karena sang istri ingin melahirkan di kampung halaman.
Keempatnya mendatangi makam kedua orang tua Aini dan memanjat doa. Gio memilih menyewa sebuah rumah dibanding menginap di sebuah hotel.
"Sayang, ini hunian sementara kita di sini," ujar Gio ketika masuk sebuah rumah yang cukup besar dengan perabotan mewah di dalamnya.
"Sayang, ini mewah sekali," ujar Aini tak enak.
"Tidak apa-apa. Kita berdoa agar punya rumah seindah ini suatu hari ya," ucap Gio lalu memeluk istrinya.
"Mba, di luar ada ayunan dan perosotan!" seru Ditya senang.
Hal itu membuat Aini melepaskan pelukannya. Ia masih malu jika bermesraan jika ada dua keponakannya itu.
Radit sudah bermain sendiri di sana. Gio berpikiran akan membuat taman bermain di halaman rumahnya nanti.
Lain Gio, lain pula Jac dan Putri. Keduanya tak bisa menghadiri acara tujuh bulanan karena mereka ikut bersama dengan keluarga ke kampung halaman kakek nenek dari Putri.
Mereka mendatangi sebuah perkampungan yang sangat sejuk dan dengan pemandangan sawah membentang. Kata Dipto, ini adalah surganya padi. Bahan pemasok makanan terbesar berasal dari kampung mereka. Selain dari kota C, di Jawa barat.
"Ini dulu, sebagian adalah tanah leluhur. Makanya tak ada yang berani menjualnya pada para pengembang," sahut Dipto memberitahu.
Jac hanya diam menanggapi. Matanya masih ia manjakan dengan pemandangan indah. Ia berpikiran untuk memberitahu atasannya dengan mengirim foto pemandangan cantik.
Jac mengabadikan perjalanan dalam ponselnya.
'Aku yakin, Boss iri lihat ini semua!" gumamnya dalam hati.
Putri yang mabuk, hanya tidur dalam pelukan ibunya. Usia kandungan Putri hanya beda satu bulan saja.
"Yuk, kita turun. Sudah sampai," ajak Dipto dengan suara berat.
Mereka sampai di sebuah bangunan sederhana yang lumayan besar. Pohon mangga tegak berdiri di halaman. Buahnya sudah banyak dibungkus agar tak dicuri kelelawar.
"Dipto!" sebuah suara yang membuat mertua Jac itu kaku.
Jac menatap sosok wanita bungkuk dan kurus. Kepalanya hanya ditutup selendang. Ia menatap sosok pria yang berusia lima puluh lebih itu.
"Bu," suara berat memanggil sosok renta itu.
"Dipto putraku!"
Wanita itu setengah berlari. Dipto tak kuat ia juga berlari menyambut tubuh renta itu. Keduanya berpelukan dalam tangisan.
"Kamu kemana saja le? Kenapa kamu pergi dan menghukum ibu begitu lama, le?"
Wanita keriput itu terus menepuk lengan putranya. Seakan menyalurkan kemarahannya.
Dipto bersujud di kaki ibunya. Ia memohon ampun atas kedurhakaannya selama ini.
"Nyuwun pangapunten Bu ... ngapunten putra panjenengan ingkang duraka punika!" (Mohon ampun Bu. Ampuni anakmu yang durhaka ini!) pinta Dipto dalam tangisan penyesalannya.
Perempuan itu terduduk dan menangis di atas punggung Dipto. sedang Nania, Septian, Putri dan Jac, masih setia berdiri di belakang pria yang kini bersujud di kaki ibunya.
Beberapa orang keluar yang tadi mendengar teriakan wanita itu memanggil seseorang yang telah lama pergi.
"Bu, sudah. Ajak mereka masuk!"
Salah seorang perempuan berkerudung kuning menenangkan wanita yang tengah menangis.
Wanita renta itu menatap empat orang di hadapannya. Ia mengenali wanita yang berusia nyaris setengah abad, namun tidak yang lainnya. Ia makin kaget ketika melihat perawakan Jacob yang bule.
"Bu," panggil Nania sangat pelan.
Wanita itu masih takut mendekati wanita tua bungkuk yang dulu menentangnya.
"kene, Nduk!" (Kemari sini, Nak!) pinta wanita sepuh itu.
Nania mendekat. Wanita itu lalu merengkuh tubuh Nania dan menangis. Ia meminta maaf dan begitu menyesali perbuatannya dulu. Dipto masih terisak, ia sudah berdiri dibantu salah satu kerabatnya. Bahkan salah satu mengajak, Septian, Putri dan Jac masuk. Tapi ditolak oleh ketiganya.
"Ayo, masuk nggak apa-apa," ajak seorang wanita yang tetap ditanggapi gelengan ketiganya.
"Bu, ini anak dan menantu kami," ujar Nania memperkenalkan putra dan putrinya serta menantunya.
"Putri mbah," sahut Putri memperkenalkan dirinya.
Wanita itu mencium punggung tangan nenek itu dengan takzim. Septian mengikuti kakaknya lalu terakhir Jac.
"Saya Jac, mbah!" sahut Jac memperkenalkan diri.
Jac merona malu. Ia tersipu.
"Mashaallah, kowe ki nggantheng, le!" (Mashaallah, kamu juga tampan le!) puji wanita itu lagi.
"Alhamdulillah, makasih mbah!" sahut Jac malu setengah mati.
Mereka pun masuk. Banyak obrolan yang pria bule itu tak mengerti karena kebanyakan bahasa Jawa. Ia hendak bertanya pada ibu mertuanya. Tapi, melihat situasi tak mendukung. Jac memilih diam.
"Mba, aku udah lupa bahasa daerahku sendiri," bisik Septian.
"Podo, mba aja kurang ngerti," bisik Putri juga.
"Ah, maaf nduk. Itu cucuku sedang hamil berapa bulan?" tanya sang nenek.
"Sudah delapan bulan, mbah," jawab Nania dengan senyum lebar.
Wanita sepuh bernama Surtini itu menatap binar kerinduan pada cucunya itu. Ia berterima kasih bisa menemui salah satu keturunannya.
Malam berlalu. Jac baru pulang dari musolah dekat rumah neneknya Putri. Bahkan ia didaulat menjadi imam di sana. Jac tersenyum sinis ketika mengingat kejadian tadi.
"Loh, kamu islam toh?" tanya Pakde Hardjo.
Hardjo merupakan kakak mertua dari Jac yang nomor empat. Dipto merupakan putra ke tujuh dari sembilan bersaudara.
Banyak saudara Dipto sudah meninggal dunia. Bahkan keponakannya juga banyak yang meninggal.
"Alhamdulillah saya islam, pakde!" sahut Jac dengan senyum tipis.
"Wah kalau begitu bisa dong jadi imam!" celetuk kakak Dipto satu lagi, bernama Diryo.
Semua menoleh pada pria yang memiliki ide itu. Tampak seringai meledek di wajah pria bernama Diryo itu di pandangan Jac. Sedang Dipto hanya mendengkus kesal pada dua kakaknya yang masih memandang rendah keluarganya.
"Tak masalah," sahut Jac tenang ketika dirinya ditantang oleh pria yang memandang rendah dirinya.
"Sudah, jangan ditanggapi," ujar salah satu pria yang usianya lebih tua.
"Tidak apa-apa, Pak Rahmat. Inshaallah saya hapal surah-surah pendek," sahut Jac setenang mungkin.
Ada tawa kecil seakan tak percaya pada perkataan Jac. Rahmat sangat kesal dengan tawa sinis itu. Maka, dengan berani ia menyerahkan posisi imam yang ia emban selama puluhan tahun.
"Ya nggak apa-apa, palingan kita dosa bareng," gumam Haryo sinis.
Tak ada yang menanggapi pria itu kecuali Diryo, adik nomor enam, kakak Dipto.
"Luruskan saf!" titah Jac.
Semua meluruskan dan merapatkan saf.
"Allahuakbar!"
Jac bertakbir. Semua mengikuti. Lantunan demi lantunan ayat diperdengarkan. Suara Jac sangat merdu bahkan ia membaca semua ayat dengan bacaan yang benar. Tak sedikit jemaah yang hadir ikut tergetar mendengar ayat-ayat yang dilantunkan oleh Jac.
"Bang!"
Lamunan Jac mengingat kejadian di musolah bubar. Septian mendekatinya, Putri sudah tidur di kamarnya.
"Maaf atas yang tadi di musolah," ujar pemuda itu sambil duduk di kursi rotan.
"Tidak apa-apa," ujar Jac.
Wajah Jac tiba-tiba gelisah. Ia takut dirinya menjadi riya' karena barusan ia memamerkan bacaannya yang mungkin saja salah.
"Kenapa Bang?" tanya Septian khawatir.
Jac beristighfar. Ia menggeleng lalu tersenyum.
"Saya akan menikmati suasana indah ini," ujar pria itu.
Septian menatap apa yang ditatap kakak iparnya Melihat dari kejauhan dua ekor kunang-kunang yang saling berkejaran.
"Mashaallah ... indah sekali!" puji Jac takjub.
bersambung.
next?