TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SOMBONG ITU PADA TEMPATNYA 2



Para tamu Haidar, Virgou, dan Herman membaur dengan tamu lainnya. Para ibu-ibu tetangga gadis itu nampak gugup ketika ditanya oleh Terra.


"Ibu sudah kenal sama Seruni berapa lama?"


Ibu-ibu itu gugup. Terra yang memakai gamis berbahan brokat warna pink sedang kepalanya terbungkus hijab warna emas.


"Mba Seruni jarang ngumpul sama kita-kita, Neng," jawab ibu-ibu itu..


"Ah, maaf itu suaminya Mbak Seruni kenal di mana ya?" tanya ibu tadi penasaran.


"Oh, itu karena Allah yang menggerakkan hati adik saya, melihat bibit bagus," jawab Terra tegas.


"Tapi, maaf nih, Neng. Seruni itu cacat loh, kakinya bengkok. Makanya dia malu nutupin cacatnya pake gamis," sahut ibu tadi memberi tahu dengan berbisik..


"Oh ya?" tanya Terra pura-pura terkejut.


"Iya, kita tahu, karena waktu itu, Seruni nggak sengaja kesingkap gamisnya karena angin. Untung cuma kita-kita yang liat," jelasnya lagi.


"Oh begitu," kini Terra mulai risih dengan lingkungan di sekitar.


'Tempat ini bakalan menjadi racun untuk Seruni dan Dav nantinya,' gumam Terra dalam hati.


"Duh, Mba pasti belum tau itu kan?" tanyanya sambil mencibir.


"Saya sudah tahu, kok!" jawab Terra lalu berdiri dan meninggalkan ibu-ibu itu.


"Wah ... Alhamdulillah. Uang amplop aman," ujar ibu-ibu yang baru mendaratkan bokongnya di kursi.


Wanita itu membawa piring berisi nasi dan banyak lauk. Ia pun memakan dengan lahap.


"Eh, lihat deh tuh orang-orang kaya. Ternyata mereka makan juga di tempat pesta ya," ujarnya sambil mengunyah nasi hingga beberapa muncrat dari mulutnya.


Anak-anak sudah selesai bernyanyi. Itu juga baru sebagian. Belum semuanya. Mereka keburu lapar.


Sedang Dav juga sudah lapar. Ia mengajak istrinya untuk makan dan meninggalkan pelaminan. Karena tamu hanya sedikit, jadi keduanya kini pergi ke meja makan. Pelaminan diduduki oleh Nai, Maisya, Arimbi, Ella. Gabe datang setelah anak-anak bernyanyi. Ia membawa tiga anaknya Gabriella, Sebastian dan Bill. Istrinya, Widya juga hadir dengan perut membuncit, usianya baru menginjak lima bulan.


Para bayi disuapi oleh ibunya. Mereka tidak memakan apa yang ada di pesta. Para ibu membawa makanan bayi mereka sendiri.


"Ma, banti Ella manyi ya," pinta Ella pada Terra.


"Boleh, sayang," ujarnya.


Ellla baru berusia empat tahun, Sebastian dua tahun setengah, dan Bill satu tahun. Mereka semua memakai bahasa Indonesia. Gabe yang menginginkan anak-anaknya berbahasa Indonesia. Bahkan, ia yang memaksa bayinya berbicara.


"Daddy Gabe udah kaya Ion deh. Maksain anaknya ngomong," adu Widya.


"Yang sabar ya," ujar Khasya pada wanita itu.


Masalahnya, suaminya juga dulu begitu. Puspita pun mengangguk, Virgou tak jauh beda. Maria yang tak masalah, karena suaminya tak melakukannya.


"Rion's syndrom itu benar-benar menular dan menjangkiti semua orang ya!" ujar Terra.


Semua mengangguk. Menatap pria remaja yang tengah memikirkan sesuatu. Nai, Sean, Al dan Daud sudah selesai makan. Mereka mendatangi kakaknya. Tampak ada diskusi kecil di sana. Kemudian datang Kean, Cal, Satrio, dan Dimas juga Maisya. Lalu para balita ikut serta. Dewa, Dewi, Rasyid, Rasya dan Samudera. Tak lama para pasukan bayi ikut nimbrung. Ella, Bomesh, Sebastian, juga Bill.


Melihat anak-anak berkumpul membuat Seruni bertanya. Ia dan suaminya sudah selesai makan dan berjalan mendatangi Bart yang tengah mengobrol dengan Leon. Frans tak bisa hadir karena ada meeting yang tak bisa ditinggalkan.


"Itu anak-anak mau ngapain?" tanya Seruni sambil menunjuk.


"Biarkan mereka. Selama ada ketuanya. Mereka akan baik-baik saja," jelas Dav sambil melihat anak-anak yang berkumpul.


Tiba-tiba Rion maju ke atas panggung.


"Assalamualaikum selamat siang semuanya. Perkenalkan nama saya Rion Permana Hugrid Dougher Young. Saya adalah kemenakan dari Om David yang baru saja melepas masa lajangnya hari ini," ujarnya memperkenalkan diri.


"Dihapus ya fotonya!" pinta Budiman lembut dengan seringai menyeramkan.


"Juno, ambil ponsel mereka semua. Hapus foto-foto yang diambil jika mereka menolak, paksa!" titah Budiman dengan wajah garang.


Semua para gadis juga tak luput ibu-ibu. Semua diperiksa ponselnya. Semua foto dihapus. Bahkan para bodyguard itu mereset ponsel mereka pada menjadi data pabrik atau data awal produk itu dibeli.


"Saya akan membuat sebuah drama yang akan diperankan oleh adik-adik saya yang tidak bisa saya perkenalkan satu persatu, karena akan menghabiskan satu tahun menyebut nama-nama mereka!" seloroh remaja itu.


"Di sini saya akan menjadi narator mereka. Kita mulai dramanya!"


Darren pun mengeluarkan ponselnya. Seruni duduk di kursi tamu ingin menonton pertunjukan begitu juga Dav. Pria itu belum pernah melihat aksi anak-anaknya berakting.


"Pada jaman dahulu kala, terdapat negara dengan banyak kerajaan yang berdiri. Mereka memiliki pasukan yang kuat dan pemberani!"


Tiba-tiba Bomesh maju lalu bernyanyi.


"Atu pelolan batiten ... pupumai Pedan banjan. Talo pelalan plot ... plot ... plot .. atu belolan batiten!"


Semua tamu terbahak mendengar nyanyian bayi itu. Gomesh tidak bisa melakukan apa-apa. Pria raksasa itu ikut menjaga keamanan.


"Atu laja dali punun memelu. Atu laja satit ... eh satit ... eh ... satit ... ih ... Ata'Ion .. !" Rasya tak bisa berkata sakti.


"Sakti, Baby," sahut Rion.


"Piya, ipu matsuna!" sahutnya kemudian.


Gustaf sudah lemas terduduk bersama istrinya. Dua orang sepuh itu sudah tak sanggup lagi. Mereka minta ijin untuk pulang. Virgou dan Budiman mengantarkan dua orang tua itu.


Drama pun berlanjut, anak-anak bayi mulai lelah. Mereka bermain sambil menguap lebar.


"Tamu setalan selan pelajalan ... eum ... hooaamm .. pejajalan ... Ata' Sean!" titah Rasya sambil menguap.


"Mama, Ella nantut!" seru Ella tiba-tiba.


Gio maju dan mengambil bayi itu. Disusul oleh, Bastian, Bomesh, Sebastian dan Bill. Akhirnya tinggal yang besar tinggal di panggung menyelesaikan drama.


Semua bertepuk tangan. Para tamu bisnis ayah mereka menyelipkan uang seratus ribu pada semua anak-anak. Bahkan mengambil uang lima dolar sebanyak tiga puluh lembar dari dompet dan menyuruhnya dibagikan.


Para tetangga Seruni lagi-lagi membelalakan mata mereka. Semua menelan saliva. Setelah mencuri dengar hadiah yang diberikan pada para pengantin.


"Ini tiket ke Maldives, selama satu bulan, juga kartu akses villa untuk kalian tinggal," ujarnya memberikan dua tiket dan satu kartu pada Dav.


"Pakai jet pribadi ku ya," ujar salah seorang menimpali.


"Dia sudah punya, untuk apa kau meminta dia menaiki jet lamamu!" seloroh pria itu.


Semua tertawa mendengar candaan pria itu.


"Oh ya. Ini adalah nota lunas perhiasan dari xxxx. Kau bisa mengambil di tokonya besok atau kapan pun kau mau," ujar salah satu memberikan secarik kertas.


"Eum ... aku kasih cek dua ribu dolar untuk jajan kalian di Maldives ya," ujar salah satu menulis sebuah cek lalu memberinya pada David.


"Gila tuh orang-orang kaya. Ngasihnya kertas yang nilainya nggak keitung sama tangan," bisik salah satu ibu-ibu.


Salah satu ibu mengeluarkan isi amplop yang tadi dibawanya. Lima ribu rupiah yang sudah lusuh.


bersambung.


Ah ... emang kalo sombong itu pada tempatnya ya.


next?