
"Pulanglah sayang," pinta Virgou pada Puspita yang bersikukuh ingin bersama suaminya.
"Iya, Kak. Pulanglah. Biar kami akan menunggui monster ini!" sahut Haidar.
"Padi blatula setalan ponstel ... sepeulnalna Daddy ipu spasa sih?" tanya Rasya bingung sambil garuk-garuk kepala.
Herman tertawa mendengarnya. Ia mencium gemas bayi itu hingga protes.
"Tate!" serunya marah.
Herman tertawa. Virgou bahagia. Di masa tuannya ia mendapat kembali keluarga yang dulu ia tinggalkan. Bahkan kini bertambah banyak dengan hadirnya anak-anak di tengah-tengah mereka.
"Aku tak menyangka jika aku bisa menjadi ayah untuk semua anak-anak ku," sahutnya.
"Kau bisa. Hanya saja baru menyadarinya sekarang. Dan itu kesalahanku," ujar Bart sendu.
"Hais ... jangan berkata seperti itu. Aku bahagia mendapatkan apa yang kudapat sekarang," sahut Virgou dengan nada menyesal.
Akhirnya semua pulang termasuk Budiman dan Dav. Tinggal Haidar, Bart dan Herman yang ada di sana. Dokter.datang kembali memeriksa pria tampan dengan sejuta pesona itu.
"Kabar baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasien boleh pulang setelah jahitan di bahunya lepas," jelas dokter.
"Berapa lama?" tanya Virgou tak sabaran.
"Tiga hari paling lama satu minggu," jawab dokter.
"Lama sekali!" sungut Virgou.
"Hais ... kau ini!"
Dokter pun terkekeh. Ia meninggalkan ruang rawat exclusive itu. Virgou merasa bosan. Herman sampai memarahi pria itu.
"Ikuti kata Dokter, jika mau sembuh!"
Virgou mengerucutkan bibirnya. Haidar dan Bart terkekeh. Ia sangat senang jika ada yang memarahi pria besar itu. Tak lama Virgou terlelap. Rupanya dokter memberinya obat tidur agar pria itu bisa beristirahat dan menyembuhkan rasa sakitnya lebih cepat.
Haidar, Herman dan Bart pun duduk di sofa. Saling mengobrol tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya.
"Jadi, kau sudah mengetahui siapa yang menjadi dalang dari kejadian ini?' tanya Herman pada Bart.
"Ya, bahkan aku yakin Virgou juga sudah mengetahuinya," jawab Bart sambil menatap pria yang terlelap di kasurnya.
Semua alat pendeteksi jantung sudah di lepas tadi setelah sadar selama satu jam.
"Apa dia masih anggota mafia?" tanya Haidar.
"Ya, namanya Gorgov Folemore, Dia yang merebut klan BlackAngel milik Virgou!' jawab Bart.
"Jadi dia ingin menghancurkan Virgou dengan menyabotase perusahaan?" tanya Herman lagi.
Bart mengangguk. BraveSmart memberinya banyak informasi. Sayang, ia tak bisa melakukan apa-apa. Para pihak kepolisian telah mengumpulkan semua bukti.
"Kita serahkan kepada kepolisian jika begitu," sahut Herman.
Bart dan Haidar mengangguk. Ketika malam menjelang. Gomesh datang. Pria itu baru saja melatih para calon bodyguard di SaveLifed selama satu minggu. Ia baru mendengar kabar hari ini ketika ia pulang ke mansion. Puspita memukuli pria itu.
"Tuan!' sapanya ketika masuk ruangan.
Virgou terbangun mendengar suara pria itu.
"Gomesh!' panggilnya.
"Ya, aku tak apa-apa Alhamdulillah," jawab Virgou lalu ia pun tidur lagi.
Gomesh meninggalkan Virgou dan bergabung bersama Bart, Haidar dan Herman.
"Tuan kenapa hal seru ini terjadi ketika saya tidak ada?" keluhnya.
"Kau ini. Mau mati!" ketus Bart tak suka.
"Tadi ketika pulang, saya langsung dimarahi Nyonya dan dipukulinya karena terlalu lama meninggalkan Tuan," adunya.
"Oh ... lalu apa kau menangis karena dipukuli?" tanya Haidar sambil nyinyir.
"Yang benar saja!' sahut Gomesh memutar mata malas.
"Baiklah, kami pulang dulu. Kau tunggu Tuanmu!'' titah Bart yang ditanggapi anggukan oleh Gomesh.
Ketiga pria itu pun meninggalkan Gomesh. Ia akan menunggui tuannya hingga keluar dari rumah sakit.
Hari berlalu. Sudah tiga hari Virgou berada di rumah sakit. Kini jahitannya sudah dilepas. Dokter begitu salut dengan kekuatan pria itu. Tubuh kehabisan darah. Tak ada jaringan organ yang rusak karena tidak ada darah yang mengalir.
Gomesh yang akan menjadi supir pria itu. Mansionnya sudah penuh dengan semua anak-anak menunggunya. Virgou sidah tak sabar bertemu dengan semua anak-anak, juga merindukan wanita yang sangat ia cintai.
Butuh waktu dua lima menit ia baru sampai mansion. Benar saja begitu ia turun. Semua anak-anak berteriak dan bersorak.
"Daddy pulan ... Daddy pulan!'
"Blatula syudah datan ... payo pita pembuni!' pekik Rasya.
"Hei ... mana darah ... aku suka darah anak-anak!' sahut Virgou berakting jadi drakula.
"Daddy ... bambil paja balahtu ... atuh atan beulitan denan syenan bati!" ujar Kaila menyerahkan diri.
"Ah ... manisnya," ujar Virgou meleleh.
"Daddy tahukah engkau persamaan dirimu dan raksasa?" tanya Sean.
"Aku sama-sama besar!" jawab Virgou sedikit kesal.
"Hahaha ... Daddy benar!" jawab Sean sambil tertawa.
"Ih ... masa ngegombal kayak gitu!' protes Nai.
"Jadi gimana?" tanya Sean bingung.
"Daddy tau nggak perbedaan bulan dan matahari?" tanya Nai.
"Emmm ... nggak tau?" jawab Virgou.
"Nggak ada bedanya, sama seperti Daddy yang selalu ada untuk kami," jawaban Nai membuat Virgou tersentuh.
Ia mencium semua anak-anak. Puspita melarang anak-anak untuk minta gendong Daddy mereka.
Semua menginap. Kamar di mansion itu ada dua belas. Belum termasuk kamar para pekerja di rumah. Anak-anak Tidur di kamar paling besar. Virgou langsung mencumbu istrinya. Malam panas dilewati sepasang suami istri itu.
bersambung ...
maaf yaa Readers ... othornya lagi sakit Hipersomnia udah tiga hari ini .. jadi cuma dikit ...
next?