
Aini menelan saliva kasar. Ia belum siap jika harus bertemu dengan keluarga dari pria yang kini di hadapannya itu. Ia masih takut dan merasa tak pantas.
"Dik," panggil Darren.
Aini hanya menautkan dua tangannya saling remas. Ia benar-benar dilanda kegugupan. Darren menggenggam tangan itu, dingin.
"Aku jatuh cinta padamu," ungkap pemuda itu jujur.
"Bapak, belum melihat gadis yang lain," cicit Aini.
"Aini!" panggil Darren penuh ketegasan.
Aini menatap netra coklat terang milik pemuda di hadapannya. Ia menitikkan air mata. Darren menghapus cepat dengan ibu jarinya.
"Aku sudah bertemu banyak gadis juga wanita, tapi hanya condong kepadamu," aku pemuda itu lagi jujur.
Aini merona, ia benar-benar merasa tersanjung. Ia pun sebenarnya memiliki rasa yang sama. Sedang kedua adik gadis itu menatap dua insan yang tengah berpegangan tangan. Radit berbisik pada kakaknya.
"Mas, itu meleka ngapain pegang-pegang? Kan nggak lagi nyebelang jalan kan?" tanyanya berbisik.
Ditya juga tak tahu apa yang terjadi antara dua orang dewasa yang kini saling pandang itu.
"Nggak tau, Dek. Mungkin mereka memang sedang ingin menyebrang," jawab Ditya juga berbisik.
Mereka pun kembali bermain. Aini buru-buru melepas genggaman Darren. Ia merasa tak enak jika terlalu lama berduaan dengan pemilik perusahaan itu.
"Aku akan menjemputmu besok," sahut Darren tak bisa ditolak.
Aini hanya mengangguk. Ia pun harus bersiap untuk bertemu dengan keluarga besar, pria itu.
Setelah kepergian Darren. Tiba-tiba sosok cantik dengan pakaian ketat mendatanginya dan langsung melabraknya.
"Hei kau, dengar ya! Jangan sok kecakepan buat deketin Boss!! Urus tuh anak yatim! Jangan gatel!" bentaknya.
Aini bingung. Ia tak mengenali sosok cantik itu.
"Anda siapa?" tanya Aini.
"Loe nggak perlu kenal siapa Gue!" seru si cantik dengan nada kasar.
"Tau diri aja, Lo, miskin!" hinanya.
Wanita itu membalikkan tubuhnya. Betapa terkejutnya ia melihat Budiman ada di sana. Memandang tajam padanya. Wanita itu menelan saliva kasar.
"Gea, kau kupecat!" tandas Budiman..
"Anda tak berhak. Kamu bukan Boss saya!" sentak Gea berani.
Gea adalah resepsionis perusahaan Hudoyo cyber tech. Wanita itu sering ke perusahaan utama hanya untuk menarik perhatian Darren. Sayang, pemuda itu tak tertarik sama sekali.
"Kau lupa siapa aku, Gea?" sahut Budiman datar.
"Aku adalah adik ipar pemilik perusahaan ini. Keputusanku adalah keputusan Boss besar. Lebih baik aku yang memecatmu, karena aku hanya memberhentikan mu. Tetapi, jika Darren yang tau apa tadi yang barusan kau katakan."
Budiman menghentikan perkataannya. Gea menunduk. Ia salah orang. Semua orang tau siapa pria yang selalu mengikuti Darren sang CEO kemana pun. Bahkan setiap pertemuan pria itu diperkenalkan sebagai adik ipar atau paman dari sang CEO.
"Kemasi barang-barang mu, Gea. Sebelum, Darren yang turun tangan mengusirmu," ancam Budiman.
Gea melangkah cepat. Aini diam mematung sedang dua adiknya tampak berpelukan karena takut.
"Tenangkan adik-adikmu, Dok!" titah pria itu, lalu pergi meninggalkan Aini.
Gadis itu langsung memeluk dua adiknya. Menenangkan mereka.
"Sudah tidak apa-apa, ada Mba di sini."
Ditya dan Radit pun mengangguk. Keduanya kembali bermain. Kini mereka menjadi asuhan semua orang. Para medis di rumah sakit selama bergantian menjaga mereka jika Aini sibuk bekerja. Profesor Rini yang selalu menemani mereka.
Aini kembali meminta adik-adiknya menunggu di ruangan, karena. tiba-tiba ia dipanggil untuk ke sebuah lokasi kecelakaan kerja. Ketika ia keluar, dirinya kaget mendapati dua pengawal di depan pintu.
"Anda mau kemana, Nona?" tanya salah satu pengawal.
"Saya mau ke lokasi D. Ada kecelakaan kerja di sana. Kalian berdua?"
"Atas perintah Tuan muda Dougher Young, kami akan menjadi pengawal Nona dan dua adik, Nona sekarang!" jawab salah satunya.
"Oh, bisa tolong jaga adik saya," pinta Aini.
Keduanya mengangguk dan masuk ke dalam . Aini memberitahu jika kedua pria itu akan menemani mereka main. Rio dan Hendra kini masuk dan bermain bersama anak-anak. Aini melesat dan pergi ke lokasi kecelakaan.
Hari pun berganti. Sekarang hari Sabtu. Ia tak ada jadwal piket. Darren menepati janjinya, ia sudah berada di depan rumah sewa gadis itu. Ia tersenyum lebar.
"Mas," sambut Aini.
"Sudah siap?" tanya Darren.
"Masuk, sarapan dulu," ajak Aini.
"Assalamualaikum," sapanya, kemudian duduk.
"Wa'alaikumussalam," balas Ditya.
Aini memberikan satu porsi nasi goreng pada Darren.
"Terima kasih," sahutnya.
Aini tersenyum. Mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai mereka pun pergi bersama pria yang kini menggandeng Radit dan Ditya. butuh waktu 25 menit untuk sampai ke rumah.
ini sangat tertegun melihat rumah besar itu.
"Mewah sekali," pujinya.
"Mba, ini istana ya?" tanya Ditya polos.
Darren hanya tersenyum dan meminta ketiganya untuk turun. Ditya dan Radit memegang tangan Aini erat. Di sana semuanya sudah berkumpul. Aini menelan saliva kasar. Gadis itu menatap satu persatu, semua orang di sana.
Haidar, Herman, Virgou dan Bart serta Leon tersenyum pada gadis itu. semua memuji putra mereka dalam memilih pasangan hidup. Budiman hanya menatap biasa saja.
"Kenalkan, ini Papaku, Haidar. Sebenarnya beliau adalah kakak ipar ku, tetapi karena yang mengurusku dari kecil, maka dia menjadi papa ku," ujar Darren memperkenalkan Haidar.
Aini mencium punggung tangan pria itu, begitu juga kedua adiknya yang tampak takut-takut. Haidar mengusap kepala dua anak yatim piatu tersebut. Darren memperkenalkan semuanya. Bahkan juga ibu-ibu di sana.
"Jadi kalo Mba jadi sama Mas Dallen, Adit punya kakek dan ayah juga Ibu yang banyak?" tanya balita itu antusias.
"Dek," tegur Aini malu.
Ditya menutup mulut adiknya lalu meminta maaf pada semuanya. Terra sedih melihatnya. Ia sangat yakin jika kedua anak itu masih butuh kasih sayang kedua orang tua.
"Tentu, saja. Kalau Adit mau, sekarang kamu boleh panggil saya, Daddy," sahut Virgou dengan hangat.
Ia langsung jatuh hati pada dua bocah laki-laki itu. Pria dengan sejuta pesona itu mengajak dua anak itu bermain bersama anak-anak. Seperti terhipnotis, keduanya pun tak takut pada Virgou dan mengikutinya.
Aini sempat gelisah. Tetapi, Darren menenangkan gadisnya.
"Tidak apa-apa."
"Aku takut mereka nakal," ujar Aini beralasan.
"Tidak akan, percaya lah. Di sini ada ketua para bayi," sahut Darren lalu menatap Rion yang sudah mengajak semua anak bermain termasuk Ditya dan Radit.
"Duduk lah," titah pemuda itu.
"Hei, jangan terlalu dekat," sindir Leon menggoda.
Darren tersenyum dan sedikit menjauh dari gadisnya, tetapi ia memastikan pada Aini jika dirinya selalu bersama dengan gadis itu.
"Jadi, kau lulus di usia menjelang dua puluh tahun?" tanya Bart.
"Benar Grandpa," jawab Aini.
Lambat laun, suasana pun menjadi akrab, ada senda gurau dan tawa kecil serta godaan pada pasangan muda itu.
"Kami, bukan memiliki prinsip kolot, melarang kalian pacaran. Tetapi, melihat dirimu yang berhijab, kami membatasi putra kami menjalin hubungan untuk tidak terlalu lama," tekan Herman.
Semua mengangguk membenarkan.
"Jadi Darren, jika kau belum siap untuk menjadikan Aini istrimu dalam waktu dekat. Maka hentikan pendekatan mu dari sekarang terhadap Aini!" lanjutnya penuh ketegasan.
Aini hanya diam, dadanya bergemuruh. Ia benar-benar belum siap.
"Dan begitu juga dengan Aini. Saya tidak melarang kamu untuk menjalin hubungan dengan putraku, tetapi jika kamu ragu. Segera hentikan semuanya!" lagi-lagi Herman memberi penekanan.
Aini menutup mata. Ia membayangkan hari-harinya. Ia takut salah mengambil keputusan.
"Istikharah lah kalian berdua. Aku takut, jika kalian bertemu dengan orang yang lebih bagus dan lebih baik lagi, kalian nantinya akan saling menyakiti!" seru Haidar kini.
"Saya akan beristikharah dulu," sahut Aini.
"Baik, selama kalian beristikharah, kami ingin kalian tidak berdekatan dulu, tetap seperti biasanya," sahut Virgou memberi persyaratan.
"Apa kalian menerimanya?" tekan Haidar.
Keduanya mengangguk. Aini begitu tersanjung. Mereka menghormati dirinya, sebagai seorang perempuan dan muslimah.
"Sudah-sudah seriusnya, sekarang ceritakan dirimu, sayang," ujar Gisel lalu duduk di sisi Aini.
Bersambung.
uh oh ...
next?