
Hari ini tepat kelahiran satu tahun bayi Budiman dan Gisella Samudera. Pesta kecil yang dimeriahkan seluruh sepupu. Rumah Budiman penuh dengan lautan anak-anak.
Samudera yang baru bisa berjalan sangat antusias dengan kakaknya, Rion. Pria kecil ini tengah mengajak bayi itu berbicara.
"Halo Baby, panggil, Kakak Darren. Coba!"
"Pata' Pallen!" Rion bertepuk tangan senang.
Darren yang dipanggil tertawa ikut senang.
"Itu panggil. Kakak Iya!" suruh Rion lagi.
"Ata'Biya!" sahut Sam meniru.
Rion kembali bertepuk tangan. Lidya menciumi bayi itu dengan gemas.
"Panggil, Mama!"
"Baba!" sahut Sam.
"Mama!" pinta Terra.
"Baba!" pekik Sam marah.
Semua tergelak. Terra berengut. Ia mendekati bayi itu.
"Mama akan menghukum mu!" ujarnya lalu menciumi gemas Samudera hingga bayi itu tergelak.
"Baba Pudi!" panggil Rion.
"Baba Dudi!' ikut Sam.
Lagi-lagi semua tergelak termasuk Rion. Budiman hanya bisa menggeleng pasrah, putranya kini menjadi penganut tuan babynya.
"Zadhi setalan Om Pudi dipandhil Baba Dudi?" tanya Nai membenarkan asumsinya.
"Iya Baby, sekarang, Om Pudi sudah jadi Baba Pudi," jawab Rion sambil terkikik geli.
"Tuan Baby!" gerutu Budiman.
Rion terbahak ia senang sekali jika berhasil mengganggu pria itu. Budiman gemas bukan main. Maka diberinya ciuman bertubi-tubi pada Rion sebagai hukuman.
"Talo Om Pudi Baba. Anti Pisel pita pandhil pa'a?" tanya Maisya ingin tahu.
"Mommy," jawab Gisel langsung.
"Bommy!" sahut Samudera, putranya.
"Ah, Bommy Gisel!" pekik Rion lalu bertepuk tangan.
Gisel cemberut. Terra dan Haidar hanya bisa geleng kepala melihat keusilan putranya yang satu itu. Fery dan Mia hanya tersenyum lebar mendengar ocehan anak-anak.
Sedang yang lain tengah menikmati hidangan. Sebuah kue ulang tahun sudah dipotong dan dibagikan. Bahkan Samudera menyuap kue itu ke mulut ayah dan ibunya dari tangannya sendiri.
Virgou merekam semua aksi anak-anaknya. Bart kini menggendong Dewa Ruci. Bayi itu hanya diam di tangan pria itu.
""Hey you're working on me huh?" Dewa hanya menggeliat lucu. Ia terlelap di gendongan kakeknya.
Sedang Dewi kini berada digendongan Haidar. Terra asik menyiumi bayi lucu itu.
"Daddy, Om Pomesh Pana?" tanya Nai. Dari tadi ia mencari pria raksasa itu tapi tak kelihatan.
"Om Gomesh tidak ikut sayang, Daddy menyuruhnya keluar kota," jawab Virgou.
"Oh," sahut Nai pendek.
Virgou gemas, ia menciumi Nai. Semua anak menyerbunya. Dengan sigap Virgou menyerang mereka tentu dengan ciuman-ciumannya. Semua tergelak.
"Bita banyi yut!" ajak Cal.
"Baba Pudi eundat bunya balotean?" tanyanya lagi.
"Balotean?" Budiman belum mengerti.
"Oke-oke Bud," jawab Haidar sambil meletakan Dewi dalam strollernya.
"Oh, oteh Baba pasangin. Tunggu ya," ujar Budiman langsung memasang alat yang dipinta anak-anak.
Tak lama, Karina datang bersama suami dan dua anaknya.
"Assalamualaikum," sapa mereka.
"Kakak Raka!" sambut Lidya senang.
Raka tersenyum melihat adik kesayangannya. Ia memang merindukan mereka semua. Keduanya pun menangis dan berpelukan.
"Kakak, Iya kangen ... hiks ... hiks...!"
"Kakak juga kangen ... hiks!"
Dua tahun sudah mereka tak bertemu. Jarak yang jauh juga kesibukan membuat Karina juga tak bisa menyambangi kedua orang tuanya. Walau mereka sering melakukan kontak via sambungan telepon.
Semuanya saling berpelukan. Haidar memeluk.erat kakaknya. Ia juga sangat merindukan kakaknya. Karina sampai menangis.
"Mama imi spasa?" tanya Dimas pada Terra.
"Ini Mommy Karina," jawab Terra sambil mengusap air matanya.
"Mommy Balina?" ulang Dimas.
Anak-anak Terra juga sudah lupa dengan Karina. Mereka semua menatap wanita itu. Zhain juga memeluk Haidar.
"Kalian jahat!" ujar Haidar kesal. "Sudah tak mau bergabung di group family kalian juga jarang menelepon!"
"Hmmm ... kok aku merasa dibegitukan ya, kemarin?" celetuk Bart.
Haidar mengerucutkan bibirnya. Karina memeluk Khasya dan Puspita. Lalu mencium tangan kedua orang tua Budiman, lalu mencium pipi Bart. Hal sama dilakukan Zhain. Sedang Raka dan Raffhan juga mencium punggung tangan semua orang dewasa.
"Mama dan Papa sebentar lagi datang," terang Karina memberi tahu.
"Iya, Kak," jawab Budiman lalu tersenyum.
Semua kembali bermain. Acara karaoke terlupakan. Tiba-tiba.
"Hai tau Laja beumalah!" seru Kean pada Satrio
"Ayo pita beutalun denan pantan!" tantangnya dengan nada angkuh.
Semua orang dewasa menyingkir. Rion langsung menyimak jalannya cerita. Zhain terkikik geli.
"Mereka lagi main drama?" tanyanya berbisik pada Virgou.
"Iya, nanti kita timpali saja jika ingin bergabung," jawab Virgou juga berbisik.
"Tenapa tau inin benantan tu Laja?" tanya Satrio dengan berkacak pinggang.
"Talna tau menambil Mommy Balina dali tu!" sahut Kean dengan akting marah.
Karina yang merasa dirinya disebut bingung harus apa. Tiba-tiba Satrio merentangkan tangannya di depan Karina.
"Entau tat atan pisa menambilna dali tu!" ujar Satrio.
"Laja, tenapa tau meninintan Mommy dali bada atuh!" sahut Arimbi ketus.
Semua nyaris terbahak. Zhain begitu antusias. Ia langsung merekam. Kegeniusan anak-anak belum lima tahun ini luar biasa. Bahkan mampu berperan tanpa berpikir apa pun.
"Pidat pisa, atuh banya bentintai Mommy. Seulah tan Mommy Balina pada tuh!' seru Kean ngotot.
"Hei ... pundu pulu!" tiba-tiba Sean datang.
"Atuh bempawa beuwita dembila!" lanjutnya.
"Beuwita pa'a?" tanya Dimas menimpali.
"Atuh pembawa petelja dali tesa teucil. Peulnama Baba Pudi!"
"Tuan, jangan jual saya Tuan," tiba-tiba Budiman bersimpuh di depan Sean.
"Bial atu yan beuli Baba Pudi!" tiba-tiba Maisya menyahut.
"Pidat pisa! Baba Pudi milit atuh! Atan tu payal ...."
Nai menghentikan ucapannya ia melihat jarinya, menghitungnya berulang-ulang. Semua nyaris tertawa.
"Hei aku juga bawa budak yang tak kalah kuat dari dia!" sahut Bart tiba-tiba menggeret Virgou.
"Tuan ... tidak Tuan!" akting Virgou memohon.
Nai bingung, ia menggaruk kepalanya. Lidya datang ikut bergabung.
"Aku akan membeli pria itu. Sebutkan harganya!"
"Ratu, kenapa kau membeli pria itu!" tiba-tiba Haidar mencegah.
"Tidak apa-apa. Aku ingin lebih banyak pria di sisiku. Kau diam bersama wanita itu!' tunjuk Lidya pada Terra.
"Baik Ratu," sahut Haidar duduk di sisi istrinya.
Terra melotot melihat drama kacau ini. Herman tak mau ketinggalan, ia juga masuk untuk bergabung.
"Hei, kalian lihat ini. Dia adalah pria tertampan di sini. Aku akan memberikannya dengan sepuluh kantung emas!" tawarnya menarik Darren.
Darren yang terkejut langsung memasang wajah memelas.
"Tuan Dimas, tolong beli aku. Kau lah yang terkaya di sini," ujarnya.
"Bait lah," sahut Dimas mengangguk setuju.
Dimas memutar mencari sesuatu. Ia melihat jeruk. Balita itu mengambilnya.
"Imi sapu pulat memas. Haldana sanat banat dali bada sebuluh tanton memas!" Dimas memberikan jeruk itu pada Herman..
"Kau memang kaya Tuan. Terima kasih!"
"Assalamualaikum!" Bram dan Kanya datang memberi salam. Drama berhenti.
"Wa'alaikum salam," balas semuanya.
"Tiba-tiba datang sepasang suami istri ingin membeli semua pria yang dijual dengan harga tinggi," sahut Rion mendadak menjadi narator drama.
Bram yang masih bingung, sejenak diam mengamati. Lalu ia tahu harus melakukan apa.
"Lihatlah, aku membawa banyak hadiah untuk membeli mereka semua!" ujarnya.
Kanya menyerahkan kantung-kantung besar pada Gisel. Darren bersorak.
"Hore aku sudah bebas!"
"Hei ... atu budah beumbelimu!" pekik Dimas.
"Lalu aku bagaimana?" tiba-tiba Karina menyeletuk.
Semua menoleh. Satrio dengan gagahnya mengamit dan mencium punggung tangan Karina.
"Pidat pa'a-pa'a Mommy, entau basih milittu!"
Karina gemas bukan main, ia mencium Satrio lalu mengendongnya tinggi-tinggi, hingga balita itu tergelak.
Drama usai. Samudera sudah tertidur di gendongan sang ibu. Satu persatu mereka pulang. Banyak hadiah fantastis diberikan untuk bayi yang baru saja menginjak satu tahun itu.
bersambung.
hedeuh.
next?