
"Nak, ada apa sayang?" tanya Terra pada gadis kecil yang dipeluk putrinya.
"Ibu ... hiks ... ibu ...!"
Terra bergegas ke dalam. Sosok wanita tambun tengah dalam keadaan kejang. epileptik tonik-klonik (kejang yang diikuti oleh kekakuan otot
Terra tetap tenang, ia langsung menemani wanita tersebut.
Menghitung waktu kejang dari awal hingga akhir.
Terra melonggarkan pakaian di sekitar lehernya.
Menyingkirkan benda-benda tajam dan berbahaya dari jangkauan wanita tersebut.
"Semuanya mundur ya, biar ruangan kosong!' pinta Terra.
Budiman langsung menggiring anak-anak menjauh dari Terra dan wanita tersebut. Ia masih ada dekat kliennya, menunggu.
Secara perlahan, Terra membaringkan orang tersebut dalam posisi miring secepat mungkin. Menaruh bantal di bawah kepalanya dan membuka rahangnya untuk membuka jalur pernapasan yang lebih baik sekaligus mencegah wanita tersebut tersedak air liur atau muntah.
Seseorang yang kejang tidak bisa menelan lidahnya, tapi lidah bisa terdorong ke belakang dan menyebabkan terhalangnya jalur napas.
Terra terus berkomunikasi dengan wanita tersebut.
"Bu, Ibu. Bangun Bu!" panggil Terra lembut.
Wanita itu perlahan sadar. Ia membuka mata terkejut. Terra menenangkannya.
"Tenang ya, Bu. Ibu tidak apa-apa kok," ujar Terra menenangkan wanita itu.
Terra terus mengelus punggung sang ibu. Begitu ibu itu merasa baikan. Ia pun langsung memanggil putrinya.
"Putri ... Nak!"
"Ibu!!"
Putri yang ada di luar pun langsung berlari masuk ke gubuknya yang repot. Mereka berpelukan dan menangis. Terra insting putrinya yang kuat. Ia bisa menolong ibu ini dengan cepat. Andai saja ia terlambat. Maka ....
"Bu, Ibu nggak apa-apa kan?" wanita itu mengangguk dan mengusap kepala Putri dengan sayang.
"Ibu nggak apa-apa, Nak."
Wanita itu menoleh pada Terra. Ia hendak berdiri, tetapi langsung ditahan olehnya.
"Nyonya ... apa yang yang terjadi? Apa ... apa putri saya melakukan kesalahan?" tanyanya panik.
Terra tersentuh mendengar pertanyaan itu. Sebagian orang-orang miskin akan berpikiran negatif jika didatangi seperti ini. Mereka mengira telah melakukan kesalahan.
"Tidak ada, Bu. Putri tidak melakukan kesalahan apa pun kok," jawab Terra tersenyum ramah.
Wanita itu masih bingung. Putri pun menjelaskan semuanya. Barulah ibu itu mengerti dan mengucap terima kasih.
"Bu, sebaiknya penyakit Ini diobati segera. Saya takut, jika kejadian ini terulang lagi, dan Putri tidak bisa melakukan sesuatu," jelas Terra.
Mata itu berkaca-kaca. Guratan sedih tergambar jelas di wajahnya yang hitam karena terbakar matahari. Memaksa tersenyum.
"Saya orang miskin, mau berobat di mana?" tanyanya miris.
"Untuk menebus obat, bisa untuk makan kami satu bulan," lanjutnya miris.
Terra tersenyum. Sungguh ia ingin membantu tetapi, biasanya orang-orang seperti ibunya Putri ini sangat anti dengan bantuan cuma-cuma. Tiba-tiba sosok pria berpakaian lusuh datang. Tampak guratan kecemasan di sana. Sedikit terkejut dengan semua orang yang ada di rumahnya.
"Bu ... Bu ...!"
"Pak!"
Keduanya berpelukan. Menangis. Pria itu meminta maaf telah membawa wanita yang ia cintai dalam penderitaan.
"Maafin Bapak ya, Bu. Bapak belum bisa membahagiakan, Ibu."
"Tidak Pak. Bapak sudah buat Ibu bahagia kok. Kita sudah bahagia," jelas wanita itu mengusap air mata dan peluh yang membasahi wajah sang suami dengan tangannya.
Terra terharu begitu juga dengan semuanya. Ia pun tak kehabisan akal. Bagaimana cara membantu keluarga bahagia ini tanpa merendahkan martabatnya.
"Bu, maaf sebelumnya. Apa Ibu masih kuat nyuci dan gosok?"
Wanita itu menatap Terra. Sedang suaminya masih bertanya-tanya. Gerangan apa orang kaya datang ke gubuknya.
"Oh, terima kasih Nyonya. Terima kasih, jika saja Nyonya tidak datang dan menolong. Entah apa jadinya," ungkap pria itu berterima kasih dengan tulus.
"Sama-sama, Pak. Saya hanya tergerak. Mungkin Allah telah mengetuk hati saya," ujar Terra..
"Gimana, Bu, pertanyaan saya tadi?" tanyanya lagi.
”Masih Nyonya," jawab wanita itu cepat.
"Begini. Saya buka jasa laundry di sekitar perempat jalan Xx dan Xx itu. Apa ibu mau mengelolanya?"
Wanita itu hanya diam menatap Terra. Ia masih terkejut dengan tawaran wanita kaya itu.
"Bapak juga bisa bantu jemur-jemur. Kalian bisa tinggal di sana. Lagian tempat itu jaraknya tidak terlalu jauh dengan sekolah Putri, kan?"
"Tapi, apa Nyonya yakin mempercayai kami?" tanya pria itu.
"Saya hanya melakukan dengan insting putri saya," ujarnya menatap Lidya yang tersenyum padanya.
"Jika laundry kiloan nya bisa berkembang. Ibu dan Bapak bisa merekrut orang-orang sini," tawar Terra. "Gimana, Pak, Bu?"
"Bismillah, aja Pak," sahut Budiman tenang.
Akhirnya mereka berdua mengangguk. Terra senang. Ia yakin dengan ini kedua orang tua Putri tidak akan sungkan menerima bantuannya.
"Baik, sekarang saya bawa Putri jalan-jalan, ya," Terra minta ijin pada suami istri tersebut.
Putri menatap ayah ibunya. Sang ibu menatap netra putrinya yang penuh harapan agar diijinkan. Ia pun mengangguk. Putri begitu bahagia.
Terra pun mengajak Putri dan semuanya ke mall. Beberapa tetangga dari orang tua Putri pun mendatangi rumahnya.
"Itu orang kaya mau ngapain datang?" tanya mereka.
"Nggak ngapa-ngapain. Nyonya itu cuma mau kasih Putri baju bekas di rumahnya. Kebetulan anak perempuan Nyonya itu temenan sama anak saya," jawabnya bohong.
Bukan maksud menyembunyikan pertolongan dari wanita baik yang mendatangi gubuknya ini. Tetapi ia menjaga Terra dari manusia-manusia yang akan memanfaatkan kebaikannya.
Putri dibelikan seragam sekolah, tas, peralatan tulis dan sepatu serta kaos kaki. Membelikan beberapa baju bagus untuk kedua orang tuanya.
"Bu, jangan banyak-banyak. Saya takut, nanti Ayah marah," ujar Putri ketakutan melihat harga yang tertera di baju.
"Jangan khawatir sayang," ujar Terra mengusap kepala Putri.
Ia meminta kasir untuk melepas semua lebel harga, setelah membayar. Ia pun membelikan bahan makan pokok.
"Kirim ke rumahnya secara sembunyi-sembunyi!" titah Terra pada Dahlan.
Pria itu mengangguk. Mengambil satu troli berisi penuh bahan makanan untuk keluarga Putri. Terra menyerahkan kartu, tetapi ditolak Dahlan.
"Boleh saya yang membayarnya, Nyonya?" Terra tersenyum lalu mengangguk.
Dahlan berlalu dengan beberapa anggotanya. Mereka sepertinya menambah sesuatu dalam belanjaan mereka. Terra membiarkannya.
Mereka pun makan di sebuah restoran. Putri begitu lahap memakan makanannya, begitu juga Lidya. Binaran mata gembira terpancar dari Putri dan Lidya.
Setelah puas bermain. Mereka pun pulang. Begitu sampai tempat Putri, tampaknya gadis kecil itu tertidur karena kelelahan.
"Kak Reza, bisa minta tolong gendong dia dan bawa barang belanjaannya?" pinta Terra.
"Bisa, Nyonya!' sahut Reza.
Ia pun menggendong Putri dan membawa beberapa barang belanjaan. Tidak banyak memang. Terra sengaja membeli hanya beberapa potong pakaian. Dan peralatan sekolah saja. Jadi tidak mengundang banyak mata. Terra mengantarkannya hingga rumah.
Mereka pun sudah mengantar Putri dan kini sudah kembali ke mobil dan pulang.
Sampai Rumah Haidar sudah menunggu mereka. Mencium Lidya dengan sayang dan memujinya.
"Anak Papa hebat!"
bersambung.
Ya ... Lidya memang hebat ia tidak hanya pintar di otak tetapi juga di hati.
Othor rada nangis di sini
next?