
Putri yang tengah mengendari motornya merasa ada yang mengikuti. Gadis itu melihat spionnya. Terlihat satu mobil sedan tengah mengikutinya dari jarak dekat. Ia mengetahui jika diikuti, karena kemana pun ia bergerak. Mobil itu pasti membuntutinya. Hingga ketika tiba-tiba ia mengencangkan gasnya. Mobil itu juga mengejarnya.
Mengetahui dirinya dibuntuti, membuat Putri langsung menggeber laju motornya. Kuda besi yang memang bisa buat balapan itu pun melaju kencang membelah jalanan ibukota yang sedikit padat. Sekarang sore hari menuju petang. Adzan maghrib pun berkumandang. Makin padatlah jalanan. Tentu saja mobil itu tak bisa mengejar laju motor yang bisa menyelip di jalur sempit bahkan menyelip di antara dua kendaraan. Putri begitu lihai mengendarai kuda besinya itu.
"Hmmm sejak kapan aku punya musuh?" tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba ia teringat akan kecemasan sahabatnya, Lidya. Gadis itu tak mengetahui jika Lidya juga dalam incaran orang yang kini membuntutinya.
Otaknya berpikir keras. Lalu, ia pun menemukan jawabannya. Melihat pengawalan Lidya yang super ketat bahkan betapa pengawal-pengawal sahabatnya itu begitu posesif pada Lidya.
"Aku yakin, ini ada hubungannya dengan Lidya!" tekannya bermonolog.
beberapa kali laju motornya juga tersendat, ia tak bisa mengambil jalur kecil kerena benar-benar padat kendaraan.
"Kemana polisi lalulintas jika sudah jam segini. Andai gue tidak dalam keadaan haid, gue masuk masjid dah!" gerutunya kesal.
Baru saja ia memprotes ketidak hadiran petugas lalulintas. Beberapa polisi datang mengurai kemacetan. Gadis itu menghela napas lega. Melihat kembali kaca spion dan masih mendapati mobil yang mengikutinya dalam jarak dua mobil saja di belakangnya.
Putri kembali menggeber gasnya. Gadis itu memilih jalur alternatif, jalannya memang sepi, tapi terlalu kecil untuk mobil itu lewat sana.
Sedang dalam mobil yang membututi Putri berdecak kesal.
"Aarrghh sial!"
Putri tersenyum angkuh. Ia melihat spion tak ada lagi mobil yang mengikutinya. Ia pun bernapas lega. Putri keluar gang. Di sana ternyata ia sudah ditunggu oleh yang lain yang juga mengendarai motor. Rupanya, yang membuntutinya tadi memberi tahu rekannya yang lain.
Kembali Putri melakukan adegan kejar-kejaran. Jalanan mulai sepi. Gadis itu dikejar oleh dua motor berisi masing-masing dua pria berpakaian serba hitam. Putri pun mengeluarkan keahliannya dalam mengendarai kuda besinya. Sebagai seorang freestyler, ia memang mahir mengendarai motornya dengan keahlian khusus.
Para pengikutnya jadi kelimpungan sendiri ketika menghadapi cara Putri. Mereka seperti ketakutan sendiri. Putri benar-benar menguji bahaya. Nyawanya seperti memiliki cadangan. Ia tak tak menyelip diantara dua truk besar hingga kedua motor yang mengikutinya tai bisa mengejar. bahkan, putri dapat menyalip diantara titik buta supir truk tanpa kendala.
"Perempuan gila!" pekik sang supir ketika mengetahui pesepeda motor menyalipnya dalam posisi buta.
Laju motor Putri melesat meninggalkan kedua pengejarnya. Gadis itu sampai di rumah yayasan mandiri yang didirikan oleh sahabatnya dalam proses waktu dua kali lebih lambat dari biasanya.
Darren yang sudah mengetahui jika Putri ada yang membuntuti, langsung memberondong gadis itu dengan pertanyaan.
"Bagaimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"Alhamdulillah, kak. Emang ada apa sih?" gadis itu pura-pura tak mengalami apa-apa.
"Jangan membohongiku, Putri!" sentak Darren galak.
Melihat sahabatnya dimarahi, membuat Lidya keheranan. Ia memang belum tahu apa yang terjadi. Aini yang melihat kekhawatiran Darren sedikit cemburu. Pria itu datang langsung menanyakan keberadaan Putri.
"Beneran Kak. Ada apa sih?" tanya Putri masih pura-pura tak terjadi apa-apa.
"Putri!" tekan Darren kini dengan marah.
Putri menelan saliva kasar. Ia memang tak ingin semuanya tahu jika tadi ia baru saja main kejar-kejaran dengan penjahat yang membuntutinya.
Tak lama berselang mobil yang mengantar Demian dan Jac datang. Jac langsung turun dan lupa membukakan pintu untuk atasannya. Demian sedikit mencibir kelakuan bawahannya itu.
"Ini sebenarnya ada apa sih?" tanya Lidya kesal bukan main.
Dari tadi ia melihat kekhawatiran sang kakak, dan kini tiba-tiba Jac datang juga menanyakan hal yang sama. Sebenarnya Lidya juga merasakan kekhawatiran sebelum sahabatnya tiba. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Putri. Bahkan jarak yang mestinya bisa ditempuh selama dua puluh menit walau dalam keadaan macet sekali pun. Putri datang di waktu dua kali lipat dari seharusnya.
"I saw you speeding on the highway and a car was also chasing you!" (Aku tadi melihatmu kebut-kebutan di jalan raya dan ada mobil yang juga mengejarmu!) ujar Jac memberitahu.
Lidya terkejut, begitu juga Aini. Darren menatap datar sahabat dari adiknya ini.
"Tell me actually Put!" (katakan sebenarnya Put!) tekan Darren lagi.
"Kau tau, Lidya juga dalam bahaya, kemungkinan yang mengejarmu adalah orang yang sama, ia mengincar dirimu yang minim penjagaan!" ujarnya lagi menjelaskan.
Barulah Putri jujur mengatakan sebenarnya.
"I was indeed being followed by an unknown person!" (aku tadi memang diikuti oleh orang tak dikenal!) jawab Putri.
"I also had time to think if there was something and it was related to the tight guard on Lidya!"(aku pun sempat berpikiran jika ini berhubungan dengan penjagaan ketat pada Lidya!) jelasnya kemudian.
"Then you have to get strict guard. Or if possible anyone related to Lidya must be escorted!" ( kalau begitu kau harus dikawal ketat, atau kalau bisa semua yang berhubungan dengan Lidya harus dikawal!) saran Demian.
Darren mengangguk. Ia menatap kembali Putri. Walau sedikit bingung bagaimana bisa gadis itu bisa lepas dari kejaran orang-orang itu, tetapi ia bersyukur jika Putri dalam keadaan baik-baik saja.
Sementara itu. Terra langsung melipat gandakan penjagaan kepada semua yang berhubungan dengan putrinya. Ia begitu terkejut ketika mendengar Putri dibuntuti oleh orang jahat. Wanita itu yakin jika itu adalah musuh yang mengincar Lidya.
"Minta sama Baba untuk menambah personil pengawal!" titah Terra pada Darren putranya.
"Kawal juga gadismu, Mama takut jika mereka mengincar orang-orang yang berinteraksi dengan adikmu," lanjutnya.
"Iya Ma," sahut Darren.
Budiman yang memang selalu bersama Darren itu langsung meminta pusat untuk menambah personil.
Virgou yang ada di dunia hitam meminta Pablo mengurus permintaan adik iparnya itu. Sedang dia kini berada di sebuah markas yang cukup besar.
Gomesh sedang menerbangkan orang-orang yang melawannya. Bahkan tembakan senjata juga saling sahut menyahut. Pria dengan sejuta pesona itu melangkah santai ke dalam. Semua orang tampak bergelimpangan bersimbah darah. Entah sudah tewas atau pingsan karena ulah raksasa yang dibawanya.
Brak! Gomesh mendobrak pintu hingga hancur. Tampak tiga manusia berbeda jenis sontak terkejut dan saling melepaskan diri. Baron Diego Nothon tampak terkejut melihat kedatangan pria paling ditakuti itu.
"Tuan Black Piterest!"
Sedang dua wanita yang tadi bersamanya sudah lari tunggang langgang dalam keadaan bugil.
"Halo Tuan Nothon ... rupanya kau sedang asik yah?" tanya Virgou dengan seringai sadis.
Bersambung.
ah ... ih ...
next?