TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
RENCANA



Sabtu pagi Darren sudah memakai almamater untuk kuliah. Ia ada kelas hari ini.


Sedang Lidya masih memakai baju rumah, ia hari ini sedang libur. Kelasnya lagi-lagi dipakai untuk ujian kelas enam.



Terra tengah memasukkan bekal makanan untuk putra sulungnya. Setelah mencium punggung tangan ayah dan ibunya. Pria itu dikawal dengan Budiman, Dahlan dan Gio.


"Darren berangkat ya, Ma, Pa!" pamitnya. "Assalamualaikum!"


"Kak, aku pergi juga!" pamit Budiman. "Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan!" seru Terra.


Sedang di tempat lain. Gabe menyambangi kembali Widya. Hari ini entah mengapa gadis itu memakai baju terlalu berani.



Namun, Gabe menyukainya. Pria itu makin cinta dengan kekasihnya itu. Untuk pertama kalinya, Widya berdandan untuk seorang pria. Kemarin Gabe memberinya satu palet alat make up.


Sriani tak mampu melarang anak gadisnya berdandan. Keceriaan gadis itu menjadi taruhannya jika, ibunya melarangnya berdandan. Maka, sekarang ia akan mempercayai penuh sang putri.


"Ibu, hari ini aku mengajak ibu juga untuk berjalan-jalan," ajak Gabe dengan senyum indahnya.


"I-ibu ... i-ibu di rumah saja, tidak usah ikut," tolak Sriani gugup.


"Ayolah, Bu. Ayo, ganti bajunya. Saya tunggu," sebuah perintah halus dilontarkan pria tampan itu.


Seperti tersihir. Wanita setengah baya itu pun beranjak ke kamarnya untuk berganti baju. Widya langsung memeriksa semuanya. Kompor mati. jendela terkunci, pintu belakang juga. Lalu ia pun ke depan menemani Gabe dengan membawa secangkir teh hangat.


"Terima kasih, sayang," ungkap Gabe,


"kamu cantik sekali," pujinya.


Lagi dan lagi Widya merona. Gadis itu selalu malu jika Gabe memujinya. Padahal ia merasa biasa saja. Pria itu menatap lekat wajah kekasihnya. Merapikan rambut ke belakang telinga gadisnya.


Sriani keluar dari kamarnya. Ia baru saja ingin berkata. Tetapi, melihat pemandangan romantis di depannya, ia jadi tak berani. Sriani ikut bersemu.


Tersadar jika ada yang memperhatikan. Gabe mengalihkan pandangannya. Pria itu tersenyum kikuk karena kedapatan bermesraan di depan calon mertuanya.


"Ibu sudah siap?" tanyanya kemudian.


"Su-sudah," jawab Sriani terbata.


Gabe mengamit tangan gadisnya. Ia pun mengajak kedua wanita itu pergi bersamanya. Setelah mengunci pintu rapat-rapat. Mereka pun pergi ke taman kota.


Terra menyiapkan hidangan di meja. Gabe akan membawa keluarga kekasihnya bertandang ke rumahnya. Wanita itu tentu mengenal siapa Widya.


Salah satu karyawati yang lolos tanpa seleksi, karena jalur pendidikannya sesuai dengan pekerjaan yang ada. Pertama kali melihat Widya, Terra yakin jika gadis itu akan bagus kinerjanya.


Di tempat lain. Gabe membawa dua wanita yang kini saling bergandengan menatap baju-baju yang dipajang.


Gabe mengambil beberapa dress tanpa melihat harga. Bahkan pria itu juga bisa memprediksi ukuran baju dua wanita itu. Setelah membayar. Ia menyerahkan dua paper bag pada ibu dan putrinya.


"Apa ini?" tanya Sriani.


"Untuk Ibu dan Putri ibu yang cantik," jawab Gabe lalu tersenyum tulus.


Sriani tergugup. Ia selalu salah tingkah jika berhadapan dengan kekasih dari putrinya ini. Ia pun mengucap terima kasih dan menerima pemberian dari Gabe.


Sesuai, janji Gabe. Tanpa persetujuan keduanya. Pria itu membawa mereka ke tempat Terra.


"Ki-kita mau kemana?" tanya Widya gugup.


"Ketempat adik sepupuku pemilik perusahaan tempatmu bekerja," jawab Gabe tenang.


Sriani yang tidak tahu apa-apa hanya diam dan pasrah. Sedangkan Widya begitu cemas. Ia hanya beberapa kali bertemu dengan pemilik perusahaan yang masih muda itu.


"Sudah, jangan takut. Terra dan keluarga sudah menunggu," ujar Gabe menenangkan kekasihnya.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai rumah besar berdinding putih gading itu. Sriani menelan saliva kasar ketika mobil itu memasuki halaman rumah.


Gabe membuka pintu untuk kedua wanita tersebut. Terra dan Haidar sudah berdiri di depan pintu menyambut mereka dengan senyum lebar.


Semuanya masuk dan disuguhi enam anak yang berbeda usia.


"Lidya, Rion, Nai, Sean, Al dan Daud. Salim dulu sama Nenek dan Tante Widya!" titah Haidar.


Semua anak-anak mencium punggung tangan dua wanita dewasa yang memandangnya dengan keingin tahuan tinggi.


"Mama imi spasa?" tanya Sean berbisik.


"Pacar Om Gabe!" bisik Gabriel.


"Bacal?" Gabe mengangguk.


Tiba-tiba Daud menepuk keningnya kemudian menggeleng.


"Ah, batalan ada batah hati seupelti dayun syama tayu," sahutnya pasrah.


Gabe yang tahu cerita tentang Darren kemarin pun jadi tertawa. Dengan gemas ia mencium semua anak-anak. Widya sangat antusias dengan keberadaan bocah-bocah lucu itu.


"Hai, nama kita hampir sama loh, Tan. Widya dan Lidya," ujar Lidya sambil tersenyum manis.


Sriani langsung jatuh cinta dengan gadis kecil itu. Sedang Rion hanya mengamati saja. Pria kecil itu tidak terpengaruh apa pun.


"Ayo, silahkan duduk," ajak Terra menyuruh tamunya untuk duduk di ruang tamu.


Ani membawa minuman dan berbagai penganan di atas nampan. Setelah menghidangkan di meja. Ia pun beranjak dari sana. Terra menyuruh tamunya untuk minum.


"Silahkan, Ibu."


"Terima kasih."


Semuanya menyeruput teh jahe yang menghangatkan perut mereka. Cuaca sedikit dingin.


"Jadi bagaimana, Bu. Apakah kakak saya ini memaksa ibu untuk mengijinkan putri ibu agar mau berkencan dengannya kemarin?' tembak Haidar.


Gabe mengerucutkan bibirnya, kesal. Haidar terkekeh. Sriani tersenyum melihat keakraban keluarga dari atasannya. Ia yang tadinya canggung sedikit rileks walau tak banyak komentar.


"Widya adalah gadis penurut. Saking takutnya Ibu ia salah bergaul, karena sudah ditinggal ayahnya sejak usia sepuluh tahun. Saya takut, jadi membesarkan Widya dengan banyak larangan ini itu," jelas Sriani sendu.


"Saya mengerti, Bu. Terutama jaman sekarang pergaulan begitu bebasnya. Saya juga memiliki dua anak perempuan. Jadi saya juga memiliki ketakutan yang sama," ujar Terra mengerti.


"Sudah waktunya makan siang. Ayo, kita makan siang bersama," ajak Haidar.


Anak-anak pun dipanggil. Mereka duduk di kursinya masing-masing. Semua makan setelah berdoa. Usai makan, Widya mencoba membantu Terra membersihkan meja. Karena gadis itu melihat atasannya melakukan hal itu.


"Hei, sudah tidak apa-apa, biarkan saja," ujar Terra.


"Tidak, Nyonya. Saya tidak enak jika tak melakukan apa-apa," sahut Widya.


Terra pun tersenyum dan membiarkan gadis itu membantunya. Setelah membereskan meja. Widya kembali ke ruang tamu. Tiba-tiba Virgou datang bersama anak dan istrinya.


Terra meminta Gina untuk menyiapkan kembali makanan untuk Virgou dan keluarga. Mereka sedikit terlambat datang karena habis bermain di taman.


Sriani bertambah gemetaran ketika Virgou menatapnya. Sorot mata tajam dan penuh selidik. Wanita itu jadi takut membuka suaranya.


"Jadi gadis ini yang telah menarik hati adikku," ujar Virgou menatap Widya yang menunduk takut.


"Hei jangan menatap seperti itu. Ibu mertuaku dan calon istriku jadi ketakutan begini," sergah Gabe tak suka.


Virgou tertawa mendengar protes adiknya itu. Gabe sampai berdecih. Akhirnya, Sriani dan Widya dapat menerima kehadiran keluarga pria itu.


"Jadi kapan kalian melangkah ke arah yang serius?" tanya Virgou serius.


"Secepatnya, Kak. Aku juga sudah tidak sabar ingin beristri," jawab Gabe penuh ketegasan.


Widya hanya menunduk dengan rona di pipinya. Ia menggenggam erat tangan ibunya. Sriani juga sama gugupnya..Waktu untuk melepaskan putrinya makin dekat.


bersambung.


uhuy duh othor nggak bisa nemu visual yang cocok untuk Darren nih. Ada sugest? please di komentar yaa.


next?