
Begitu penasarannya Virgou dan Herman dengan kelakuan Rion di sekolah. Aduan adik-adiknya yang mengatakan jika kakak mereka diberi makanan oleh teman-temannya.
"Biya, Ata' Ion pitasih patan tama penen-penenna."
Terra hanya menggaruk hidung. Virgou yakin jika adiknya itu tidak akan memberi informasi apa pun. Pria itu tidak hilang akal.
"Besok Daddy anter ke sekolah, ya," Rion mengangguk.
"Ayah juga, ah," sahut Herman penasaran.
Bahu Terra langsung turun. Ia tak bisa berkutik. Akhirnya pasrah dengan keadaan. Virgou pun ingin cepat pagi.
"Kenapa matahari lama sekali sih!" omelnya.
"Istighfar Kak!" peringat Terra.
Virgou pun beristighfar. Puspita hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan suaminya. Sedang Khasya hanya tersenyum lebar.
Mereka pun menginap. Terra bisa membayangkan betapa penuhnya besok sekolah Rion.
Pagi hari menjelang. Semua sibuk. Terra menyiapkan bekal untuk putranya. Rion menolak, membawa bekal itu.
"Sayang, kemarin Mama bilang apa?" tanya Terra.
"Tau Mama. Tapi, Ion tidak mau membuat meleka kecewa kalau Ion menolak makanan meleka," jelas Rion serius.
"Bilang saja, Ion juga bawa kok," jelas Terra. "Atau tukeran makanan."
"Mama ... tidak baik menolak lejeki," sahut Rion enteng.
Terra menggaruk kepalanya. Ia pun kehabisan kata-kata. Semua alasan dibantah langsung oleh putranya yang cerdasnya kelewatan itu. Akhirnya bekal itu untuk Darren. Lidya sudah membawa bekalnya dan Putri.
"Sayang, kamu bawa bekal untuk siapa?" tanya Puspita pada Lidya.
"Buat sahabat Iya, Mommy," jawab Lidya sambil tersenyum manis.
Khasya mencium pucuk kepala gadis kecil itu. Semua perbuatannya kemarin telah diceritakan Terra. Virgou menghadiahinya satu tas berbentuk strawberry. Kini ia memakai tas itu.
"Makasih ya Daddy. Iya suka sama tasnya," ungkap Lidya senang.
Virgou pun senang karena gadis kecil itu menghadiahinya ciuman bertubi-tubi di pipinya. Ia pun membalas ciuman Lidya di pipinya.
Mereka semua berangkat. Dengan pengawal masing-masing. Mereka sampai di sekolah Darren terlebih dahulu, karena letaknya sedikit ke belakang komplek. Baru kemudian ke sekolah Lidya. Lalu ke sekolah Rion yang paling dekat dengan rumah.
Rion masuk kelasnya. Anak-anak ribut ingin masuk juga. Akhirnya para ibu terpaksa membawa mereka pulang ke rumah. Akhirnya, Herman, Haidar dan Virgou menjadi pengawal putra mereka itu.
Benar saja. Ketika istirahat Rion keluar dari kelasnya. Para murid perempuan pun berbondong-bondong menawarinya makanan.
"Ion mawu coba nasi goleng sifut, buatan Mama ku nggak? Enak loh," tawar salah satu anak gadis berkulit hitam manis.
"Wah makasih," Rion mencoba makanan itu.
"Enak banget ini. Cuminya juga dibentuk manis, kayak kamu," pujinya lalu tersenyum.
Gadis kecil itu pun tersipu.
"Ion, Aku bawa bento lagi, bentuknya juga lucu loh, gambar ayam," tawar salah satu gadis kecil lagi. Malah dengan berani gadis kecil itu menyuapi Rion.
Dengan santai, Rion membuka mulut menerima suapan itu.
"Enak, bentuknya juga lucu, kayak kamu. Makasih ya," ucapnya juga tersenyum manis.
Kelakuan Rion ditimpali tawa senang ketiga ayahnya. Herman begitu puas melihat betapa Rion menghargai pemberian teman-temannya. Sedang Haidar melihat sang putra sangat cerdas melihat kesempatan. Sedang Virgou melihatnya bangga.
"Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Dougher Young."
Tiba-tiba seorang anak laki-laki hendak menjegal Rion yang tengah berjalan ke arah ketiga orang dewasa yang menunggunya. Herman nyaris berteriak. Haidar pun menahan napas. Virgou menatap tenang.
Bukan Rion yang jatuh. Malah anak yang ingin menjegalnya menangis. Rion menginjak kakinya yang memalang langkah Rion.
"Hei, kau apakan anakku!" bentak seorang pria berperut buncit membentak.
"Ajarin anaknya dong Pak. Masa anak saya dikasarin gini!" protesnya tak terima.
"Loh, yang ngasarin siapa? Anak Bapak yang malah ingin menjegal putra saya!" bela Herman pada Rion.
"Halah, anak kaya gitu dibelain. Apa saking miskinnya sampai minta makan sama anak-anak perempuan?" ejek pria itu.
"Ih, siapa yang minta-minta!" elak Herman.
"Ibu-ibu atau Bapak-bapak di sini, keberatan tidak jika Rion ditawari putri-putri kalian?" tanyanya pada para wali.
"Nggak Pak. Malah kita seneng. Soalnya Rion lucu ngegemasin. Trus sopan lagi," jawab salah satu wali, ditanggapi oleh para wali lain yang anaknya menawari Rion makanan.
"Tuh, nggak ada yang keberatan kok," ujar Herman kemudian.
Virgou dan Haidar hanya tersenyum miring sambil menatap tajam pria itu. Pria itu menelan saliva kasar. Sepertinya putra pri itu belum terima kakinya diinjak oleh Rion. Ia pun bermaksud untuk menyerang Rion dengan sapu.
Anak itu melihat gagang sapu yang disederkan di dekat tiang. Ia mengambilnya lalu dengan berlari menyerang Rion sambil mengayunkan gagang sapu.
Wush ... wush! Bunyi udara terkena ayunan gagang sapu. Herman yang lebih dekat dengan anak itu langsung menangkapnya.
Plak!
Herman sedikit meringis ketika gagang sapu itu menghantam telapak tangannya. Melihat itu Rion tak terima. Ia pun menyerang bocah itu dengan menerjangnya. Haidar terlambat menangkap tubuh Rion.
Sebuah dorongan kuat mengenai tubuh bocah lelaki itu hingga terjatuh. Melihat putranya diserang sang ayah tak terima. Ia pun mencengkram kerah baju Rion.
Krek!
"Arrrgh!" sebuah cekalan keras terjadi.
Pria itu meringis kesakitan para orang tua mulai melerai semuanya. Bahkan Rion ditenangkan. oleh Haidar, bocah itu mengamuk. Tangan Virgou ingin mematahkan tangan pria itu jika saja tidak mendengar permohonan sang anak.
"Om lepasin tangan Papa, Om. Leo mohon!"
Virgou menghempas kasar tangan pria itu. Bocah itu menangis memeluk ayahnya. Para guru menyuruh semuanya berdamai. Pria itu mengaku khilaf dan kesal. Begitu juga sang anak yang meminta maaf pada Rion secara jantan.
Rion pun memaafkannya. Akhirnya, semua damai. Tangan Herman sedikit bengkak. Gagang sapu itu ternyata terbuat dari besi. Sangat berbahaya sekali jika mengenai anak kecil.
"Saya harap, ibu mengganti gagang itu dan jauhkan dari jangkauan anak-anak. Itu terbuat dari besi. Bahaya!"
"Ba-baik, Pak. Maafkan keteledoran kami," ujarnya meminta maaf.
Rion meniup-niup tangan Herman yang memerah. Menciuminya. Sambil menanyakan apakah masih sakit atau tidak.
"Sudah tidak apa-apa, sayang. Ayah tidak apa-apa. Terima kasih yaa," ujar Herman menenangkan Rion.
Virgou menghadiahi semua anak perempuan tas lucu dengan bentuk buah-buahan. Ia menyuruh Gomesh membelinya. Semua senang dan mengucap terima kasih pada Virgou dengan mencium pipi pria itu.
Semua pulang dengan Raut bahagia. Rion dinaikkan dipundak Haidar. Ia tertawa lepas .
"Daddy, Ayah ... Ion jadi tinggi!" pekiknya kegirangan.
Mereka pulang berjalan kaki. Semua tertawa melihat tingkahnya. Bahkan Rion bernyanyi, tentu saja ala dia.
"Naik, naik ke pundak Papa tinggi-tinggi sekali ...
Naik-naik ke pundak Papa tinggi-tinggi sekali.
kili kanan ku lihat saja Ayah juga Daddy beuljalan.
kili kanan kulihat saja kita jalan-jalan!"
Lagu "Naik puncak gunung" pun berubah total. Virgou dan Herman juga Haidar pun ikut menyanyikan lagu tersebut dan tentu saja liriknya diganti sesuka mereka.
bersambung.
atur aja deh ... Rion memang rajanya!
next?