TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
GALA DINNER 4



Malam makin larut, pesta belum usai. Tapi, baik Terra, Kanya dan Karina sudah tidak ada lagi di pesta itu..


Kanya memilih pulang terlebih dahulu bersama Karina. Mereka terlihat lelah. Hanya Bram dan Haidar yang masih berada di pesta.


Terra memilih pulang, setelah ia menjemput ketiga anaknya di kamar. Ia segera cek out dan keluar pintu belakang hotel. Dibantu oleh para bodyguard yang diperintahkan oleh Bram.


Walau masih harus melewati para wartawan yang ternyata sebagian tahu jika Terra dan anak-anak melewati pintu itu. Sebisa mungkin Terra menyembunyikan wajah ketiga anaknya dari bidikan kamera.


Rommy memastikan pada Terra ketika awal kedatangan mereka, foto anak-anak tidak akan di jadikan konsumsi publik dan tercetak besok di media. Bram juga ikut membantu menekan media mana pun yang memiliki foto ketiga anak Terra.


Terra pulang dengan selamat. Ia dikawal oleh tiga mobil dan dua motor untuk mengantarnya hingga sampai rumah, memastikan tidak ada gangguan dalam perjalanan pulang.


Terra pulang dengan selamat. Sebuah napas lega ia keluarkan ketika pintu terbuka.


Terra menggendong Darren, sedang Lidya digendong oleh bik Ani asisten rumah tangga baru, saudaranya Bik Romlah. Sedang Rion tentu dalam gendongan bik Romlah.


Setelah menaruh anak-anak di tempat tidur. Terra menyuruh bik Romlah untuk beristirahat. Gadis itu melempar badannya ke sofa di kamar. Menaikan kaki ke atas meja meluruskan betis yang sedari tadi pegal.


"Besok-besok, aku nggak mau pergi ke pesta kek gitu lagi!' sumpahnya dengan suara pelan.


Sedang di tempat pesta, Bram Pratama di datangi seorang pria setengah baya. Bram sangat mengenali siapa pria itu.


"Selamat malam Tuan Pratama!'


"Selamat malam Tuan Triatmodjo!'


Kedua pria beda usia itu saling berjabat tangan dan tersenyum. Kedua mata saling menatap tajam. Mengeluarkan aura intimidasi masing-masing.


Bram memenangkan tatapan itu. Pria bernama Hardi Triatmodjo itu hanya bisa menghela napas dan memalingkan pandangannya. Ia mengaku kalah.


"Apa kabarmu, Bram?' tanyanya dengan suara serak.


"Alhamdulillah, baik. Bagaimana kabar Bapak dan keluarga?" tanya Bram basa-basi.


"Alhamdulillah, kami baik-baik juga. Terima kasih," jawab Hardi tenang.


"Oh ya, bisa tahu, bagaimana kau bisa akrab dengan putri dari mendiang Ben Hudoyo?' tanya Hardi.


"Terra kekasih putraku," jawaban lugas dan tegas keluar dari mulut Bram.


Hardi sedikit terkejut, kemudian tersenyum miring.


"Maksudnya?" tanya Bram dengan nada tidak suka.


"Tentu kau tahu maksudku, Bram," ujar pria berusia enam puluh tahun itu.


"Tidak, aku tidak tahu!" jawab Bram sedikit tersinggung.


"Ck ... jangan berlaga polos, siapa yang tidak tahu Ben Hudoyo dan Aura Sabriana Triatmodjo!'


"Aku kenal almarhum Ben!' sentak Bram.


"Jangan membuatku mengeluarkan kata-kata kasar, Tuan Hardi Triatmodjo!" ancam Bram, "saat ini aku masih menghormati mu."


Hardi menghela napas. Ia menyadari jika baru saja membuat kesalahan.


Hardi Triatmodjo memang pebisnis handal. Bahkan perusahaannya merupakan nomor dua terbesar setelah perusahaan milik Bram..


"Jangan mengakui barang yang sudah kau buang, Tuan!' ujar Bram mengingatkan.


"Terra belum mengakui mu," sindirnya sarkas.


Hardi terbungkam mendengar sindiran Bram. Kini, pria itu sadar, betapa Bram Pratama sangat dekat dengan Ben Hudoyo.


"Ternyata, cerita aib cepat meluas ya," ujar Hardi kecut.


"Tentu, apa lagi, jika dengan gamblang kau mengumumkan mencoret nama Aura Sabriana Triatmodjo dalam daftar keluarga mu melalui semua siaran televisi!' Bram mengingatkan Hardi.


"Ben ...."


"Cukup Tuan. Ben sudah tidak ada. Jangan bicarakan orang yang sudah mati!'


Hardi menghela napas lagi. Bram pun meninggalkannya sendiri.


"Aku akan memboyong Terra. Kau lihat saja, bagaimana aku akan menyulitkan putramu untuk mendapatkan cucu ku yang berharga itu!"


bersambung


eh ... dih ... kok ngaku2? hellow!