
Kericuhan Kevin sudah selesai. Virgou juga sudah membuat pelajaran pada Richard, agar tak main-main dengan seluruh keluarganya. Pria itu kini sudah bukan anggota klan TheManiac. Ketua mereka Chaves Jesus, menolak mengakui Richard sebagai anggotanya. Richard pun pulang dengan kepala tertunduk. Ia berurusan dengan klan mafia terkuat yang pernah ada.
Waktu pun berlalu. Demian sudah mengurus data dirinya di duta besar begitu juga Lidya. Haidar lah yang mengurusnya. Darren pun merelakan adiknya untuk menikah lebih dulu. Walau masih empat bulan lagi, Demian sudah tak sabar menjadikan Lidya sebagai istri.
"Apa tak terlalu cepat Lidya menikah Te?" tanya Bram.
Pria itu masih menganggap cucunya itu gadis kecil. Terra memutar mata malas.
"Te dulu nikah usia delapan belas, Pa," sahutnya pelan.
"Ck ... dulu kamu beda. Kami nggak mau kehilangan bibit unggul," sahut Bram kesal.
"Sama aja, Brother Dominic juga beranggapan begitu juga," sahut Terra.
"Ck ... kamu ini. Nyahut aja kalo Papa bilangin!" sahut Bram kesal.
"Apa-apaan sih kalian berdua. Berdebat mulu dari tadi!" tegur Kaina.
Kini Terra berada di mansion mertuanya. Ia membawa dua anak kembarnya bersama Sky, Benua dan Samudera. Sang Ibu, Gisel menitikkan mereka karena ayah dan ibu Budiman sedang kurang enak badan sedangkan Gisel mesti ke luar kota dan pulang malam.
"Oma penata balah-palah?" tanya Sky ingin tahu.
Bayi berusia dua tahun lebih tiga bulan itu baru bermain bersama dua kakaknya.
'Tuh, Kakek dan Mamamu berdebat dari tadi," adu Kanya.
"Peuldepat pa'a Oma?' tanyanya ingin tahu.
"Berdebat itu seperti saling sahut menyahut bicara tak mau mengalah," jawab Kanya.
"Oh ... bedithu ... telus yan menan padhi spasa?" tanya Sky.
Baik Terra, Bram dan Kanya gemas bukan main. Pria itu langsung memangku bayi itu dan menyembur perutnya hingga tergelak.
Mendengar suara gelak tawa saudaranya. Benua dan Samudera mendatangi dan ingin disembur perutnya.
Mereka pun akhirnya bercanda. Kanya juga menciumi Arion dan Arraya. Dua bayi itu juga tak berhenti mengoceh tak jelas.
"Baby, pilan Mama," ajar Benua.
"Mammmaa!" sahut keduanya.
"Oh, pinter sekali Baby," sahut Kanya gemas.
Sedang di tempat lain. Siang ini Demian mendatangi Lidya bersama Jac. Putri belum memperlihatkan tanda-tanda kehamilan. Sepasang suami istri itu masih enjoy menikmati pacaran mereka. Jac sudah memboyong istrinya ke rumah baru.
"Tuan!" sapa Gio sambil membungkuk hormat. Begitu juga Felix dan Hendra.
Demian tersenyum pada ketiga pria itu. Kejadian tentang Nai sampai pada telinganya.
"Bagaimana dengan kasus Nai?" tanyanya.
"Sudah selesai dengan damai, Tuan," jawab Gio.
"Kau boleh mengunjungi Aini kalau mau," ujar Demian mengijinkan.
"Terima kasih, Tuan," sahut Gio.
Namun, ia tetap setia menunggui atasannya. Karena masih dalam tugas. Demian dan Jac masuk.
"Assalamualaikum," salam dua pria itu.
"Wa'alaikumussalam!" jawab kedua perempuan beda status pernikahan.
Putri mencium punggung tangan suaminya. Demian ingin sekali Lidya berprilaku sama. Tapi, gadis itu hanya tersenyum, akhirnya pria itu hanya memberengut kesal.
"Sayang, aku lapar," ujar Jac mesra.
"Cis. .. gayamu. Tadi kau barusan makan bersama kolega cantikmu," sindir Demian.
"Tuan juga lupa kalau Tuan juga makan bersama," sahut Jac santai.
"Ck ... dasar kau!" sanggah Demian kesal.
Putri dan Lidya terkekeh mendengarnya.
"Jangan khawatir. Saya bukan seorang istri pencemburu. Bukan karena tidak cinta sama suami. Tapi, lebih baik melepaskan jika sudah tak mau lagi bersama," tekan Putri santai.
Mendengar perkataan wanita itu membuat Demian tak akan lagi bercanda soal perempuan-perempuan yang pastinya akan menggoda dia dan pria bawahannya itu.
'Ah, ini makan. Jangan bucin di depan orang yang hendak menikah. Dosa!" sahut Lidya keki.
"Ngiri bilang, Non!" sahut suami istri itu jahil.
Lidya hanya mengerucutkan bibirnya. Sedang Demian ingin sekali mempercepat waktu agar bisa bersanding dan bersama gadis bertubuh mungil itu.
Mereka pun makan dengan tenang. Sedang di ruang lain. Aini melihat Gio yang masih duduk menunggu. Gadis itu juga sangat paham akan tugas pria itu.
"Mas," panggilnya.
Pria itu menoleh. Aini memberinya tiga kotak makan.
"Makan siang dulu," ujarnya.
"Makasih Dek," ujar Gio tersenyum.
Felix dan Hendra juga mengucap terima kasih. Mereka memang tidak makan siang selama bertugas.
"Sama-sama. Soalnya Bu bidan kan tugas malem, jadi nggak datang hari ini. Beliau ngingetin aku buat bawain makanan buat Mas Gio dan dua temannya," jelas Aini.
Memang. Selama ini Safitri lah yang sering memberi ketiga pria itu makan siang. Walau sempat ditolak awal-awal. Tapi, gadis bongsor itu selalu memiliki trik agar pemberiannya diterima.
"Biar nggak loyo pas jaga Dek Dokter."
Gio merasa Terra pada diri Safitri. Terra sering membuat sarapan dan meminta para pengawal untuk membawa bekal dari rumah jika bertugas. Terkadang wanita itu sendiri yang mengantar bekal-bekal itu sebelumnya almarhum Bik Romlah yang melakukannya.
"Lalu apa Dek Dokter juga akan dinas malam ini?" tanya Gio sambil membuka kotak bekalnya begitu juga Felix dan Hendra.
"Iya, Aini lembur, jadi tak pulang," jawab gadis itu.
Sebenarnya, ia ingin sekali minta tolong pada pria yang tengah memakan makan siangnya itu. Tapi, urung ia lakukan, gadis itu akhirnya masuk ruangannya lagi dan memakan makan siangnya.
"Biar aku ijin pulang sebentar, baru bawa adik-adik kerja," ujarnya bermonolog.
Jac mengecup mesra kening istrinya. Hari ini, Lidya dan Putri ada tugas malam bersama dengan Aini dan Safitri.
"Aku pulang dulu ya, makasih makan siangnya. Assalamualaikum," sahut Demian.
"Wa'alaikumussalam," sahut kedua perempuan itu.
Mereka pun keluar ruangan. Gio dan lainnya telah selesai makan. Mereka berdiri dan membungkuk hormat. Demian membalas dengan senyum dan anggukan, begitu juga Jac.
Sedang di tempat lain. Saf yang melajukan motornya. Melihat dua adik Aini duduk di teras rumahnya. Ia mengernyit. Lalu menghentikan motornya dan turun.
"Kok di luar, Dik? Bibi mana?" tanya Saf sambil melepas helm.
Melihat baju yang dikenakan dua adik Aini masih menggunakan seragam TPA nya, membuat Saf curiga.
"Nggak tau, dari tadi sudah kasih salam. Tapi, nggak dibukain!" jawab Ditya.
"Mas, lapar," sahut Radit lirih.
"Sabar ya, Dek," sahut Ditya mengelus kepala adiknya.
Saf sibuk mencari kunci. Ia menemukan di bawah pot besar bersama dengan sepucuk surat.
"Mba Aini, maaf. Saya langsung pulang. Bapak sudah sakit parah. Jadi nggak bisa nungguin Ditya dan Radit pulang!.
begitu tulisnya. Saf menghela napas panjang. Ia melihat jam, masih pukul 15.30. gadis itu mengira Aini masih di rumah sakit praktek. Ia pun menelepon dokter itu.
"Halo dek. Aku nemuin dua adikmu di luar rumah. Bibik sepertinya tak bisa menunggu dia pulang. Aku bawa mereka ke tempat kerja ya?!" ujarnya langsung menawarkan diri.
".......!"
"Baiklah, nggak usah sungkan. Aku akan bawa dua adikmu, jadi jangan khawatir," ujarnya lalu menutup sambungan telepon setelah mengucap salam.
"Yuk masuk!" ajaknya setelah membuka pintu rumah.
Dengan sigap, gadis itu mengganti baju keduanya dan menyuruh mereka makan. Aini sudah menyiapkan semuanya di meja makan. Ditya dan Radit tinggal memakannya saja.
Setelah itu mereka pun beranjak ke rumah Saf kembali dan mengganti kendaraan dengan mobil.
bersambung.
next?