
Sevriana bingung harus apa. Yang ia lakukan hanya mendekati Haidar saja. Hingga pria itu risih. Dari sekian banyak pebisnis, kenapa hanya Haidar yang dipepet oleh Sev.
Secara skala. Haidar Putra Pratama adalah pebisnis paling kuat dan besar. Perusahaannya mencakup berbagai bidang. Bahkan, pria itu kini mulai merambah ke dunia pertelevisian juga intertaiment.
Makanya, bisa dibayangkan jika berhasil menjadi sosok nyonya muda Pratama. Semua orang akan mengagumi juga menghormatinya. Fasilitas super mewah, uang yang tidak terhitung jumlahnya. Belum lagi, Sev mendengar jika Bram Pratama membangun bandara kecil khusus untuk jet pribadinya.
Gadis mana yang tidak tergiur dengan kekayaan pebisnis nomor satu di negaranya. Bahkan kekayaan keluarga Pratama masuk dalam daftar ke lima di dunia.
Sev bangga akan dirinya yang pernah masuk dalam kehidupan Haidar. Kini, gadis itu berupaya untuk masuk lebih dalam lagi. Ia ingin menjadi bagian keluarga Pratama. Menjadi istri Haidar.
Acara puncak gala dinner di mulai. Pembawa acara memperkenalkan tokoh-tokoh pebisnis terkemuka yang hadir di pesta.
"Baiklah. Sekarang, kami akan perkenalkan sosok CEO yang baru saja mencengangkan publik. Bahkan menggoncang dunia bisnis!"
"Mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah. Terra Arimbi Hudoyo!"
"Terra Arimbi Hudoyo, gadis berusia delapan belas tahun. Ia adalah seorang mahasiswi semester awal. Kemampuan dalam mengungkap korupsi di perusahaannya patut diacungi jempol. Karena keberaniannya serta otaknya yang genius. Saham PT Hudoyo Group melesat secara berkala dan kini mulai berada di angka stabil."
Terra tampil di atas panggung, mengangguk hormat pada semua yang hadir memberikan tepuk tangan.
Semua mata memandangnya penuh kekaguman, walau tak sedikit yang menatapnya iri juga mencibir habis-habisan.
"Nona Hudoyo, bisa ceritakan, bagaimana anda bisa mengambil alih perusahaan mendiang Ben Hudoyo, secara selama ini, almarhum tidak pernah mengekspose siapa yang menjadi ahli warisnya!'
Salah seorang wartawan memberi pertanyaan. Semua kamera melihatnya. Terra hanya tersenyum miring.
"Jelas saya bisa ambil alih. Saya adalah putri kandung dari Ben Hudoyo. Putri dari perkawinan sah yang diakui oleh negara dan agama. Hak waris jadi sepenuhnya milik saya," jawab Terra tenang.
"Tapi, tadi kami lihat anda membawa tiga anak. Apa mereka juga adalah ahli waris?" tanya wartawan lagi.
"Bisa dibilang begitu. Mereka belum cukup umur, untuk didorong mengenal bisnis," jawab Terra lagi.
"Siapa mereka? Apa mereka anak dari mendiang Ben Hudoyo?" tanya wartawan lagi.
"Saya rasa, anda tak perlu tahu siapa mereka. Yang perlu saya tekankan mereka adalah anak-anak saya!' jawab Terra tegas.
"Tapi, Nona apa benar berita di luar sana jika ketiga anak tersebut anak hasil perselingkuhan mendiang Tuan Ben?"
"Saya rasa cukup sekian. Terima kasih!' Terra menghentikan pertanyaan wartawan.
"Nona!"
"Nona ... jawab dulu!"
Semua wartawan riuh. Jepretan kamera membidik wajah yang kini berubah datar dan dingin. Rommy dan Aden mulai menghadang para wartawan untuk menghentikan kejaran wartawan pada atasan mereka.
Kanya dan Karina mengikuti Terra. Mereka menuju ruangan yang telah di sediakan panitia.
Di ruangan itu Terra, mengepalkan tangannya. Ia menahan semua amarahnya ketika mendengar pertanyaan dari wartawan tadi.
"Kak Rommy. Pertanyaan wartawan tadi ...."
"Kakak pastikan hal itu tidak akan menjadi tajuk majalah bisnis besok," janji Rommy.
Terra menghela napas. Salahnya ia membawa ketiga anaknya ke pesta ini. Siapa sangka, ia mendapat pertanyaan yang sangat ia hindari.
Kanya melihat ekspresi gadis kesayangannya. Ia sangat tahu pergulatan batin Terra. Bahkan ketika Terra menitikkan air matanya dan buru-buru dihapus oleh gadis itu. Kanya sangat paham apa yang dirasakan oleh gadis itu.
Kanya memeluknya erat. Tubuh Terra sedikit gemetar.
"Tidak apa-apa sayang. Tidak apa-apa," ujar Kanya menenangkan. "Kamu pasti bisa melewati semuanya."
Terra hanya menghela napas kuat-kuat. Sungguh ia ingin menjerit dan lari dari semuanya. Tapi ia tak bisa. Hatinya sudah terpaku dengan tiga anak yang dititipkan padanya.
Kanya menakup pipi Terra, hingga pandangannya menatap netra yang kini berkaca-kaca. Guratan kesedihan dan tekanan tergambar di mata indah itu.
"Mama tahu, kamu punya hati yang besar untuk melewati semua ini. Tuhan telah memilih kamu, karena kamu istimewa, Nak," ucap Kanya.
Wanita itu mencium kening Terra dengan lembut. Kemudian memeluk erat dan penuh kasih sayang.
Semua yang ada hanya diam. Mereka pun tidak bisa melakukan apa pun jika berada di posisi Terra.
"Hidupnya cukup berat," ujar Aden lirih.
"Bukan lagi. Jika kata Dilan rindu itu berat. Sayangnya, tidak seberat beban yang ditanggung Terra," timpal Rommy.
Haidar mendatangi dua wanita yang berarti dalam hidupnya. Ia juga memeluk mereka berdua.
"Aku sayang kalian," ungkapnya lirih.
Karina menghapus air mata haru. Ia sangat salut dengan perjuangan Terra dalam menghadapi pergolakan dalam dirinya.
'Aku tak tahu, seberapa besar hatimu dan bagaimana ibumu membesarkan mu, aku salut juga iri pada mu, Te!' ujar Karina memuji dalam hati.
bersambung.
ah ... yang berat itu beban bukan rindu.
next?